Biaya-biaya yang Hilang Akibat Skizofrenia

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 13/10/2018 11:12 WIB
Biaya-biaya yang Hilang Akibat Skizofrenia Ilustrasi penderita gangguan kesehatan jiwa (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penderita skizofrenia kerap diasosiasikan dengan gila. Gangguan kesehatan jiwa berat ini mengganggu proses berpikir penderita. Delusi dan halusinasi kerap mendorong perilaku tak pantas dari penderita.

Sederet kerugian diakibatkan oleh penyakit mental paling kronis ini. Tak cuma merusak otak, skizofrenia juga menimbulkan kerugian dan beban biaya yang tak sedikit.

Kajian yang dilakukan oleh Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KP-MAK) Universitas Gajah Mada mencatat biaya yang muncul akibat penyakit skizofrenia mencapai Rp32 juta per tahun untuk setiap pasien.



"Biaya itu termasuk biaya langsung dan tidak langsung seperti hilangnya produktivitas," ujar Ketua Pusat KP-MAK UGM, DI Yogyakarta, Diah Ayu Puspandari di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Rincian yang muncul untuk biaya langsung meliputi pengobatan medis dan alternatif yang masing-masing mencapai 20 persen. Ada pula dana penyediaan ruangan yang khusus dipersiapkan untuk penderita skizofrenia.

Tak cuma itu, skizofrenia juga membutuhkan biaya transportasi. Menurut Diah, kondisi skizofrenia yang meledak-ledak dan tak terkontrol membuat keluarga kerap membawa penderita dengan menggunakan kendaraan beroda empat menuju fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Beruntung bagi mereka yang telah memiliki mobil. Tapi bagi yang tidak, terpaksa keluarga kudu mengeluarkan koceknya untuk menyewa mobil.


Di luar itu, biaya paling besar justru muncul dari sesuatu yang tak bersifat langsung. Biaya itu merupakan kerugian akibat hilangnya produktivitas pasien.

"Ini paling besar, bisa sekitar 30 persen sampai 40 persen per tahun (untuk setiap pasien)," ungkap Diah.

Namun, perlu dicatat, skizofrenia tak hanya merugikan penderita, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebut saja caregiver yang mungkin mengalami kerugian serupa.

Namun, sayangnya kajian tersebut belum menghitung instrumen biaya hilangnya produktivitas caregiver. Padahal, sering kali seorang skizofrenia didampingi oleh lebih dari satu caregriver.


Diah memberikan catatan, kajian yang dilakukannya ini belum bisa mencerminkan kondisi di komunitas (penderita skizofrenia). Sebab, penelitian tersebut tak menjangkau semua responden.

Penelitian hanya fokus pada responden yang memiliki akses ke rumah sakit. Sedangkan di luar sana, masih banyak penderita skizofrenia yang tak mendapatkan pengobatan sebagaimana mestinya.

Mencegah kerugian

Biaya yang besar ini bisa saja tak muncul jika pencegahan dilakukan. Pencegahan yang perlu dilakukan itu meliputi perawatan dan pengobatan secara rutin.

Seorang skizofrenia, kata Diah, dapat beraktivitas normal seperti biasa dengan catatan rutin mengonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan.

Selain itu, stigma pada keluarga soal penyakit 'gila' ini juga mesti dihilangkan. Diah menyebut, skizofrenia sama dengan penyakit kronis lainnya.

"Keluarga sering menyembunyikan, menganggap aib, padahal sama dengan penyakit kronis lain seperti diabetes dan hipertensi yang seumur hidup," ucap Diah. (asr/asr)