Memprioritaskan Aksesibilitas demi Pariwisata Bali

ANTARA, CNN Indonesia | Kamis, 27/09/2018 10:23 WIB
Memprioritaskan Aksesibilitas demi Pariwisata Bali Patung Garuda Wisnu Kencana, digadang-gadang menjadi ikon pariwisata bali yang baru. (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu 'ancaman' bagi wisatawan di Bali adalah padatnya lalu lintas di beberapa lokasi. Untuk itu kehadiran jalan bawah tanah atau underpass Simpang Tugu Ngurah Rai, Bali, diharapkan mampu menambah kenyamanan untuk segala pihak, baik masyarakat dan juga wisatawan.

Ketua Asita Bali, Ketut Ardana, mengatakan underpass tersebut akan memberikan efisiensi berlalu lintas.

"Demi kepentingan pariwisata berkelanjutan, aksesibilitas memang harus prioritas utama yang harus diwujudkan," kata Ardana, seperti yang dikutip dari Antara, Rabu (26/9).


Menurutnya kemacetan parah yang kerap terjadi di simpang Tugu Ngurah Rai, kini bisa dikurangi. Sehingga wisatawan yang ingin melakukan perjalanan, tidak lagi menghabiskan sebagian waktunya di tengah jalan.

Selama ini wisatawan kerap mengeluhkan kemacetan yang terjadi, khususnya di kawasan utama yang mempertemukan empat titik sekaligus, Denpasar, Nusa Dua dan sekitarrnya, Bandara Ngurah Rai, dan Tol Bali Mandara.

Bagi wisatawan yang berlibur di Bali selama tiga hari dua malam atau "short stay", ia melanjutkan, tidak memiliki waktu yang banyak untuk menjelajahi seluruh destinasi wisata di Pulau Dewata. Sehingga apabila mereka terjebak kemacetan, maka sisa waktu mereka akan habis di jalan.

"Terowongan ini pasti diapresiasi oleh wisatawan mancanegara, terutama mereka yang sudah sering ke Bali karena ini merupakan terobosan," katanya.

Ardana mengharapkan sejumlah akses jalan lain di Bali juga perlu pembenahan, atau pengaturan lalu lintas yang lebih optimal. Karena masih ada simpul-simpul kemacetan, diantaranya perempatan arah Pelabuhan Benoa, Tohpati, dan beberapa akses lain.

Dulu simpang Tugu Ngurah Rai bisa dikatakan juaranya macet di kawasan Kuta, Bali, yang terjadi hampir sepanjang hari.

Kini dengan dioperasikannya "underpass", predikat tersebut sepertinya tidak lagi disandang karena jalur mampet mulai terurai.

Pengendara dari arah utara atau dari Denpasar menuju Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya kini bisa bebas melaju melalui jalan terowongan atau bawah tanah, begitu juga sebaliknya.

Sedangkan pengendara dari arah Tol Bali Mandara menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, melintasi jalur melingkar di atas jalan bawah tanah itu.

Akses itu dibuka perdana kepada masyarakat setelah Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meresmikan underpass Simpang Tugu Ngurah Rai, Sabtu (22/9) yang merupakan akses utama dan satu-satunya menuju Bandara Ngurah Rai, Kuta, Nusa Dua dan sekitarnya.

Sebagai daerah pariwisata andalan Indonesia, Bali kerap dijadikan sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan berskala besar.

Tak heran jika Bali memerlukan infrastruktur pendukung untuk memperlancar aktivitas pariwisata.

Dampak berlipat Pembangunan "underpass" itu, merupakan satu dari sejumlah proyek prestisius yang dibangun untuk menyambut pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali.

Laut dan udara turut bersolek

Tak hanya pembangunan Underpass, PT Angkasa Pura I juga tengah merampungkan sejumlah proyek di antaranya pengembangan apron di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Apron atau tempat parkir pesawat, dibangun di sebelah timur dan barat bandara yang ditargetkan menambah alokasi 10 pesawat berbadan sedang termasuk berbadan lebar.

Khusus apron barat, korporasi BUMN itu mengurug lahan perairan seluas 8 hektare untuk mengakomodasi kebutuhan pertemuan IMF dan Bank Dunia.

General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi mengatakan secara bersamaan pihaknya juga mengembangkan apron barat seluas 35,75 hektare untuk jangka panjang, mengingat pertumbuhan penumpang dan pesawat dari tahun ke tahun terus meningkat.

Pembangunan apron barat dan timur itu menyebabkan sejumlah fasilitas harus digeser dan dibangun kembali, di antaranya pemindahan dan pembangunan kembali gedung VVIP, Base Ops Pangkalan Udara Ngurah Rai hingga pengelolaan limbah.

Pengelola bandara itu juga memperluas gerai pelaporan atau check-in di terminal internasional, dari 96 unit seluas 2.740 meter persegi menjadi 126 unit dengan luas 4.420 meter persegi.

Kemudian rapid exit taxiway menjadi tiga dari dua lintasan, dan penambahan tempat parkir pesawat menjadi 63, dari 53 unit yang ada saat ini.

Selain itu kapasitas landasan pacu ditingkatkan menjadi 33 penerbangan per jam, dari yang semula 30 penerbangan.

Pengembangan itu tentunya bukan tanpa sebab. Angkasa Pura I memproyeksikan pertumbuhan penumpang di bandara tersebut setiap tahun rata-rata mencapai kisaran 5-10 persen.

Tidak hanya pengembangan bandara, PT Pelindo III Cabang Benoa juga tengah menyelesaikan pembangunan Benoa Tourism Port termasuk terminal khusus pesiar dan kapal pesiar kecil atau yacht, yang ditargetkan rampung akhir September 2018.

Terminal pesiar itu akan memudahkan kapal pesiar membawa lebih banyak turis merapat dengan membawa lebih dari 3.000 orang wisatawan mancanegara. (agr/ard)