Catatan Perjalanan

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar

Mohammad Safir Makki & Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Minggu, 16/09/2018 16:57 WIB
Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Pulau Bahuluang di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat mendarat sempurna di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pagi itu. Sisa hujan masih membekas di landasan yang tak pernah sepi dari hilir mudik pesawat. Bergegas menuju pengambilan bagasi untuk kemudian berpindah pesawat lagi menuju Kepulauan Selayar.

Karena waktu libur kerja yang terbatas, saya memilih transportasi udara dari Jakarta menuju Makassar disambung ke Kepulauan Selayar hanya 35 menit. Ini sungguh menghemat waktu.

Sebenarnya, jika ingin lebih santai lagi perjalanan ke Pulau Selayar bisa ditempuh dengan jalur darat dari Makassar kurang lebih delapan jam.


Kepulauan Selayar merupakan salah satu destinasi wisata yang berlokasi di Provinsi Sulawesi Selatan. Ada sekitar 153 destinasi wisata yang tersebar di Kepulauan Selayar dan sekitarnya.

Pantai Bahuluang, Pantai Liang Kareta, Pantai Sunari, Pantai Balojaha, Pantai Baloiya, Perkampungan tua Bitombang merupakan beberapa objek wisata yang biasa dinikmati wisatawan saat berkunjung ke Selayar.

Tak banyak penumpang pesawat jenis ATR 72-600 yang membawa saya ke Bandar Udara Aroeppala siang itu, bahkan kursi di sebelah saya pun kosong.

Transportasi umum di bandara H. Aroeppala, Selayar menjadi kendala bagi pelancong dengan dana pas-pasan seperti saya. Tak ada taksi resmi, angkutan umum apalagi.

Hanya ada satu moda bus Damri, itupun cukup lama menunggunya. Akhirnya saya terpaksa menggunakan jasa "taksi gelap", dengan ongkos Rp70 ribu sampai ke penginapan yang berjarak sembilan kilometer di kota Benteng, ibukota Kepulauan Selayar.

Pohon kelapa mendominasi pemandangan selama perjalanan menuju penginapan. Jalanan yang tak ramai cenderung sepi, sapi ternak warga berkeliaran di bibir jalanan.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Pohon kelapa menyambut di sepanjang perjalanan. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Sayangnya, infrastruktur seperti jalan tak semulus yang dibayangkan. Jaringan telekomunikasi ponsel pun kembang kempis, hanya satu provider yang bisa dibilang berjaya di kepulauan Selayar.

Penginapan ataupun hotel yang tersedia tak begitu banyak, pariwisata di Kepulauan Selayar baru menggeliat beberapa tahun belakangan.

Tak lebih dari 15 hotel yang ada mulai dari kelas wisma hingga resort dan tidak semuanya dapat dipesan melalui jejaring online.

Saya memilih penginapan sekelas wisma di kota Benteng dengan tarif sekitar Rp200 ribu per malam, dengan fasilitas kamar mandi dalam, ac, dan WiFi. Kebersihan dan jaringan WiFi menjadi pertimbangan pertama saya memilih penginapan ini.

Informasi mengenai transportasi umum maupun persewaan kendaraan di internet minim sekali. Alhasil, saya harus berjalan kaki dua kilometer dan bertanya ke warga setempat untuk mencari informasi persewaan motor.

Akhirnya saya mendapatkan sebuah skuter matic untuk dikendari menjelajahi pulau Selayar, dengan harga yang disepakati.

Musim angin timur memberi keberuntungan perjalanan saya di Kepulauan Selayar, karena hampir semua tempat wisata pantai di Selayar berada di posisi barat dan selatan.

Artinya, saat musim angin timur, pantai-pantai tersebut memiliki air laut yang tenang serta bersih dari sampah kiriman.

Kampung tua dan pantai

Perkampungan tua Bitombang terletak kurang lebih 17 kilometer di sebelah timur kota Benteng.

Perkampungan tua dengan beberapa kekhasan yang bisa ditemui ketika berkunjung. Salah satu di antaranya adalah bentuk rumah panggung dengan tiang yang menjulang hingga 15 meter.

Tiang rumah yang kebanyakan berasal dari kayu holas, dipasang menyesuaikan dengan kondisi geografis kampung Bitombang yang berada di daerah ketinggian di mana struktur tanah kebanyakan berbentuk tebing.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Perkampungan tua Bitombang. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Bukan hanya dari segi bentuk, usia rumah yang telah mencapai ratusan tahun, menjadikan perkampungan ini disebut sebagai miniatur Selayar di masa silam.

Jendela di semua sisi rumah, keberadaan serambi, dan atap rumah dengan bahan dasar bambu menjadi ciri khas rumah penduduk di Dusun Bitombang.

Perkampungan ini terlihat sepi, hanya beberapa warga yang membawa air dari bak penampungan umum. Barangkali karena saya datang ke sini siang hari.

Sekadar informasi, sebagian besar warga di sini beraktifitas di kebun sebagai petani kenari dan palawija.

Perkampungan tua Bitombang telah dinobatkan menjadi salah satu tempat wisata di Kepulaun Selayar oleh pemerintah setempat. Warga setempat sudah menyadari bahwa tempat mereka hidup bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Sayangnya saat saya mengunjungi kampung ini, infrastruktur akses jalan menuju Kampung Bitombang bisa dikatakan belum dibenahi. Jalan berlubang belum tersentuh aspal, penerangan jalan masih minim.

Meskipun terbilang aman bagi warga setempat, bagi saya yang orang asing sedikit was-was melewati jalan menuju perkampungan tua Bitombang.

Matahari mulai merunduk, saya bergegas menuju Pantai Sunari yang terletak sekitar 10 kilometer dari Perkampungan tua Bitombang.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Pantai Sunari, salah satu objek wisata di Kepulauan Selayar yang sudah ramai pengunjung. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Pantai Sunari menawarkan lanskap senja sore dengan deburan ombaknya yang lembut di saat musim angin timur.

Menikmati pisang goreng dan air kelapa muda di sebuah kafe yang terhubung dengan sebuah resort dan hembusan angin pantai menjadi awal perkenalan saya dengan pantai-pantai di Selayar.

Pantai Sunari yang terletak di dusun Tile-tile Kecamatan Bontoharu berjarak 15 kilometer jika perjalanan dimulai dari Kota Benteng. Pantai yang mengusung konsep ekowisata ini dapat ditempuh menggunakan mobil maupun motor.

Sepanjang perjalanan melewati jejeran pohon kelapa dan perkampungan dengan rumah panggung yang berjejer di sebelah kanan dan kiri jalan.

Untuk menikmati keindahan pantai ini, setiap wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp10 ribu. Jelas ini terbilang murah. Selain menikmati indahnya pantai, pengunjung ikut membantu pengelolaan kebersihan pantai dari biaya masuk yang dibayarkan.

Dengan laut dan pantai yang terawat, aktifitas berenang dan bermain di pantai akan mengasyikkan. Fasilitas seperti bangku dan meja yang diletakan di beberapa sudut di bawah naungan pohon kelapa membuat betah berlama-lama sambil melihat proses turunnya matahari sore.

Di tempat ini saya hanya mengamati hiruk pikuk pengunjung yang sekedar memotret diri melalui ponsel, anak-anak bermain ayunan yang talinya terlilit di pohon kelapa.

Sebuah kemewahan jiwa yang terus mengendap dan menjadi kenangan.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Sore di Pantai Sunari. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Menjelajahi Pantai Liang Kareta dan Balojaha

Seusai sarapan seadanya yang disediakan pihak penginapan, saya melaju ke arah selatan kepulauan selayar menuju Perkampungan Padang sebagai titik awal menuju Pantai Liang Kareta yang bisa ditempuh dengan perahu sewaan.

Pagi itu, pelabuhan nelayan yang terletak di perkampungan padang masih sepi dari wisatawan yang hendak menyeberang ke Pantai Liang Kareta dan Balojaha. Hanya terlihat aktifitas warga lokal serta nelayan yang bertransaksi ikan.

Pak Samsu, menghampiri dan menawarkan perahu miliknya usai saya memarkirkan motor. Kami menyepakati Rp250 ribu untuk harga sewa kapal menuju Pantai Liang Kareta dan Balojaha.

Untuk menuju pantai Liang Kareta dan Balojaha dibutuhkan persewaan kapal sebagai transportasi.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Kapal sederhana yang disewakan untuk turis berkeliling pulau. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Harga yang ditawarkan oleh pemilik kapal berbeda-beda biasanya tergantung tujuan dan jarak tempuh. Akan terasa murah jika melancong ke pantai tersebut beramai-ramai, biaya bisa dibagi rata.

Pantai Liang Kareta dan Balojaha berada di sebelah selatan pulau gusung tepatnya di desa Bontoborusu, kecamatan Bontoharu, Kepulauan Selayar. Pantai ini ditempuh kurang lebih 30 menit menggunakan kapal yang disewa.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Liang Kareta, laut berwarna biru hingga hijau toska menyegarkan mata ditambah lagi dengan gugusan karang laut yang begitu jelas terlihat di dasar laut. Sinar mentari pun menembus dan menyempurnakan warna warni dasar laut.

Saran saya datanglah ke sini saat pagi hari jika hendak berenang, snorkeling, atau diving. Suasana pantai serasa milik pribadi, pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Tapi jika ingin bersantai sambil melihat-lihat, datanglah sore hari menjelang matahari terbenam.

Aktifitas kemping di bukit karang yang berada persis di pantai Liang Kareta menjadi pilihan terbaik jika ingin mencari ketenangan.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Tenda-tenda yang didirikan turis. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Pantai Liang Kareta jauh dari sampah plastik dan kotoran lainnya, bahkan para pengunjung dilarang membuang sampah, membawa makanan maupun minuman kemasan plastik di pantai ini.

Untuk aktifitas makan minum, disediakan tempat khusus tak jauh dari kapal bersandar. Kantong plastik besar disiapkan sebagai tempat sampah.

Bagi pelancong yang sering berfoto dan mengunggah segera ke sosial media harap bersabar dan menahan diri, karena layanan sinyal internet dari provider tidak terjangkau.

Setelah puas berenang dan matahari mulai tinggi, saya melanjutkan perjalanan ke pantai Balojaha. Jika dibanding pantai Liang Kareta, Pantai Balojaha cenderung sepi tak ada kehidupan.

Pasir putih nan lembut membujur sepanjang 300 meter, dihiasi dengan rimbunan pohon kelapa. Deburan ombak dan suara gesekan daun-daun kelapa melengkapi suara lanskap pantai Balojaha.

Bawalah tempat tidur gantung (hammock) jika ingin bermalas-malasan dengan durasi waktu yang lama sambil mendengarkan suara alam. Tentu saja gratis, tak ada pungutan tanda masuk pantai Balojaha.

Satu hal lagi, tak ada warung yang berjualan saking sepinya pantai ini. Bawalah logistik makanan dan minuman secukupnya.

Menikmati pulau terpencil

Perjalanan tanpa berinteraksi dan menemukan teman baru rasanya kurang afdol. Saya bertemu dengan beberapa teman lokal lintas profesi yang menyenangi fotografi dan traveling di sebuah warung kopi di Kota Benteng malam itu.

Sebuah tawaran yang tak dapat ditolak saat diajak menjelajah Pulau Bahuluang dan Pantai Batu Karapu. Jadilah kami membuat perencanaan mulai dari mengontak pemilik kapal, menyiapkan logistik yang akan dibawa hingga mencatat nama-nama yang akan ikut cost sharing.

Setelah berkumpul di tempat yang telah disepakati, iring-iringan motor kami menuju selatan Kepulauan Aelayar. Melewati pemukiman penduduk dengan khas rumah panggung kayu, barisan pohon kelapa dan jalanan yang naik turun.

Motor yang saya sewa pun tersengal-sengal menanjak, dengan sigap dua teman membantu mendorong ke atas hingga kembali normal. Perjalanan ke Pulau Bahuluang menuju desa Appatanah ditempuh selama satu jam.

Appatanah adalah desa yang berada di kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Untuk menuju Pulau Bahuluang, kami harus menyewa kapal dari desa Appatanah.

Butuh waktu 30 menit menyeberang. Saat itu, ombak laut belum terlalu besar, perjalanan yang kami tempuh berjalan lancar, kendati ada rasa was-was, karena pemilik kapal tidak menyediakan jaket pelampung.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Menuju Pulau Bahuluang. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Saran saya jika hendak wisata air di Kepulauan Selayar, bawalah  jaket pelampung sendiri untuk keamanan, pelembab tabir surya dan topi untuk mereduksi sengatan matahari.

Ada dua tujuan menikmati laut di Pulau Bahuluang. Makam Karang menjadi kunjungan pertama.

Makam Karang sendiri adalah pulau yang terbentuk oleh patahan karang yang mati, terbawa arus sungai sehingga membentuk pulau kecil ditengah lautan.

Kalau dilihat dari jauh, pulau ini sepertinya hanya tumpukan dari pasir putih saja. Dilihat dari dekat, ribuan karang-karang mati bertumpuk menjadi satu, kemudian membukit.

Bentuk pulau Makam Karang ini akan berubah setiap musim, air laut yang bening dan hamparan karang laut dan beragam ikan terlihat jelas.

Beberapa teman mulai menyiapkan peralatan snorkeling kemudian menyatu di air yang bening.

Ada yang sibuk berswafoto, menerbangkan kamera tanpa awak (drone) mencari sudut komposisi yang pas untuk hasil fotonya. Ada pula yang berjemur demi mengeksotiskan kulit. Semua menyatu damai dengan aktifitas yang berbeda.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Pulau Bahuluang. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Matahari mulai menyengat pertanda piknik di pulau makam karang harus berakhir dilanjutkan ke Pantai Bahuluang untuk bersantap siang dan berenang.

Perjalanan dari pulau makam karang menuju Pulau Bahuluang ditempuh 15 menit. Dengan pemandangan jernihnya air laut berwarna biru toska.

Jika anda pernah menonton film 'The Beach' yang dibintangi Leonardo DiCaprio yang mengambil lokasi di pantai Maya Bay, Krabi, Thailand. Seperti inilah keindahan pantai di Pulau Bahuluang.

Sebuah teluk kecil dengan pantai indah berpasir putih yang membentang sepanjang lebih dari 100 meter, dengan tebing-tebing karst seolah menjadi benteng penjaga pantai.

Patutlah jika keindahan pantai Bahuluang layak disandingkan dengan Maya Bay, Krabi. Tak banyak pengunjung yang datang, kendati saat akhir pekan. Suasana yang sepi dan damai, suara deburan ombak menjadi tempat pelarian dari riuhnya manusia dan rutinitas kota.

Setelah kapal ditambatkan sempurna, kami mengambil posisi di bibir pantai untuk menyiapkan makan siang bersama walau hanya nasi bungkus, air mineral dan soda. Mengumpulkan ranting kayu untuk dijadikan penyanggah tenda darurat menghindari sengatan matahari siang itu.

Kebersamaan selalu hangat, berkumpul menikmati alam yang terbingkai sempurna di pantai bahuluang, semacam perayaan tanpa pesta pora.

Usai menyantap makanan alakadarnya, saya dan beberapa teman menceburkan diri ke dalam jernihnya air. Mulai dari berenang, snorkeling hingga mencoba mengamati segerombolan ikan dengan warna warninya.

Menyelami Pesona Kepulauan Selayar Bisa atau tidak bisa berenang, wajib menceburkan diri di Pulau Bahuluang. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Saya tak pandai berenang, alangkah sayangnya jika tak "mencecapi" air di kepulauan Selayar. Kupaksakan diri sekedar berendam di pantai Bahuluang, mengepak-ngepakan kaki dan tangan bak perenang profesional, sesekali tersedak air laut.

Tiga jam lebih kami menikmati pantai pulau Bahuluang, seolah pantai pribadi yang memang sepi tanpa pengunjung lainnya.

Pemilik kapal memberi aba-aba agar kami segera kembali dikarenakan air laut menyurut. Iya, saat saya berada di Kepulaun Selayar, sore hari air laut surut dan akan pasang lagi saat malam hari. Ini merupakan bagian dari siklus angin timur.

Kami pun berkemas, mengumpulkan sisa-sisa makanan dan botol plastik, tanpa meninggalkan satu sampah di pantai ini.

Memang tak ada aturan tertulis di pantai ini tentang menjaga kebersihan. Bahwa siapa lagi yang akan menjaga kebersihan dan kelestarian pantai yang indah itu selain kita sendiri, ya kita sebagai pemburu liburan.

Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.

Sebuah pesan yang layak dipegang teguh jika kita pelancong sejati.