Coca Cola Belajar Pengembangan Minuman Ganja

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 20/09/2018 11:49 WIB
Coca Cola Belajar Pengembangan Minuman Ganja Ilustrasi Coca Cola. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wacana mengenai penggunaan ganja untuk kesehatan terus menarik perhatian. Tak cuma menarik perhatian dunia kesehatan, tapi juga industri.

Teranyar, Coca Cola dikabarkan tengah mempelajari penggunaan beberapa zat kimia pada Cannabis sativa sebagai minuman kesehatan. Hal itu menjadi respons Coca Cola terhadap banyaknya perusahaan besar yang berlomba-lomba menghadirkan cannabis-infused drinks.

"Kami tidak tertarik dengan ganja," ujar Coca Cola dalam sebuah pernyataan, mengutip AFP. Hanya saja, saat ini Coca Cola tengah mengamati pertumbuhan zat non-psikoaktif dalam ganja yang disebut cannabidiol. Zat ini diketahui muncul dalam sejumlah minuman kesehatan di dunia.


Namun, tak seperti tetra hydro cannabinol alias THC yang membuat pengguna ganja mabuk bukan kepayang, cannabidiol justru tak menimbulkan efek beracun pada pengguna. Cannabidiol juga diketahui telah digunakan untuk menangkal epilepsi dan beberapa penyakit lainnya.

Sampai saat ini Coca Cola belum membuat keputusan, apakah perusahaan bakal menggunakan cannabidiol atau tidak. "Belum ada keputusan yang dibuat saat ini," kata Coca Cola.


Pernyataan Coca Cola ini muncul di tengah kabar yang menyebutkan bahwa perusahaan minuman ringan ikonik ini telah melakukan pembicaraan dengan Aurora Cannabis di Kanada. Perbincangan itu konon dilakukan sebagai upaya Coca Cola mengembangkan produknya. Sebagaimana diketahui, Coca Cola telah berjuang untuk meningkatkan penjualan produk dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, Aurora Cannabis mengelak bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Coca Cola soal pengembangan produk minuman.

"Meski perbincangan telah berlangsung, tapi tidak ada persetujuan apa-apa antaran kami," tulis Aurora Cannabis, mengutip Reuters.

Kanada sendiri dikenal sebagai negara yang telah melegalkan ganja. Pada 17 Oktober 2017 lalu, parlemen melegalkan penggunaan ganja sebagai manfaat rekreasi. Banyak pihak menilai langkah tersebut berpotensi membuat Amerika Serikat turut serta melegalkan ganja.

Dilegalkannya ganja di beberapa negara mendorong industri minuman untuk berinovasi menghadirkan produk-produk anyar. Sebelumnya, raksasa bir, Molson Coors, mengumumkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan petani ganja medis di Kanada untuk mengembangkan minuman kesehatan non-alkohol dengan kandungan marijuana pada Agustus lalu.


Penggunaan ganja untuk kesehatan

Bak pedang bermata dua, penggunaan ganja tak ubahnya 'racun' yang bermanfaat. Kendati sejumlah penelitian telah membuktikan manfaat penggunaan ganja medis, namun legalitas hukum dan efek candu masih terus jadi perdebatan.

Di Indonesia, misalnya, Fidelis Ari Sudarwoto, menanam tanaman ganja di kediamannya di Kabupaten Sanggau, Kalimatan Barat, untuk mengobati penyakit syringomyelia yang diderita sang istri. Fidelis mengklaim obat itu berangsur-angsur membuat kondisi sang istri membaik. Namun, akibat tindakannya itu, dia musti mendekam dalam bui selama hampir delapan bulan lamanya.

Wacana penggunaan ganja sebagai obat medis terus bermunculan ke permukaan. Studi teranyar yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine menyebut bahwa sebagian besar warga AS percaya jika ganja mampu memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh.

Menukil Medical News Today, para peneliti menemukan komponen zat aktif yang mampu membantu pengobatan. Komponen itu ialah senyawa kimia yang disebut cannabinoid. Salah satu senyawa aktif cannabinoid yang telah ditemukan manfaatnya adalah cannabidiol.

Sebuah penelitian besar pada 2017 lalu yang dilakukan oleh National Academy of Sciences, Engineering, and Medicine menganalisis lebih dari 10 ribu penelitian ilmiah tentang manfaat medis dan efek buruk ganja. Kajian itu menemukan bahwa ganja atau senyawa yang mengandung cannabinoid efektif dalam menangkal penyakit.

Selain itu, Food and Drug Administration (FDA) juga telah menyetujui penggunaan obat yang mengandung cannabidiol untuk pengobatan dua jenis epilepsi langka pada Juni lalu. Persetujuan itu didasarkan pada sejumlah temuan penelitian dan uji klinis.

Kendati demikian, memprediksi efek kesehatan ganja masih menjadi hal yang rumit. Pasalnya, tanaman ganja memiliki banyak senyawa aktif. Dampak yang dihasilkan akan berbeda-beda, tergantung waktu pemakaian dan dosis penggunaan. (asr/asr)