Menyingkap Pesona Tersembunyi Danau Singkarak

Tim , CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 17:20 WIB
Danau Singkarak masuk dalam dua kabupaten di Sumatera Barat, yaitu Solok dan Tanah Datar. Nelayan mencari ikan bilih di Danau Singkarak. (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa tahun terakhir, nama Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), semakin dikenal oleh wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

Hal ini tidak lepas dari agenda pariwisata berbasis olahraga (sport tourism) yang bernama Tour de Singkarak (TdS). Tahun ini TdS pun genap memasuki usia yang ke-10, itu artinya sudah 10 kali nama Danau Singkarak dikumandangkan ke pelosok dunia khususnya dalam dunia balap sepeda.

Berdasarkan catatan sejarah, keindahan Danau Singkarak pertama kali dipublikasikan kepada dunia tahun 1905 lewat sebuah buku karya Ernst Haeckel, seorang naturalis (peneliti) asal Jerman.


Ernst Haeckel tak hanya meneliti ekosistem Danau Singkarak dan sekitarnya, ia bahkan terkagum-kagum dengan keindahan danau ini.

Untuk meluapkan kekagumannya, Haeckel pun membuat 'replika' keindahan Danau Singkarak dalam sebuah lukisan di dalam bukunya.

Secara administratif, Danau Singkarak masuk dalam dua kabupaten di Sumatera Barat, yaitu Solok dan Tanah Datar.

Danau ini memiliki luas 107,8 kilometer persegi, hal ini menjadikan Singkarak sebagai danau terluas kedua di dataran Sumatera setelah Toba.

Danau dengan kedalaman 268 meter dan berada di ketinggian 363,5 meter di atas permukaan laut ini, adalah bagian dari Cekungan Singkarak-Solok yang termasuk di antara segmen dari Sesar Sumatra.

Cekungan dari danau ini terbentuk dari sebuah amblesan yang disebabkan oleh aktivitas pergerakan Sesar Sumatera. Cekungan besar ini terbendung oleh material vulkanik dari letusan gunungapi sekitarnya.

Akibat pembendungan material vulkanik ini, terbentuklah Danau Maninjau di satu bagian Cekungan Singkarak-Solok.

Namun berbeda dengan Danau Maninjau yang terbentuk akibat letusan gunung api, Danau Singkarak terbentuk karena proses tektonik.

Karena tergolong dalam kategori danau tektonik, ukuran Danau Singkarak masih dapat berubah mengikuti pergeseran lempeng bumi.

Menurut hasil penelitian para ahli, panjang danau pada awalnya hanya tiga kilometer (km), kemudian bertambah menjadi delapan km, 13 km, dan terakhir sekitar 23 km. Diperkirakan, panjang danau ini masih bisa bertambah.

[Gambas:Instagram]

Menuju Singkarak

Danau yang merupakan hulu sungai Batang Ombilin ini berjarak 70 km dari Padang, 20 km dari Solok atau sekitar 36 km dari Bukittinggi.

Bila datang di bandara internasional Minangkabau, sahabat Sporto dapat menyewa mobil atau naik minibus umum dengan rute Padang-Solok dan kemudian mengambil transportasi lain ke danau.

Dalam perjalanan menuju Danau Singkarak, wisatawan akan melewati kawasan Sitinjau Laut yang terkenal dengan tikungan tajam dan curam.

Danau Singkarak terbilang mudah dicapai karena strategis di pinggir jalanan berkelok antara Kabupaten Tanah Datar dan Solok.

Untuk menikmati panorama Danau Singkarak, setidaknya ada beberapa lokasi yang bisa dijadikan pilihan, seperti Kenagarian Kacang, Paninggahan, Malalo, atau Pitalah.

Apabila datang dari arah Kabupaten Tanah Datar maka dapat menuju Panorama Payorapuih di Kecamatan Batipuh yang menyuguhkan pemandangan Danau Singkarak berlatar Gunung Merapi dan Bukit Patah Gigi.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk menikmati Danau Singkarak. Wisatawan bisa berenang, naik sampan berkeliling danau, memancing di tepi danau, atau mengikuti nelayan menangkap ikan.

Danau megah berlatarbelakang Bukit Barisan ini teramat sayang jika dilewatkan begitu saja.

Pada Danau Singkarak hidup lebih dari 19 jenis ikan, dari 19 spesies itu, tiga spesies di antaranya memiliki populasi kepadatan tinggi, yakni ikan Bilih/Biko (Mystacoleusus padangensis Blkr), Asang/Nilem (Osteochilus brachmoides) dan Rinuak.

Ikan bilih terkenal sulit dibudidayakan di luar Danau Singkarak, apabila dipaksakan rasanya akan berbeda, meskipun dibudidayakan dalam jala terapung yang ada di Danau Singkarak.

Bilih biasanya memiliki panjang maksimalnya hanya 10 centimeter dengan sisik berwarna perak berkilauan. Warga sekitar kemudian mengemasnya sebagai buah tangan khas Danau Singkarak. (agr)