Mengenal Bubur Suro, Sajian Khas Perayaan 1 Muharam

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Selasa, 11/09/2018 12:03 WIB
Mengenal Bubur Suro, Sajian Khas Perayaan 1 Muharam Ilustrasi perayaan Tahun Baru Islam. (Antara/Makna Zaezar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beragam cara dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Islam. Masyarakat Jawa, misalnya, yang memperingati tanggal 1 Muharam dengan cara tradisional yang khas dan telah dilakukan secara turun temurun.

Di tahun ini, Tahun Baru Islam jatuh pada Selasa (11/9).

Berbagai elemen mewarnai tradisi perayaan Tahun Baru Islam, termasuk salah satunya kuliner. Bubur suro menjadi salah satu elemen kuliner yang sarat dengan perayaan Tahun Baru Islam masyarakat Jawa.
Bubur ini dihadirkan untuk memperingati hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro yang bertepatan dengan 1 Muharam. Kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung kala itu mengacu pada kalender Hijriah.


Hidangan ini biasanya disajikan pada malam menyambut 1 Muharam dan menjadi santapan warga. Dalam konsep Jawa, lewat dari pukul empat sore dianggap telah memasuki hari esok.

Bubur suro terbuat dari campuran beras, aneka bumbu dan beberapa lauk pendukung. Bahan yang digunakan meliputi ketumbar, jahe, kunyit, hingga serai.

Bubur suro tak 'tampil seorang diri'. Dalam satu hidangan bubur suro, ada beberapa lauk pendukung yang menemani seperti daging ayam dan tujuh macam kacang yang telah digoreng atau direbus terlebih dahulu. Tak cuma itu, jeruk bali dan buah delima juga menemani sajian bubur suro.

Bubur suro bukanlah sesajen atau sesuatu yang mengandung unsur mistis. Bubur suro melambangkan makna syukur terhadap tahun yang telah lewat, introspeksi diri atas segala kesalahan, dan harapan untuk masa depan.
Ustad Yusuf Mansur menilai bubur suro memiliki hukum mubah atau boleh jika dilakukan sesuai syariat Islam.

"Bubur di hari Asyura adalah tradisi. Dan kebanyakan tradisi hukumnya adalah mubah. Seperti bubur ini biasanya mengundang orang-orang, lalu berdoa dan makan bersama," kata Yusuf kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/9).

Memberi makan orang lain, kata Yusuf, merupakan salah satu bentuk ibadah yang bernilai pahala dalam Islam. Sementara tradisi, lanjutnya, terbentuk atas inisiatif bersama masyarakat.

"Oleh karenanya Islam tidak menolak semua tradisi, tetapi memilih, lalu mendukung yang baik dan menghapus yang kurang baik," ucap Yusuf. (asr/chs)