Penyebab Kebakaran di Gunung Sunda Masih Diselidiki

ANTARA, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 11:06 WIB
Penyebab Kebakaran di Gunung Sunda Masih Diselidiki Ilustrasi kebakaran di Gunung. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran di kawasan Gunung Sunda, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat masih dalam penyelidikan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, menuturkan akan segera melaporkan hasil penelusuran tim BPBD secepatnya.

Kebakaran yang melanda objek wisata andalan Kabupaten Sukabumi ini sempat memancing reaksi para warganet. Banyak yang berasumsi jika penyebab kebakaran itu berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan.


Untuk itu Eka mengimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan musibah kebakaran, karena saat musim kemarau rumput menjadi kering sehingga berpotensi terjadinya kebakaran jika ada percikan api.

"Kami mengimbau kepada para wisatawan agar tidak membuang sampah apalagi puntung rokok sembarangan," ujar Eka seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (21/8).

Objek wisata alam Gunung Sunda memang belum setenar Gunung Gede, yang sama-sama berada di Kabupaten Sukabumi.

Namun waktu yang diperlukan untuk mencapai Gunung Sunda dari pusat kota Sukabumi tergolong manusiawi, hanya butuh sekitar 30 menit perjalanan jika tidak macet.

Biasanya para pengunjung Gunung Sunda datang untuk melihat matahari terbit, matahari terbenam, hingga panorama kota saat terang dan gelap.

Tidak sedikit pengununjung yang datang, khususnya kaum milenial, pemandangan ini kemudian diunggah ke berbagai laman sosial media dan mendapat perhatian dari warganet.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 600 meter di atas pemukaan laut dan luas sekitar 130 hektare. Salah satu keunggulan tempat ini adalah jejeran batu kuarsa dan kawasan hutan bambu yang rimbun. Warga setempat bahkan menjaga hutan bambu ini karena menjadi penyerap air dan penopang tanah dari bencana longsor. (agr)