HARI PENCEGAHAN BUNUH DIRI

15,8 Persen Keluarga Hidup dengan Penderita Gangguan Mental

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 10/09/2018 18:32 WIB
15,8 Persen Keluarga Hidup dengan Penderita Gangguan Mental Ilustrasi penderita gangguan mental. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi kesehatan mental kini tak lagi bisa dianggap remeh. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan penyakit atau kecacatan lain yang timbul pada tubuh.

Di Indonesia, kondisi kesehatan mental masih menjadi salah satu isu yang dikesampingkan. Padahal, secara jumlah, penderita gangguan mental terus meningkat.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun mencapai 14 juta orang. Angka ini setara dengan 6 persen jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400 ribu.


Tingginya angka penderita gangguan jiwa pun berjalan beriringan dengan sejumlah kasus bunuh diri di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015.


Pemerintah sendiri telah memasukkan gangguan mental yang terobati sebagai salah satu dari 12 indikator pendekatan kesehatan keluarga. Beberapa contoh gangguan kesehatan mental berat di antaranya skizofrenia dan bipolar.

Indikator itu dipantau melalui Aplikasi Keluarga Sehat yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI pada 2015 lalu.

"Sebanyak 15,8 persen keluarga memiliki penderita gangguan jiwa berat yang diobati dan tidak diobati," ujar Konsultan Health Policy Unit, Setjen Kementerian Kesehatan, Trihono, pada Southeast Asia Mental Health Forum 2018 di Jakarta, Kamis (30/8).

Namun, angka itu tak mencakup keseluruhan keluarga di Indonesia. Hingga 7 Juli 2018, baru tercatat sebanyak 13 juta keluarga yang dipantau dan terdata dalam aplikasi. Angka itu hanya mencakup 20,24 persen dari seluruh keluarga di Indonesia.


Hasil data Aplikasi Keluarga Sehat itu mengasumsikan ada satu kasus gangguan mental berat dalam satu keluarga. Hasilnya, terdapat 85.788 orang dengan gangguan mental berat.

Dari jumlah itu, sebanyak 37.013 penderita gangguan mental berat mendapat pengobatan. Sementara 13.204 lainnya justru diasingkan.

Trihono meyakini bahwa jumlah itu masih terbilang kecil lantaran berbagai faktor. Mulai dari stigma 'gila' dan tak bisa diobati, kekurangan tenaga medis, hingga keterbatasan obat yang tersedia. (asr/chs)