Mengenal Cyclopia, Kondisi yang Dialami Bayi Bermata Satu

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 14/09/2018 16:08 WIB
Mengenal Cyclopia, Kondisi yang Dialami Bayi Bermata Satu ilustrasi bayi (morgueFile/idahoeditor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bayi perempuan bermata satu yang lahir di Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis (13/9).

Nahas, bayi perempuan ini meninggal dunia setelah tujuh jam berjuang hidup. Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab bayi tersebut mengalami kondisi kesehatan tersebut.

Mengutip Antara, dokter beranggapan hal ini bisa terjadi karena virus rubella, obat-obatan, atau merkuri.



"Jika dikaitkan dengan pekerjaan ayah sang bayi sebagai penambang, bisa jadi. Kita masih kesulitan mendapat informasi karena keluarganya masih tertutup," kata Syarifuddin.

Kondisi bayi yang lahir dengan satu mata ini dikenal sebagai cyclopia. Kasus kesehatan bayi bermata satu atau cyclopia ini merupakan salah satu bentuk cacat yang paling langka di dunia.

Cyclopia dikenal juga sebagai alobar holoprosencephaly. Kondisi kesehatan ini biasanya terjadi pada 1 dari 100 ribu bayi baru lahir.

Cyclopia sendiri disebabkan oleh paparan radiasi dalam rahim yang menyebabkan pembentukan soket mata bayi tak terbentuk dengan benar di dalam rahim ibu. Bayi pun lahir dengan satu mata dan tanpa hidung.

Mengutip Healthline, cyclopia adalah cacat lahir langka yang terjadi ketika bagian otak depan tak membelah dengan sempurna.

Kasus cyclopia juga sering menyebabkan keguguran atau kelahiran mati. Jika lahir hidup pun hanya bertahan hidup dalam hitungan jam. Pasalnya kondisi bayi dengan mata satu atau yang mengalami cyclopia ini tidak sekadar kasus bayi dengan mata satu. Kondisi kesehatan ini biasanya juga diikuti dengan masalah kesehatan lain karena adanya masalah malformasi otak bayi sejak awal kehamilan.

Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti penyebab masalah ini. Namun para peneliti percaya bahwa beberapa faktor risiko yang mungkin jadi penyebabnya adalah diabetes gestasional.

Dulunya, ada spekulasi bahwa paparan kimia atau racun bisa jadi biang kerok. Hanya saja penelitian membuktikan bahwa tak ada korelasi apa pun antara paparan bahan kimia berbahaya dengan peningkatan risiko cyclopia.

Sekitar sepertiga bayi dengan cyclopia bahkan terungkap bahwa penyebabnya adalah kelainan kromosom. Secara khusus, holoprosencephaly terjadi ketika ada tiga salinan kromosom 13. Namun kasus kelianan kromosom lain juga diidentifikasi sebagai kemungkinan penyebab cyclopia.

Cyclopia dianggap juga bisa didiagnosis dengan menggunakan USG saat bayi masih dalam kandungan. Masalah bayi dengan mata satu ini diprodiksi mulai berkembang antara minggu ketiga dan keempat selama kehamilan. (chs)