Angka Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia Masih Rendah

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 07:49 WIB
Angka Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia Masih Rendah Ilustrasi. CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak perlu diragukan lagi, air susu ibu (ASI) adalah asupan terbaik untuk bayi. Sayangnya, sampai saat ini, masih sedikit ibu yang memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun dengan makanan pendamping ASI (MPASI) pada anak.

Menyusui adalah dasar kehidupan. Setidaknya itu yang disampaikan Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, pada puncak peringatan Pekan ASI Sedunia di Indonesia yang telah digelar sejak pekan pertama bulan Agustus 2018. Pada peringatan kali ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengambil tema "Breastfeeding: Foundation of Life" sebagai bentuk keprihatinan atas rendahnya angka pemberian ASI eksklusif pada bayi.

"Kita sadar ASI itu luar biasa hebat, tapi tetap saja masih banyak yang belum memberikan hak ASI pada anak," ujar Nila di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (20/8).


Data Kementerian Kesehatan mencatat, angka inisiasi menyusui dini (IMD) di Indonesia meningkat dari 51,8 persen pada 2016 menjadi 57,8 persen pada 2017. Kendati meningkat, angka itu disebut masih jauh dari target sebesar 90 persen.


Kenaikan yang sama juga terjadi pada angka pemberian ASI eksklusif, dari 29,5 persen pada 2016 menjadi 35,7 persen pada 2017. Angka ini juga terbilang sangat kecil jika mengingat pentingnya peran ASI bagi kehidupan anak.

"Harusnya minimal angka itu sudah tembus 50 persen," kata Nila.

Rendahnya angka ibu menyusui ini dilatarbelakangi oleh minimnya kesadaran seorang ibu atas pentingnya ASI bagi pertumbuhan anak. Perkaranya adalah pendidikan yang kurang memadai. Rendahnya pengetahuan itu gagal menjadi penyaring berbagai informasi yang diterima seorang ibu.

Sebagai contoh, seorang ibu bakal dengan mudah mendapatkan informasi yang menyebutkan bahwa susu formula bisa digunakan sebagai pengganti ASI. Ketika informasi itu tak disaring dengan baik, maka tak heran jika kini banyak ibu yang memilih memberikan susu formula untuk si buah hati.


Padahal, ASI memiliki banyak manfaat bagi ibu dan anak. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Kirana Pritasari menyebut, seorang anak yang mendapatkan ASI eksklusif dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan membangun ketahanan tubuh dari penyakit yang prima.

"Pemberian ASI dengan mendekapkan anak pada tubuh juga mempererat emosional ibu dan anak yang dapat membuat anak memiliki ketahanan pribadi dan mampu hidup mandiri di masa depan," tutur Kirana dalam kesempatan yang sama.

Kajian dan fakta global The Lancet Breastfeeding Series menyebutkan bahwa ASI eksklusif juga mampu menurunkan angka kematian akibat infeksi hingga 88 persen pada bayi kurang dari tiga bulan. Selain itu, ASI eksklusif juga berkontribusi menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis pada anak.

Rendahnya implementasi regulasi pemberian ASI

Rendahnya pemberian ASI ini juga didorong oleh implementasi dari regulasi yang kurang memadai. Aturan mengenai pemberian ASI eksklusif telah tertuang dengan jelas dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Kedua beleid itu menyebutkan wajibnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan yang didukung oleh pengadaan fasilitas laktasi di berbagai tempat.

"Tidak ada law enforcement-nya. Hukumnya tidak ada. Jadi kelihatannya agak teracuhkan," kata Kirana.


Saat ini, Kemenkes sendiri tengah berupaya mendorong ibu memberikan ASI eksklusif pada anak dengan program 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. Namun, lagi-lagi, program itu terkendala regulasi yang belum dibuat hingga di tataran kabupaten/kota.

Sampai saat ini, baru ada 15 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang memiliki peraturan terkait ASI. Angka itu jelas masih jauh dari ideal.

"Diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif. Mulai dari lintas kementerian hingga pemerintah daerah," ujar Kirana. (asr/chs)


BACA JUGA