Australia Berisiko Mengalami Overtourism

fey, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 18:31 WIB
Australia Berisiko Mengalami <i>Overtourism</i> Sydney opera house, salah satu tujuan wisata andalan Australia. (Foto: CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pariwisata layaknya dua mata pisau, satu sisi memberikan manfaat sedangkan sisi lainnya membawa bencana. Salah satu bencana yang dihadirkan oleh pariwisata adalah aktivitas pariwisata yang berlebihan atau overtourism.

Overtourism dapat mengancam suatu negara ketika lokasi tujuan pariwisata di sebuah daerah tidak memiliki faktor penunjang yang memadai. Khususnya dalam hal infrastruktur, maupun sumber daya manusia.

Hal tersebut akan menciptakan pengalaman wisata yang buruk untuk wisatawan maupun penduduk setempat, akibatnya adalah terciptanya rasa tidak nyaman. 


Jika hal ini dibiarkan tanpa ada upaya untuk mengimbanginya, overtourism dapat menyebabkan dampak buruk yang serius bagi sebuah negara.

Beberapa negara seperti Spanyol dan Kroasia sempat dilanda overtourism, ketika angka turis mencapai dua hingga tiga kali lebih besar dari angka penduduk asli di negara tersebut pada tahun 2016.

Namun overtourism tidak hanya bersinggungan pada jumlah wisatawan semata, beragam faktor seperti kemacetan, kehidupan alam liar yang terancam, hingga permasalahan lingkungan yang bersinggungan dengan kegiatan wisatawan adalah overtourism.

Saat ini Australia mulai memperlihatkan gejala overtourism, sehingga tak heran jika ada beberapa pihak yang khawatir akan hal tersebut.

Memang untuk saat ini angka wisatawan yang mengunjungi Australia tidak setinggi angka pengunjung di Venesia maupun Barcelona beberapa tahun lalu, namun kebijakan pariwisata yang buruk adalah salah satu ancaman akan bahaya overtourism untuk Austalia.

Hal ini bisa dilihat dari strategi pariwisata pemrintah Australia yang menargetkan pendapatan sebesar 150 miliar dollar Australia (sekitar Rp1.500 triliun) di tahun 2020.

Angka tersebut mengindikasikan jargon pariwisata berkelanjutan yang digaungkan pada medio 1990-an, tidak lagi menjadi prioritas.

Australia Berisiko Mengalami <i>Overtourism</i>Wisatawan di Australia. (Foto: CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Sebagai contoh, pada 2011 lalu, Kangaroo Island Pro-Surf dan Music Festival membawa 5.000 pengunjung ke Vivonne Bay, sebuah dusun kecil dengan populasi penduduk sebanyak 400 orang.

Mengutip The Inertia, sebuah penelitian mengungkapkan hal ini terjadi akibat dorongan dari badan pariwisata setempat yang ingin meningkatkan pariwisata di pulau tersebut. Akibatnya festival ini tak lagi diselenggarakan pada tahun-tahun berikutnya.

Namun hal ini tidak menghentikan Dewan Pengembangan Ekonomi negara yang justru merekomendasikan penggandaan jumlah wisatawan di pulau itu pada tahun 2020.

Tak hanya kasus di Vivonne Bay, ribuan orang di belahan Australia lainnya sempat melakukan protes terhadap atraksi wisata mobil kabel di Gunung Wellington, Tasmania.

Warga meolak kehadiran mobil kabel yang diprediksi akan menarik lebih dari satu juta wisatawan setiap tahunnya, hal ini dinilai sebagai 'benih-benih' overtourism baru di Australia.

Ketika ditanyakan mengenai upaya menanggulangi overtourism, banyak ahli yang menyatakan bahwa peraturan pemerintah adalah jawaban yang tepat untuk permasalahan ini.

Barcelona misalnya, pemerintah kota ini mengatasi kelebihan wisatawan dengan memperketat pembatasan Airbnb. Sementara pemerintahan Thailand tidak segan menutup Pantai Maya di Pulau Phi Phi, selama empat bulan setiap tahunnya.

Strategi pariwisata yang kini dimiliki Australia lebih fokus pada peningkatan jumlah pengunjung, tanpa mencerminkan nilai-nilai dan keinginan masyarakat lokal dalam regulasinya. Faktor kenyamanan wisatawan pun juga cenderung diabaikan.

(agr/ard)