Catatan Perjalanan

Hotel Indonesia, Saksi Bisu Dua Asian Games di Tanah Air

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Minggu, 26/08/2018 12:08 WIB
Indonesia sudah dua kali menjadi tuan rumah Asian Games. Hotel Indonesia menjadi saksi bisunya. Suasana di depan Hotel Indonesia Kempinski (pojok kanan gambar) di siang hari. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terletak di pusat Jakarta, Hotel Indonesia Kempinski seolah memiliki halaman dengan kolam dan patung Selamat Datang karya perupa Edhi Sunarso dan Henk Ngantung.

Ramainya Bundaran HI sangat kontras dengan suasana tenang saat memasuki hotel. Aroma bunga sedap malam menyambut ramah.

Sang humas hotel, Ananda Wondo, menuturkan dalam rangka menyambut Asian Games XVIII, hotel bekerjasama dengan perancang Edward Hutabarat untuk memberikan sentuhan kekhasan budaya Palembang, Sumatera Selatan.


"Edward kami minta untuk ke Palembang, riset lalu dia buat rangkaian bunga di sini," kata Ananda saat ditemui di Hotel Indonesia Kempinski pada pekan kemarin.

Hasilnya, rangkaian dua jenis bunga yakni sedap malam dan mawar plus daun pandan wangi menghiasi beberapa sudut hotel.

Bunga-bunga ini ditata dalam sebuah bokor tembaga. Selain itu juga terdapat untaian bunga melati di meja-meja sekitar lobby.

Meski berada di Jakarta, harapannya tamu pun bisa merasakan spirit dua kota tempat terselenggaranya Asian Games.

Tak hanya itu, bentangan wastra di pilar-pilar besar hotel pun ingin menunjukkan kekayaan budaya tanah Andalas.

Wastra-wastra dengan warna dasar ungu ini disulam dengan benang emas membentuk motif bunga-bunga.

Asian Games dan Hotel Indonesia Kempinski seakan dua hal yang tak terpisahkan.

Ananda bercerita, kala Asian Games IV pada 1962 Presiden Soekarno meresmikan Hotel Indonesia. Hotel ini merupakan satu dari empat mega proyek pemerintah selain Monas, jembatan Semanggi dan Gelora Bung Karno (GBK).

Kenangan masa keemasan Indonesia terukir pada sudut-sudut bangunan hotel.

Bangunan ini jadi saksi bisu bagaimana Indonesia menjamu tamu-tamu dari berbagai negara peserta Asian Games.

Ananda berkata Soekarno kala itu ingin hotel menggambarkan 'wajah' Indonesia.

[Gambas:Instagram]

'Wajah' yang ia maksud diwujudkan oleh arsitek berkebangsaan Amerika Serikat, Abel Sorensen dan sang istri Wendy.

Meski kini pengelolaan hotel berada di tangan grup Kempinski, nuansa Nusantara masih dipertahankan serta ada nuansa gaya Eropa klasik.

"Karena kawin dengan Kempinski jadi di sini sisi luxury dituangkan dalam misalnya lantai kamar dilapisi karpet, desain interior kamar. di atas bed cover ada hiasan, untuk kamar tipe Presidential Suite ada grand piano," jelas Ananda.

Masih banyak bagian bangunan yang masih dipertahankan hingga kini.

Salah satu ruangan bernama Bali Room memiliki nuansa Pulau Dewata dengan hiasan berupa ukiran kayu yang menggambarkan suasana Desa Ubud.

Ananda berkata Soekarno menyukai budaya dari wilayah Indonesia Timur, apalagi sang ibu merupakan perempuan asli Bali.

Kemudian di salah satu sudut gedung Ganesha terdapat lukisan karya Lee Man Fung. Lukisan yang cukup besar ini memiliki kisah unik.

"Dia sepertinya punya hutang dengan Soekarno. Lalu Soekarno minta dia bayar hutang dengan lukisan. Nah lukisan Lee ini satu saja harganya bisa US$200-400," ujarnya.

Pada era 1960-an, lift masih jadi barang langka. Namun Hotel Indonesia sudah memilikinya meski berukuran kecil atau maksimal bisa memuat empat orang.

Lift ini dikhususnya untuk tamu-tamu VIP sekelas presiden atau tamu penting negara.

Tamu VIP tidak masuk melalui lobby agar tidak mencuri perhatian banyak orang, lalu ke kamar dengan lift istimewa ini.

Di sisi lain, pengunjung hotel dapat mengenang kejayaan Indonesia masa silam sekaligus mengenang peristiwa penting yang pernah terjadi di hotel.

Beberapa medali dan foto dipajang sebagai bentuk apresiasi terhadap para atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia.

[Gambas:Instagram]

Atlet lawas seperti Alan Budikusuma, Susi Susanti, hingga petenis Lany Kaligis.

Selain itu, pasangan Tontowi Ahmad dan Liliana Natsir turut meminjamkan kaus dan medali mereka.

Foto-foto hitam putih pun menghiasi koridor Nirwana Lounge.

Foto-foto ini menunjukkan proses pembangunan hotel hingga acara penting termasuk pernikahan tiga putri Jendral Sarwo Edy Wibowo, mertua mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Promosi selama Asian Games 2018

Hotel Indonesia Kempinski memberikan penawaran menarik selama pesta olahraga Asian Games.

Ananda menjelaskan Nirwana Lounge akan menyajikan minuman bir pletok atau minuman khas Betawi.

Meski dinamai bir, minuman ini tidak mengandung alkohol sama sekali. Justru bir pletok menggunakan bahan dasar jahe yang menghangatkan.

Di samping itu, Signature Restaurant akan menyediakan buffet dengan salah satu station berupa masakan khas Palembang.

Menu-menu seperti Pindang dan Pempek akan bisa dinikmati hingga penghujung ajang Asian Games.

[Gambas:Instagram]

"Chef-chef kami kirim ke sana untuk belajar, lalu mereka akan praktikkan di sini. Bahan pun juga dari sana agar rasanya otentik. Jadi atlet yang menginap di sini bisa merasakan suasana Palembang lewar kulinernya," katanya.

Menginap di sini pun bakal jadi pengalaman yang unik. Pasalnya, tamu akan merasakan menginap di hotel bersejarah dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1993.

Penetapan sebagai cagar budaya ini membawa konsekuensi bahwa eksterior hotel tidak.boleh berubah sedikitpun.

Ini termasuk soal cat. Ananda menjelaskan untuk pengecatan ulang, warna cat harus sesuai persetujuan pemerintah daerah.

[Gambas:Instagram]

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah tingkat okupansi hotel ini cukup tinggi di hari kerja atau weekdays yakni 80-90 persen.

Sedangkan pada akhir pekan atau weekend justru 50-60 persen.

Angka yang jauh berbeda ini disebabkan hotel yang terletak di lingkungan perkantoran sehingga tamu hotel adalah ekspatriat atau pekerja.

Selama momen Asian Games, tingkat okupansi mencapai lebih dari 90 persen.

Pilihan kamar standar berupa Deluxe yang dibanderol Rp2,7 juta (nett) selama weekend.

Namun Ananda menyarankan untuk menambah Rp300ribu dan tamu akan memperoleh pemandangan Bundaran HI plus patung Selamat Datang.

Untuk rate Deluxe, kamar akan menghadap mal Grand Indonesia.

"Paling tinggi Presidential Suite, itu Rp150juta per malam. Kamar di lantai 8 dan patung (Selamat Datang) sejajar dengan mata atau eyelevel. Tapi kalau mau pemandangan yang lebih luas, ambil di lantai atasnya dan itu di gedung Ramayana," paparnya.

[Gambas:Instagram]

(ard)