Alasan Menarik Mendaki Gunung Selain Berfoto

agr, CNN Indonesia | Selasa, 28/08/2018 18:07 WIB
Alasan Menarik Mendaki Gunung Selain Berfoto Ilustrasi. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak bisa dipungkiri film Indonesia berjudul '5 cm' membuat salah satu jenis olahraga ekstrem, yaitu mendaki gunung, menjadi sebuah kegiatan yang populer.

Bahkan ribuan orang pun berbondong-bondong menuju Gunung Semeru, hanya untuk menyaksikan panorama Ranu Kumbolo.

Mendaki gunung pada dasarnya adalah kegiatan yang menuntut fisik dan mental yang prima, bahkan tidak hanya itu. Pengetahuan dasar untuk bertahan di alam liar menjadi salah satu syarat wajib dalam mendaki gunung.


Namun hal tersebut seakan tidak berlaku bagi beberapa orang lantaran kemudahan untuk melakukan kegiatan pendakian yang diberikan saat ini.

Salah satu anggota organisasi penjelajahan alam YEPE berbasis di Malang, Jawa Timur, Andy Dwi Astama, menuturkan alasannya jatuh cinta kepada kegiatan pendakian adalah banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam hidup yang ia dapat selama melakukan pendakian.

"Contohnya perencanaan, mengatur logistik, mengatur tim, dan masih banyak lagi," ujar Andy saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui aplikasi pesan singkat pada Selasa (28/8).

"Kalau di gunung, risiko terlalu besar jika banyak kesalahan dalam perencanaan juga keterampilan dalam kehidupan alam terbuka."

Menurutnya mendaki gunung adalah olah raga minat khusus dengan banyak embel-embel yang tidak bisa dilakukan secara instan. Itu sebabnya organisasi pecinta alam seperti WANADRI, Mapala UI, dan YEPE memiliki materi pendidikan dan latian untuk para calon pegiat alam liar.

Tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang yang menekuni olahraga ini melihat peluang bahwa orang orang awam pun dapat menikmati kegiatan pendakian, tentunya dengan pengawasan penuh dari beberapa orang yang lebih terampil.

"Mulai dari satu kelompok, katakanlah 10 orang awam bisa naik gunung dengan pendamping tiga orang yang lebih ahli atau guide. Hal ini kemudian menjadi profesi bagi guide karena ada rupiah yang berputar," ujarnya.

Saat ditanya penyebab kegiatan ini mendulang peminat yang banyak dalam beberapa tahun terakhir, Andy menyebut media sosial memiliki peran besar dalam meningkatkan popularitas pendakian.

Menurutnya setelah mendaki gunung, biasanya hasil dokumentasi akan dipamerkan di media sosial.

Pendapat Andy seakan diamini oleh dua orang pendaki lain, Galih Donikara (Eiger Adventure Service Team) dan Sandra Donna Oktaviana (Komunitas Jelajah Gunung Bandung). Mereka menilai aktualiasi diri menjadi penyebab mendaki gunung sangat diminati.

Dampak positif dan negatif

Galih, yang pernah mengikuti pendidikan dasar WANADRI tahun 1989, menilai banyak hal positif dari maraknya kegiatan pendakian di Indonesia. Ia melihat banyak masyarakat yang bisa sehat secara fisik, mental, intelegensia, dan sikap lewat kegiatan ini.

"Masyarakat pendaki gunung telah sadar bahwa gunung gunung tempat mereka mendaki itu perlu dijaga kebersihannya, keasriannya, bahkan kelestariannya," ujar pria pernah mendaki Puncak Jayawiajaya dan Gunung Everest, saat dihubungi CNNIndonesia.com lewat aplikasi pesan singkat, Selasa (28/8).

Terkait faktor kebersihan, keasrian, dan kelestarian, Sandra Donna Oktaviana menekankan bahwa ada beberapa oknum yang membuat gunung menjadi tidak nyaman.

Pria yang awalnya tidak menyukai kegiatan mendaki ini secara terus terang mengatakan lebih banyak efek negatif dari maraknya aktivitas pendakian, ketimbang dampak positifnya.

"Namun dari sana ada pembelajaran supaya kita lebih menyayangi alam, dan memberikan info ke masyarakat kalo kita harus berdampingan dengan alam," kata Dona saat dihubungi CNNIndonesia.com lewat aplikasi pesan singkat, Selasa (28/8).

Sebagai contoh, Dona melanjutkan, masalah yang paling sepele namun tidak terselesaikan yakni sampah. Menurutnya cukup susah menghilangkan budaya buang sampah sembarangan di Indonesia.

Butuh sosialisasi yang gencar, terutama di media sosial, hingga kesadaran masyarakat terbangun. Ia tidak ingin ada yang merasakan bencana terlebih dahulu, agar kesadaran tentang bahayanya membuang sampah sembarangan khususnya di alam bisa terbangun.

Terkait pendaki yang 'tobat' naik gunung, Dona punya hipotesa tersendiri.

Menurutnya mereka yang 'tobat' naik gunung bisa disebabkan banyak hal, pengalaman buruk saat pendakian pertama menjadi salah satunya. Seperti kehujanan, longsor, hingga terjebak badai.

Namun, ia melanjutkan, ada juga pendaki kawakan yang memutuskan 'pensiun' mendaki gunung karena menikah dengan orang yang hobinya tidak sama hingga masalah sibuk dengan pekerjaannya.

(ard)