Hari Pencegahan Bunuh Diri

Ahli:Ada Niat Bunuh Diri Berarti Punya Masalah Kesehatan Jiwa

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 10/09/2018 12:47 WIB
Ahli:Ada Niat Bunuh Diri Berarti Punya Masalah Kesehatan Jiwa ilustrasi bunuh diri (Thinkstock/tzahiV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bunuh diri bukanlah jalan pintas mengakhiri derita hidup. Orang yang berniat bunuh diri atau sudah melakukannya memiliki persoalan penting yang harus diselesaikan yakni gangguan kesehatan mental.

Sehingga, solusi yang tepat bukanlah melanjutkan bunuh diri, melainkan mencari pertolongan memperbaiki kesehatan mental.

Spesialis kedokteran jiwa Eka Viora menjelaskan orang yang punya niatan bunuh diri, sudah berada pada kondisi yang akut dan memiliki tindakan yang agresif untuk mengakhiri hidup.



"Orang sehat enggak bakal bunuh diri. Kalau sudah berpikiran negatif, hidup enggak penting lagi, putus asa, itu gejala depresi berat. Jadi, enggak ada orang bunuh diri itu yang sehat, pasti orang sakit kalo dari segi kesehatan mental," kata Eka dalam South East Asia Mental Health Forum 2018 di Jakarta, Kamis (30/8).

Eka yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia itu menyebut keinginan untuk bunuh diri tidak berkaitan dengan pekerjaan dan agama seseorang. Menurutnya, setiap orang rentan terhadap bunuh diri dan berkewajiban saling mengingatkan agar menjauhi pikiran tersebut.

"Pekerjaan apa saja. Semua kita rentan tergantung daya tahan untuk menghadapi masalah tersebut. Jangan juga dibilang karena kurang beriman, tambah ingin bunuh diri dia. Dia enggak kuat menghadapi kehidupan, makanya kita harus perkuat dia," tutur Eka.

Berdasarkan data WHO pada 2017, bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi nomor dua di dunia pada kalangan remaja dan dewasa usia 15-29 tahun. Total, tercatat lebih dari 800 ribu kematian pertahun atau satu kematian setiap 40 detik.

Di Indonesia, kejadian bunuh diri mencapai 5.000 kematian pada 2010 dan menningkat dua kali lipat pada dua tahun terakhir.


Agar terhindar dari bunuh diri, Eka menyarankan setiap orang harus mencari pertolongan memperbaiki kesehatan mental dengan menghubungi para ahli seperti dokter atau psikiater.

Di sisi lain, Eka pun tak menampik jumlah psikiater dan puskesmas yang mampu menangani masalah kejiwaan di Indonesia masih terbatas. Saat ini, distribusi psikiater di 66 persen masih menumpuk di Pulau Jawa dan 22 persen diantaranya di Jakarta. Hanya 34 persen psikiater yang ada di luar Jawa.

"Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis" (chs)