Posisi Strategis, Ekowisata Siap Dikembangkan di Kepri

Kemenpar, CNN Indonesia | Minggu, 16/09/2018 21:21 WIB
Pelbagai pihak mendiskusikan pelbagai cara untuk memperkuat ekowisata di Batam, Kepulauan Riau. Salah satu yang dibahas adalah keseimbangan wisata dan alam. Suasana di pelabuhan di Batam. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Batam, CNN Indonesia -- Kementerian Pariwisata mengutus 'panglima pariwisata' dari Divisi Pengembangan Industri Kelembagaan Rizki Handayani Mustafa ke Batam, Kepulauan Riau untuk acara pembekalan Focus Group Discussion (FGD) soal pengembangan produk ekowisata.

Di Batam, Kiki, sapaan akrab Rizki Handayani, tidak sendirian. Perempuan itu bakal didampingi orang nomor satu di Kepri yakni Gubernur Nurdin Basirun yang menjadi salah satu pembicara utama.

Selain itu, ada juga Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Hilman Nugroho. Satu tempat lainnya, disediakan untuk Michael Schubert, salah satu pendiri @Island Connection International (Telunas Resort).



Soal keistimewaan Kepri, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan provinsi itu merupakan peraup wisman terbesar ketiga di Indonesia hingga mencapai 20 persen. Posisi itu diduduki Kepri setelah Bali (40 persen) dan Jakarta (30 persen).

"Kedua, posisi geografis Kepri sangat strategis. Wilayahnya sangat dekat dengan Singapura," kata Arief, Sabtu (15/9).

Dia menuturkan Kepri pun termasuk dalam program wisata lintas batas karena penyeberangan ke Batam, Bintan, Tanjung Balai Karimun, semakin cepat. Arief menuturkan acara diskusi itu bertujuan untuk menguatkan ekowisata di Kepri.

Deputi Bidang Pengembagan Industri dan Kelembagaan Rizki Handayani Mustafa mengatakan semua pihak diajak untuk memperkuat industri tersebut, dengan mengundang 11 investor pariwisata.

"Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan peluang sustaine-nya sangat besar bila disiapkan iklim ekowisata yang bagus," tuturnya.

Perbaikan Alam

Salah satu hal yang dipaparkan adalah soal Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), kegiatan eksplorasi wisata maupun pungutan lainnya yang tercatat bukan sebagai pajak. Menurut Rizki, sebagian dari dana itu bisa dikembalikan ke alam dalam bentuk pembiayaan untuk perbaikan alam kembali.


Dia juga menambahkan keuntungan riil pun diperoleh warga melalui penjualan suvenir, jasa pemanduan wisata, penginapan lokal, warung makanan dan sebagainya.

"Target ekowisata adalah eco-sustainable antara ekonomi, sosial-budaya, dan alam. Kalau sudah paham arti dari eco-sustainable itu maka akan optimal dan lestari," tegasnya. (asa)