Wisata Virtual untuk Melawan Agoraphobia

CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 13:40 WIB
Wisata Virtual untuk Melawan Agoraphobia Ilustrasi. (Foto: Screenshot via Google Maps Street View)
Jakarta, CNN Indonesia -- Agoraphobia atau rasa takut tak bisa menyelamatkan diri di tempat umum yang diderita Jacqui Kenny, membuatnya sulit lepas dari nyamannya atap rumah.

Namun, gangguan kecemasan yang dimiliki tak ia biarkan menggetar tekadnya untuk melihat dunia jauh dari kampung halaman.

Melalui bantuan Google Street View dan fitur screenshot, Kenny yang berdomisili di London berhasil menangkap suasana Sun City, Arizona hingga Naryn, Kyrgyzstan tanpa beranjak dari layar komputer atau gawai.


Mengutip CNN Travel, hasil bidikan kreatifnya ini dipamerkan melalui akun Instagram dengan nama samaran "Agoraphobic Traveler".

Bermula dari ketidaksengajaan, kini akun Instagram Kenny dibanjiri banyak pengikut lebih dari 35 ribu orang.

Proyek menangkap kegiatan wisata virtual ini pertama kali dimulai pada awal tahun 2016. Saat itu, Kenny sedang dalam proses menutup perusahaan yang ia miliki bersama partner bisnisnya.

Untuk menutup duka yang dirasakan, Kenny menjadikan Google Street View sebagai wadah mencari ketenangan.

"Google Street View bagaikan parelel ke dunia lain bagi saya. Ada milyaran foto yang bisa saya jelajahi di sana," tutur Kenny.

"Saat itu saya belum siap kembali terjun ke dunia nyata. Saya butuh sebuah proyek kreatif, di mana saya bisa memfokuskan pikiran pada hal tersebut," tambahnya selagi mengingat masa silamnya.

[Gambas:Instagram]

Awalnya, Kenny hanya menyusuri jalanan di Google Street View secara absurd. Namun, lambat laun ia menyadari bakatnya dalam menemukan angle bidikan dengan nilai estetika tinggi.

"Dengan agrophobia, destinasi-destinasi yang berhasil saya tangkap tak akan mungkin saya datangi secara nyata," ungkapnya.

Menyusun estetika dan memperbaiki kondisi kesehatan jiwa

Melihat foto-foto di akun Instagram miliknya, sudah jelas terpampang bukti bahwa Kenny memiliki selera estetika yang luar biasa.

Warna-warna pastel yang ramah dan manis menghiasi setiap bidikannya.

Meski terlihat seperti kota mainan berkat warna-warni cantik yang dimiliki, Kenny tak segan memperlihatkan kesan nyata dalam setiap karyanya.

Potret mobil yang tertangkap kamera bahkan tidak ia tanggalkan di sejumlah foto.

Seiring mendalami hobinya ini, Keny mulai belajar merangkul agoraphobia yang harus ia hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya selalu ingin melakukan sesuatu perihal kesehatan mental, namun belum tahu mau melakukan apa," tuturnya.

"Dulu, saya tidak pernah memberitahu orang-orang bahwa saya punya agoraphobia, yang tahu hanya teman dan keluarga terdekat saja," tambahnya.

Ia sempat takut dan ragu mengungkapkan identitas sebagai agoraphobia kepada pengikutnya, namun kini rasa takut itu tak lagi tersisa dalam benaknya.

"Saat saya mengumumkan lewat Instagram, responnya sangat baik. Dengan banyaknya stigma yang masih melekat pada gangguan jiwa, saya pikir orang-orang akan menghakimi saya. Namun, yang saya dapat justru dukungan," ungkap Kenny.

Tak hanya menangkap perhatian masyarakat awam, karya Kenny juga dilirik oleh Google.

Kenny mengaku tengah mendiskusikan proyek selanjutnya dengan perusahaan jasa dan produk Internet itu.

[Gambas:Instagram]

Melihat antuasiasme yang diterima, Kenny akan melawan keterbatasan mentalnya dengan mengunjungi langsung lokasi-lokasi yang selama ini hanya bisa disaksikan melalui layar komputer.

"Saya merasa punya koneksi dengan sejumlah lokasi-lokasi tersebut. Ketika berkunjung, saya akan menghabiskan waktu yang lama untuk berlibur," ujarnya.

Beberapa lokasi tujuan wisata yang dipilih akan melangsungkan panel diskusi dan pameran fotografi.
(fey/agr)