Seks pada Remaja: Tabu Dibicarakan, Tapi Tak Tabu Dilakukan

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 19:33 WIB
Seks pada Remaja: Tabu Dibicarakan, Tapi Tak Tabu Dilakukan Ilustrasi. (Istockphoto/jacoblund)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seksualitas pada dunia remaja Indonesia hidup pada dua sisi. Pembicaraan soal seksualitas pada remaja masih dianggap tabu. Mereka kerap menghindari atau menutup-nutupi obrolan-obrolan seputar seks. Namun, di sisi lain, aktivitas seks tetap lumrah hadir menemani sendi-sendi kehidupan remaja dan dewasa muda.

Psikolog klinis, Inez Kristanti menilai, fenomena itu berdampak pada perilaku seks remaja dan dewasa muda di Indonesia. Seks cenderung menjadi tidak aman dan tidak bertanggungjawab.

Penelitian yang sempat dilakukannya pada 2017 lalu menyebutkan 30 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian itu dilakukan terhadap 2.000 perempuan berusia remaja dan dewasa muda lajang di Indonesia.



"Di Indonesia, seksualitas tidak tabu untuk dilakukan, tetapi tabu untuk dibicarakan. Dampaknya apa? Kebanyakan orang melakukan hubungan seksual tanpa pengetahun yang baik dan tidak tahu cara yang aman," papar Inez dalam peluncuran kampanye #AkuDewasa bertepatan dengan Hari Kesehatan Seksual Sedunia di Jakarta, Selasa (4/9).

Sebagai seorang psikolog klinis, Inez banyak menemui remaja dengan pemahaman yang minim mengenai seksual. Hal itu membuat remaja tidak melakukan seks berdasarkan keputusan yang tepat dengan cara yang aman.

"Pertanyaan mereka itu kebanyakan lugu-lugu sebenarnya. Mereka merasa sudah tahu, padahal salah. Beberapa juga terlihat sudah memiliki pengalaman seksual tanpa pengetahuan dan pengamanan yang memadai," ungkap Inez.

Seks yang tak pernah dibicarakan itu, kata Inez, membuat banyak remaja mencari sendiri informasi mengenai hal tersebut. Umumnya, informasi itu didapat dari sumber internet, konten pornografi, dan teman sebaya. Namun, sayangnya sumber informasi itu belum terbukti kredibel dan dapat dipercaya.


"Anak-anak dan remaja ini rasa ingin tahunya tinggi sekali. Mereka bakal tetap mencari tahu soal seks meski ditutup-tutupi dan ditakut-takuti dari internet, pornografi atau teman sebaya. Tapi, kebanyakan informasi itu salah," ucap Inez yang juga merupakan dosen psikologi seksual itu.

Menurut Inez, ketimbang menutupi soal seks, sebaiknya orang dewasa di sekitar remaja memberikan wadah yang aman dan nyaman untuk mendapatkan pendidikan seksual yang komprehensif. Sebuah penelitian menunjukkan, pendidikan seksual yang komprehensif lebih efektif dibandingkan pendidikan seksual yang menakut-nakuti.

Pendidikan seksual yang komprehensif meliputi penjelasan mengenai risiko berhubungan seksual hingga pengenalan alat kontrasepsi. Pendidikan ini mesti diberikan oleh orang yang kredibel, netral, ramah, dan tidak menghakimi.

"Ketika tidak menghakimi, remaja itu bakal senang sekali dan mereka akan terbuka dan menanyakan apa saja soal seks," tutur Inez. (asr/chs)