Kuda Renggong Jadi Primadona di Sufi Music Festival 2018

CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 22:52 WIB
Kuda Renggong Jadi Primadona di Sufi Music Festival 2018 Al Mizal Sufi Music Festival 2018 yang identik dengan atraksi bernuansa religius itu menghadirkan atraksi Kuda Renggong. (Foto: Dok Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Al Mizal Sufi Music Festival 2018 yang identik dengan atraksi bernuansa religius itu menghadirkan atraksi Kuda Renggong yang dinaiki dua anak kecil sebagai penampilan spesialnya.

Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuty memberikan acungan jempol untuk festival yang diadakan di Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, Jabar itu.

"Al Mizan Sufi Music Festival ini luar biasa. Di tengah padatnya agenda, masih memberikan ruang bagi budaya lokal. Benar-benar sangat mengesankan dan mengispirasi," kata Esthy dalam keterangannya, Selasa (2/10).



Festival ini diisi dengan istighosah, tausiah, muhasabah kebangsaan hingga wayang sufi. Ada juga kidung dan tari sufi, ragam seni sufi nusantara serta karnaval wisata dan budaya religi. 

Esthy mengatakan festival itu dibagi menjadi dua sesi, yakni kuda ibing yang memperlihatkan goyangan khasnya. Lainnya, kuda pencak silat yang berjingkrak dan menggerakkan kaki depannya untuk merespons gerakan silat sang pawang.

"Kuda Renggong ini merupakan kekayaan lokal yang luar biasa. Dalam setiap aksinya, atraksi budaya ini selalu menjadi daya tarik tersendiri. Kuda Renggong ini memang terkenal," katanya.

Ketua Pelaksana Calendar of Event 2018 Kemenpar ini menceritakan di Tanah Sunda, Kuda Renggong memiliki sejarah panjang dan mulai berkembang di tahun 1950-an. Seiring waktu, Kuda Renggong ini menjadi fenomena yang digemari semua lapisan masyarakat.

Kata 'Renggong' sendiri berasal dari rereongan atau gotong-royong.

Lebih lajut kata Esthy, untuk menguasai Kuda Renggong, harus melalui proses adaptasi dan penguasaan gerakan dasar selama 5 bulan. Selama itu, kuda hanya membiasakan diri dengan ketukan musik dan lingkungannya saja.

Setelah itu, akan diperkenalkan filosofi 'saruas sabuku' yang artinya adalah kuda memiliki harmonisasi kelenturan kaki, gerakan tubuh, dan keseimbangan kepala.

Menghargai Budaya dan Lingkungan

Pada kesempatan itu, Kepala Bidang Area I Kemenpar Wawan Gunawan memberikan apresiasinya untuk festival yang mengakomodir kesenian Kuda Renggong itu.

"Al Mizan Sufi Music Festival mengajarkan banyak hal kepada publik. Festival ini sangat menghargai budaya dan lingkungannya. Sebab, untuk menghasilkan Kuda Renggong ini butuh waktu dan tenaga ekstra," katanya.


"Kuda Renggong bisa masuk ke semua latar belakang. Jadi, bisa diterima oleh siapa saja. Kemasannya pun unik. Kuda Renggong memiliki aksesoris perlengkapan yang banyak," sambung Wawan.

Sukses digelar dengan meriah, Menpar Arief Yahya juga memberikan apresiasinya terhadap festival ini. "Al Mizan Sufi Music Festival ini sangat bagus. Konsep wisata religinya sangat kuat namun tetap ramah pada akar budaya lokal. Kombinasi-kombinasi seperti ini bagus karena ada experience yang ditawarkan kepada wisatawan," katanya. (egp/stu)