Kisah Asep Kosasih, Pria yang Dipasung 22 Tahun

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 13/10/2018 17:18 WIB
Kisah Asep Kosasih, Pria yang Dipasung 22 Tahun Akibat skizofrenia yang dideritanya, Asep harus meringkuk terpasung tak berdaya selama 22 tahun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika boleh memilih, rasanya tak ada yang memilih nasib menjadi seseorang dengan gangguan jiwa. Siapa pula yang ingin jiwanya terganggu?

Nasib itu pula yang 'tak dipilih' Asep Kosasih (37). Akibat skizofrenia yang dideritanya, dia harus meringkuk terpasung tak berdaya selama 22 tahun lamanya, sejak usianya baru menginjak 15 tahun hingga kini 37 tahun sudah usianya.

Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa kronis yang mengancam banyak orang. Penyakit ini muncul akibat adanya ketidakseimbangan kadar dopamin dan serotonin dalam otak. Saat otak terganggu, berbagai gejala seperti delusi, halusinasi, cara bicara dan perilaku yang tidak teratur akan bermunculan.



Sorot matanya dingin dan tajam. Sorot itu seolah marah dan penuh kebencian, tapi pilu lantaran tak berdaya. Rambutnya yang gondrong tak beraturan semakin menggambarkan ketidakberdayaannya.

Asep meringkuk lunglai di atas dipan yang dilapisi kasur tipis yang kusam dan tak berbentuk. Tak ada satu helai kain pun yang membungkus tubuhnya. Tubuhnya kurus kerontang, seolah yang tersisa hanya kulit dan tulang. Di bagian kakinya, nampak jelas 'borgol' rantai yang mengikatnya dan membuatnya tak bisa ke mana-mana. 

Dari tampilan kasurnya, jelas sudah bahwa kasur itu tak pernah dibersihkan. Kasur itu jadi tempat bagi Asep untuk makan, minum, buang air kecil, buang air besar, berkhayal, hingga berceloteh. Bau tak sedap semerbak tercium di kamar berukuran sekitar 2x2 meter itu saat CNNIndonesia.com mengunjunginya di Kampung Somang, Desa/Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Jumat (12/10).

Asep hanyalah satu dari belasan ribu orang dengan gangguan jiwa lainnya yang terpasung. Sampai September 2018, tercatat ada 12.832 orang dengan gangguan jiwa yang mengalami pemasungan di Indonesia. 

Angka itu terbilang kecil jika dibandingkan dengan 400 ribu penderita gangguan kesehatan jiwa kronis dan 14 juta orang dengan disabilitas psikosial. Kendati terbilang kecil, tetap saja praktik pemasungan bukan hal yang dianjurkan untuk mengatasi gangguan kesehatan jiwa.

"Kami udah pasrah," ujar Pepen Supenti (46), kakak kandung Asep. Pasrah itu bukan berarti pasrah begitu saja pada nasib Asep. Pepen dan keluarga pasrah lantaran kondisi ekonomi yang membelit. "Kami udah enggak punya uang lagi buat ngobatin dia."

"Sep, bade diobatan? Hayang cageur teu? (Mau diobati enggak? Ingin sembuh enggak?)," tanya Pepen berdiri di dekat Asep.

"Emam.. (Makan...)," jawab Asep seolah tak menghiraukan pertanyaan Pepen. Suaranya keras, tak ubahnya suara orang sedang marah. Dari intonasi bicaranya, terdengar jelas ada yang kacau balau di sana. 

"Emam mah engke deui. Bade diobatan teu? (Kalau makan nanti lagi. Mau diobati enggak?)," balas Pepen keukeuh.

"Geura.. Geura.. (Buruan..)," jawab Asep, lagi-lagi tak peduli atas apa  yang ditanyakan Pepen.

"Dia mah begitu. Dikit-dikit ngomongnya makan, makan. Sering banget," kata Pepen bercerita. Padahal, saat itu baru saja Pepen memberinya makan dan minum. Asep ternyata masih lapar.

Kondisi kacau balau itu bermula saat Asep baru berusia 12 tahun. Pemicu awalnya adalah keinginan Asep akan motor baru yang gagal didapatkannya. "Bapak waktu itu enggak ngasih," kata Pepen.

Tak lama dari situ, sang bapak mengembuskan napas terakhirnya. Selepas kepergian sang bapak, kakak kandung Asep yang lain justru menjual motor lamanya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga.

"Jadi, motor lama hilang dijual, motor baru enggak ada," kata Pepen.

Sejak saat itu, Asep mulai sering mengurung diri dalam kamar. "Sering bengong," kata Pepen. Asep juga sering menggerakkan kakinya ke lantai dan tanah seperti kuda.

Perlahan, kondisi Asep semakin tak karuan. Dia kerap mengamuk, mulai dari menghancurkan tembok, memecahkan semua kaca jendela yang ada di rumah, hingga membakar salah satu bagian rumah. 

Pada episode lain, Asep pergi keluyuran keluar rumah dan mengintip orang-orang yang sedang mandi.

Karena tindak-tanduknya yang semakin mengkhawatirkan dan mengganggu lingkungan sekitar, keluarga memutuskan untuk 'mengunci' Asep dengan rantai. 

Sesekali rantai dibuka saat memandikan Asep. Namun, karena gerak  tangan Asep yang kian tak terkontrol saat disentuh atau diganggu, keluarga tak lagi memandikan Asep hingga kini.

Pemasungan kerap jadi jalan terakhir yang dipilih keluarga untuk mengatasi emosi ODGJ yang tak terkontrol. "Kami enggak tahu harus gimana lagi," kata Pepen dengan mata berkaca-kaca.


Pemasungan biasanya dilakukan saat keluarga tak sanggup lagi menghadapi luapan emosi ODGJ. Terlebih, jika sikap ODGJ sudah mengganggu lingkungan sekitar.

Rantai yang mengekangnya itu perlahan membuat kulit Asep yang semula putih menjadi hitam kusam. Dia terlihat kumal dan jelas tak terurus.

"Padahal dulu Asep teh ganteng pisan," kata Pepen. Klaim itu rasanya tak berlebihan. Dari wajahnya yang tampak saat ini, kita bisa mengira bahwa Asep remaja adalah sosok yang rupawan.

"Dulu mah Asep teh kayak Richie Ricardo, yang artis zaman dulu."

'Menyelamatkan' Asep

Berbagai cara telah dilakukan Pepen dan keluarga untuk 'menyelamatkan' Asep. Apa pun dilakukan oleh keluarga demi kesembuhan Asep, sekalipun itu uang yang perlahan habis.
"Dulu waktu saya masih kerja di Arab, uang kiriman saya selalu habis buat ngobatin Asep," ujar Pepen bercerita.

Sekali waktu, Asep pernah dibawa berobat ke salah satu rumah sakit jiwa yang ada di Jakarta. "Di sana Asep hanya disuntik, terus dirawat di bangsal selama sebulan," kata Pepen. 

Dalam fase perawatan di rumah sakit, Asep getol mengonsumsi obat. Sekembalinya ke rumah, kondisinya yang segar membuat keluarga percaya bahwa Asep telah sembuh.

Namun, saat itu keluarga masih tak mengerti soal penyakit apa yang diderita Asep. Dokter yang menanganinya kala itu bahkan tak memberikan penjelasan. Minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat soal kesehatan jiwa juga kerap menjadi persoalan yang tak kunjung usai.

Tengok saja apa yang terjadi pada Asep. Sekembalinya ke rumah, Asep menolak meminum obat. Karena tak tahu bahwa pasien skizofrenia harus terus menerus diasupi obat, keluarga pun tak terlalu ambil pusing. Akibatnya, jiwa Asep kembali 'bergejolak'. Asep kambuh kembali.

Saat itu, keluarga mengambil kesimpulan bahwa Asep bukan sedang menderita penyakit apa pun. Keluarga mengira ada faktor 'magis' di dalamnya. 

Tak ayal, keluarga pun membawa Asep untuk melakoni berbagai pengobatan alternatif. "Kata kiai waktu itu, ini karena hatinya Asep yang rusak," ujar Pepen. 


Asep diberikan berbagai doa-doa. Bahkan, suatu waktu, hidung Asep juga pernah dikorek-korek oleh kapas.

"Katanya itu untuk mengeluarkan energi negatif pada Asep," tambah Pepen.

Namun, berbagai pengobatan yang dilakoni--secara medis dan alternatif--tak kunjung memperlihatkan hasil. Asep malah semakin menjadi-jadi, hingga kini harus meringkuk lunglai seorang diri.

Belakangan, Pepen getol mencari cara untuk mengobati Asep secara medis. Keinginan itu didorong oleh tetangganya yang juga pernah mengalami hal serupa pada kedua anaknya. 

Setelah berbagai proses dilalui dan adanya bantuan dari berbagai pihak, keluarga memutuskan membawa Asep ke salah satu rumah sakit jiwa di Kota Bogor, yang terpaut jarak 50 kilometer dari kediamannya. Apa mau dikata, jarak jauh harus ditempuh demi kesembuhan Asep.

Jumat kemarin adalah waktunya Asep 'bersiap diri'. Keluarga memandikan dan membersihkan tubuh Asep. Butuh tenaga beberapa orang hingga akhirnya Asep mau dimandikan.

Asep sempat menolak. Dia mengamuk ketakutan, menepis setiap tangan yang mencoba mendekatinya. Saat tubuhnya mulai bisa dikendalikan dan dimandikan, Asep terus merintih kesakitan. "Nyeri.. Nyeri.. (Sakit..)," katanya sambil menangis seperti anak kecil.

Namun, lama kelamaan Asep diam tak berkutik. Rambut Asep yang semula gondrong dicukur hingga sedikit terlihat rapi. Perlahan, tubuh Asep kian bersih. Kulit wajahnya yang putih terlihat agak bersinar. 

Pepen mendandani Asep dengan kaus berwarna ungu muda dan celana pendek berwarna putih. Kuku-kukunya yang panjang pun dipotong. Paras rupawan Asep sontak muncul, meski masih dengan sorot matanya yang kosong.

Asep dibopoh berjalan menuju ruang tengah. Sontak isak tangis kecil keluar dari beberapa sanak saudara yang berdatangan. Mereka terharu. 

Seseorang membawakan kantung plastik berisikan kue nagasari. Dia memberikannya pada Asep. Tak tunggu waktu lama, Asep melahap kue nagasari.

(asr/chs)