Dua Langkah Penting Antisipasi Bencana Alam di Pantai

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 20:47 WIB
Dua Langkah Penting Antisipasi Bencana Alam di Pantai Jembatan yang runtuh akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyelam Dive Center Minangkabau Diver, Mabruri Tanjung, melihat betul dampak gempa dan tsunami yang melanda Mentawai, Sumatera Barat, pada Oktober 2010 silam.

Saat itu ekosistem bawah laut kepulauan surfing itu langsung mengalami perubahan drastis.


"Pasca gempa di Mentawai ada beberapa penelitian bawah air. Hasil penelitian itu menunjukkan terjadi retakan di kedalaman sekitar 10-15 meter, retakannya memanjang sepanjang garis pantai. Sampai sekarang jejak retakannya masih bisa terlihat," kata Mabruri saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (2/10).


"Ada satu lokasi yang terumbu karangnya datar, sekarang tinggal patahan-patahan saja karena dahsyatnya gelombang tsunami. Terumbu karang di sana seperti digilas alat berat. Sedangkan di kawasan Pantai Sikakap, ada teluk yang berisi hutan mangrove dan itu habis semua mangrovenya kena tsunami," lanjutnya.

Mabruri mengatakan kawasan bahari di Indonesia memang sangat indah, namun di balik keindahannya itu ada bahaya yang mengintai, mengingat letak geografis Indonesia yang berada di antara tiga lempeng besar.

Menurutnya ada dua hal penting terkait keselamatan yang patut dipertimbangkan turis saat berwisata di pesisir Indonesia.


Yang pertama, turis diminta menyiapkan barang penunjang keselamatan dalam satu tas, agar bisa langsung membawanya saat terjadi bencana.

Barang-barang yang dimaksud bisa berupa makanan dan minuman kemasan, pakaian bersih, obat pribadi, jaket, salinan keterangan identitas, senter kecil, alas kaki cadangan dan baterai cadangan untuk telepon genggam.

Sejumlah barang itu niscaya bisa digunakan untuk pertolongan pertama sebelum tim evakuasi datang.

Yang kedua, turis bisa bertanya kepada operator wisata atau warga lokal mengenai jalur evakuasi yang disarankan jika gelombang tinggi atau tsunami menerjang.

Dikutip dari situs resmi Red Cross, ada beberapa langkah menyelamatkan diri dari terjangan tsunami, seperti menjauhi kawasan perairan dan berlindung di tempat tinggi, menjauhi benda berat dan tajam yang mungkin runtuh atau menghantap bersama arus yang datang, serta mengantisipasi gelombang air kedua dibanding yang pertama.

Tips antisipasi tsunami. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

"Yang jelas mereka harus menyelamatkan diri dulu. Menurut pengalaman kami di Sumbar, banyak orang yang meninggal bukan karena bencana gempanya tapi karena kepanikan, terutama yang berlarian di jalanan. Jadi kalau sudah tahu jalur evakuasi tidak perlu panik," ujar Mabruri.

Mabruri ikut juga menyinggung kemampuan operator wisata melayani turis dalam proses evakuasi bencana alam, khususnya yang terjadi di kawasan pesisir yang menjadi unggulan pariwisata Tanah Air.

Terkait hal ini dia menyayangkan belum pernah ada pelatihan untuk para operator wisata dari pemerintah atau lembaga negara.

"Kalau untuk warga di Sumbar sudah sering ada pelatihan, bahkan simulasi saat terjadi bencana tsunami. Tapi sejauh yang saya tahu operator wisata belum pernah mendapatkan pelatihan untuk menangani turis dalam bencana alam, terutama untuk proses evakuasinya," pungkas Mabruri.


Sementara itu diberitakan pada hari ini, Selasa (2/10) pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan seputar hilangnya sejumlah alat deteksi gelombang pasang dan tsunami atau buoy di Palu, Sulawesi Tengah.

Salah satu langkah penyelidikan ialah dengan memeriksa pihak penanggung jawab buoy.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menuturkan penyelidikan tersebut dilakukan setelah seluruh proses penanganan dan pemulihan dampak bencana selesai dilaksanakan.

Jenderal bintang dua itu menambahkan, penyelidikan hilangnya buoy ini akan dilakukan oleh Direktorat Polisi Air dan Udara (Dirpolairud).

Kasus ini membuat DPR ikut mempertanyakan keberadaan buoy di seluruh perairan Indonesia.

Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta pemerintah lewat Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengajukan anggaran pengadaan buoy karena banyak yang sudah tidak berfungsi, bahkan raib dicuri.

Menurut Bambang pengadaan buoy sebagai alat deteksi tsunami sudah mendesak dilakukan.

Bambang berkata berdasarkan data yang dimiliki, 22 buoy yang ada di Indonesia sejak 2012 sudah tidak berfungsi.

Puluhan buoy tersebut disebar awalnya di pantai Barat Sumatera dan Pantai Selatan Jawa.

[Gambas:Video CNN]

(agr/ard)