'Kicauan' Trump Soal Susu Formula Meresahkan Penggiat ASI

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 11/07/2018 16:49 WIB
'Kicauan' Trump Soal Susu Formula Meresahkan Penggiat ASI Ilustrasi. (Pixabay/RitaE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump 'berkicau' soal ASI dan susu formula bayi pada Selasa (10/7). Dalam unggahannya di Twitter, ia menulis, 'Amerika Serikat mendukung ASI tetapi kami tidak ingin wanita justru dipersulit untuk mengakses susu formula. Banyak wanita perlu opsi ini karena gangguan nutrisi dan kemiskinan'.

Dilansir dari Fox, ada kemungkinan kicauan yang tak biasa ini untuk 'meredam' peristiwa yang dipublikasikan New York Times pada Minggu (9/7).

Dalam tulisan itu disebutkan kalau delegasi AS yang hadir dalam pertemuan kesehatan UN di Jenewa, Swiss, pada Mei lalu "tak sepakat" soal aturan mendukung pemberian ASI terhadap bayi.


Delegasi AS disebut melawan riset yang menggaungkan manfaat kesehatan ASI yang lebih baik daripada susu formula.

Banyak negara sudah memperketat peraturan pemasaran susu formula untuk bayi di bawah umur enam bulan, menyusul tingginya angka kematian bayi khususnya di Sahara, Afrika.

Pemasaran susu formula bayi yang begitu agresif membuat ibu-ibu di sana memberikan bayi mereka susu bubuk dengan air yang terkontaminasi.

Produsen susu formula tak tinggal diam dengan beragam regulasi yang berlaku di negara-negara yang jadi pasar mereka.

Tak sedikit produsen yang mengakali penjualan susu formula dengan membedakan label dan kemasan.

Menurut Lucy Sullivan, direktur eksekutif lemabga nonprofit 1.000 Days, susu formula lanjutan memiliki label kemasan yang mirip dengan susu formula bayi.

Pemasaran produk membuat konsumen salah menggunakan produk sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan pada anak.

"Kita tahu ada banyak konsumen yang bingung tentang bagaimana menggunakan ini (susu formula lanjutan). Kebingungan ini jadi bagian dari tujuan perusahaan untuk masuk ke dalam ketatnya peraturan di negara-negara," katanya dikutip dari Vox pada Selasa (10/7).

Sementara itu, AS memiliki Codex Alimentarius, sebuah lembaga yang bertanggungjawab untuk menetapkan standar meregulasi produk.

Codex hingga kini belum menetapkan standar apakah susu formula lanjutan bisa diperlakukan sebagai pengganti ASI.

Keputusan akhir Codex akan dirilis saat pertemuan pada November mendatang.

Turut hadir dalam pertemuan Codex sebelumnya, Elizabeth Zehner, project director Helen Keller International menyebut, warga Amerika yang ingin susu formula disebut sebagai makanan bukan pengganti ASI.

Resolusi ini menjadi penting sebab Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan ibu untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayi selama enam bulan sejak lahir.

Pada bulan-bulan berikutnya, bayi diperbolehkan ikut mengonsumsi makanan tambahan, sehingga total bayi akan mengonsumsi ASI hingga usia dua tahun.

Begitu banyak riset telah mengaitkan ASI dengan kesehatan dan tumbuh kembang bayi.

ASI terbukti membantu meningkatkan daya tahan sampai meningkatkan intelegensi sang bayi.

Jika AS menetapkan standar yang berlawanan dengan resolusi kesehatan global, maka dikhawatirkan bakal muncul persoalan baru.

"Dalam pandangan saya, ini adalah bencana kesehatan publik yang menunggu untuk terjadi," imbuh Lucy.

(ard)