Jakarta Fashion Week 2019

Gaya Indonesia dalam Sentuhan Styling Jepang

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 21/10/2018 14:29 WIB
Gaya Indonesia dalam Sentuhan <i>Styling</i> Jepang Model memeragakan busana Danjyo Hiyoji persembahan Indonesia Fashion Forward pada gelaran mode Jakarta Fashion Week, Sabtu (20/10). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2019 sudah dimulai pada Sabtu (20/10).

Seperti biasanya, JFW akan menghadirkan kolaborasi desainer yang dianggap memiliki potensi besar di kancah dunia dalam Indonesia Fashion Forward (IFF). Desainer tersebut dibina untuk memasuki pasar dunia.

Kali ini tak cuma dibimbing, desainer IFF yaitu Bateeq, Danjyo Hiyoji, NY by Novita Yunus akan dihadirkan lebih spesial dengan kolaborasi bersama desainer brand Tategami dan stylist Jepang Makoto Washizu.



"Kerja sama dengan Jepang sudah berjalan enam tahun. Tahun ini tepat 60 tahun hubungan diplomatik dengan Jepang sehingga kolaborasi diperbesar. Kami mengundang desainer dan stylist (dari Jepang)," kata Lenni Tedja, direktur JFW saat ditemui di Fashionlink, Senayan City Mall, Tanahabang, Jakarta Pusat, Rabu (17/10). 

Kolaborasi tiga desainer dengan Makoto terlihat apik. Bateeq dan NY by Novita Yunus yang mengandalkan kreasi batik dalam tiap koleksinya mengusung batik pun tak lepas dari sentuhan ajaib tangan Makoto.

Bateeq dengan kreasi warna-warna yang cerah dan potongan modern bergaya anak muda ini terlihat makin segar dengan styling-an ala Makoto.

Model memeragakan busana Bateeq persembahan Indonesia Fashion Forward pada pagelaran pekan mode Jakarta Fashion Week 2019, Jakarta (20/10).Model memeragakan busana Bateeq persembahan Indonesia Fashion Forward pada gelaran mode Jakarta Fashion Week (JFW), Sabtu (20/10). (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Tank top batik, outer kimono, celana panjang longgar, kemeja panjang, sampai ikat pinggang obi jadi kunci utama dari desain koleksi Bateeq.

Senada dengan Bateeq, NY by Novita Yunus juga menghadirkan batik. Namun 'pendekatan' yang dibawa NY terasa berbeda.

Batik NY lebih banyak bermain dengan warna kebiruan dan warna-warna pastel. Outrwear berupa blazer, rok mini, one shoulder top, kemeja bertekstur, dress asimetris, harem pants mendominasi koleksinya.

Di koleksi tersebut, kolaborasi NY dan Makoto banyak 'menelurkan' gaya layer alias busana tumpuk. Alih-alih sentuhan Jepang, dalam beberapa look, khususnya busana pria, gayanya justru terlihat bak gaya Timur Tengah dan Asia lainnya.

Sedangkan jiwa paling Jepang terasa dalam kolaborasi Danjyo Hiyoji dengan Makoto.

Tak dimungkiri, gaya Danjyo Hiyoji yang digawangi oleh Liza Mashita dan Dana Maulana ini memang 'berkiblat' pada gaya Jepang. Koleksi Danjyo Hiyoji kali ini mengambil tema 'Versed'.

Model memeragakan busana Danjyo Hiyoji persembahan Indonesia Fashion Forward pada gelaran mode Jakarta Fashion Week, Sabtu (20/10).Model memeragakan busana Danjyo Hiyoji persembahan Indonesia Fashion Forward pada gelaran mode Jakarta Fashion Week, Sabtu (20/10). (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Koleksi dengan sentuhan gambar ciptaan Muklay sang seniman menghadirkan sentuhan yang unik.

"Kolaborasi Danjyo Hiyoji dengan styling-an dari Makoto ternyata memberikan gaya yang segar untuk Danjyo Hiyoji," kata Dana Maulana dari Danjyo Hijoyi, saat konferesi pers di Jakarta Fashion Week, Sabtu (20/10).

Satu hal terpenting dalam kolaborasi ini terletak pada kemampuan Makoto dan para desainer untuk menjaga egonya dan tak overlap. Artinya, mereka mampu tetap menampilkan karakter dan ciri khas mereka masing-masing dalam koleksi kolaborasi tersebut.

Belajar dari Jepang

Selain kehadiran Makoto, JFW juga bakal menghadirkan show director Tokyo Fashion Week Organization untuk berbagi mengenai penataan dan pengaturan gelaran pekan mode. 

"JFW ini, kami belajar banyak dari Jepang (Tokyo Fashion Week), makanya ini kesempatan buat belajar secara langsung," imbuhnya. 


Sebelumnya, kerjasama JFW dan Tokyo Fashion Week (TFW) sebatas 'pertukaran' panggung. Artinya, desainer Indonesia dikirim untuk memamerkan koleksi di Jepang, begitu pula sebaliknya. Lenni menganggap kesempatan ini begitu berarti bagi desainer, sebab TFW merupakan gelaran fesyen bergengsi di Jepang. 

Dua tahun terakhir, lanjut Lenni, desainer Indonesia berkesempatan menjalani program residensi. Program ini memberikan kesempatan bagi desainer Indonesia untuk belajar dan tinggal di Jepang selama sekitar 10 hari hingga dua minggu. 

"Desainer itu diajari bagaimana sih masuk ke pasar Jepang," ucapnya. (els/chs)