WHO: Lebih dari 90 Persen Anak di Dunia Hirup Udara Beracun

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 08:32 WIB
WHO: Lebih dari 90 Persen Anak di Dunia Hirup Udara Beracun Ilustrasi polusi udara (REUTERS/Saumya Khandelwal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polusi udara tengah mengancam warga dunia tak kenal usia. Laporan teranyar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) teranyar menyebutkan bahwa sebagian besar anak di dunia menghirup udara yang tercemar. Kondisi itu menimbulkan risiko kesehatan yang besar bagi anak.

Mengutip The Telegraph, 98 persen atau sekitar 1,8 miliar anak di bawah lima tahun tinggal di kawasan di mana polusi udara telah berada di atas ambang batas normal.

Pada 2016 lalu, polusi udara menyebabkan sekitar 4,3 juta kematian dini. Sekitar 600 ribu anak di antaranya meninggal akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terjadi akibat udara kotor.



Kondisi ini memiliki konsekuensi seumur hidup. Paparan polusi udara terkait dengan berbagai kondisi kesehatan seperti asma, kanker anak, dan mengurangi perkembangan saraf serta kemampuan kognitif anak.

Saat organ-organ tubuhnya masih berkembang, anak-anak menghirup udara beracun setiap harinya. Kondisi demikian sangat memungkinkan anak terserang penyakit kronis.

"Anak-anak sangat rentan terhadap dampak polusi udara. Namun, mereka tak berdaya dan bergantung pada kita untuk melindungi mereka," ujar salah seorang ilmuwan dan ahli polusi udara WHO, dr Marie Noel Brune Drisse.

Dalam laporan terbarunya, WHO juga menyebutkan bahwa polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian setiap tahun.


Kendati polusi udara merupakan masalah global, namun kondisi mencemaskan itu terlihat menonjol di sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Afrika, 184 anak per 100 ribu orang meninggal karena penyakit yang disebabkan polusi udara pada 2016 lalu.

Kondisi itu sebagian besar disebabkan oleh ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap bahan-bahan bakar tak sehat yang biasa digunakan untuk memasak seperti minyak tanah. Bahan bakar tersebut menghasilkan konsentrasi polutan dalam ruangan.

Sekitar 3 miliar orang di seluruh dunia, termasuk di antaranya Afrika dan Asia Tenggara, masih tergantung dengan bahan-bahan bakar jenis tersebut.

Ketika bayi dan balita menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, mereka lebih sering terpapar polusi udara yang lebih tinggi daripada mereka yang berusia di atas lima tahun.

"Negara berpenghasilan rendah dan menengah adalah negara yang paling menderita akibat polusi udara," ujar ilmuwan WHO lainnya, dr Sophie Gummy.


Gummy menyebut, lebih dari 50 persen pencemaran di dunia bergantung pada bahan bakar tercemar yang digunakan di rumah tangga. "Kita perlu memastikan bahwa mereka memiliki akses pada energi bersih," katanya.

Namun, dampak pencemaran udara ini tidak terjadi begitu saja. Ia dimulai sebelum kelahiran dari wanita yang terpapar polusi udara selama kehamilan.

Sebagaimana disebutkan dalam penelitian sebelumnya, partikel polusi udara ditemukan dalam plasenta wanita hamil. Mengutip CNN, partikel itu masuk melalui paru-paru menuju plasenta hingga berpotensi sampai ke janin.


Diterbitkan pada Senin, laporan itu dirilis bertepatan dengan Global Conference on Air Pollution and Health di Jenewa. Di sana, para pemimpin dunia bertemu untuk membahas strategi mengatasi polusi udara. Termasuk beberapa di antaranya mengurangi ketergantungan pada mobil, meningkatkan sistem pengelolaan limbah, dan mempercepat langkah untuk membersihkan pasokan energi.

Direktur Jenderal WHO, dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa udara yang tercemar meracuni jutaan anak dan menghancurkan hidup mereka.

"Ini tidak bisa dimaafkan. Setiap anak harus dapat tumbuh dengan menghirup udara bersih sehingga mereka dapat tumbuh dengan baik," pungkas Ghebreyesus. (asr/chs)