Catatan Perjalanan

Kisah Kampung Bekelir yang Bangkit dari Kekumuhan

CNN Indonesia | Minggu, 04/11/2018 15:48 WIB
Kisah Kampung Bekelir yang Bangkit dari Kekumuhan Marka tanah Kampung Bekelir, Tangerang. (CNN Indonesia/Feybien Rahmayanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai warga asli Jakarta yang lahir dan besar di ibu kota, terkadang saya merasa gagal karena tak paham betul seluk beluk kota dan sekitarnya.

Saya hanyalah satu dari sekian banyak warga Jakarta yang juga tak melek daerah sekitar kota. Pasalnya, kami disibukkan oleh kegiatan sehari-hari yang berkutat di pusat kota hingga lupa bahwa pelosok yang justru menyimpan permata.

Kampung Bekelir adalah salah satu contohnya. Kampung ini merupakan rumah bagi 300 kepala rumah tangga yang rata-rata menghasilkan nafkah dari berdagang.


Sebelum diresmikan oleh Walikota Tangerang, Bapak Arief R. Wismansyah pada November 2017, 'bekelir' bukanlah sebutan bagi perkampungan ini, melainkan Babakan Kulon.

Kala itu, Babakan Kulon hanya kampung kumuh sedang yang tak kenal keindahan, apalagi wisatawan.

Namun, berkat kegigihan warga dan dorongan dari sosok lurah, pemimpin RW dan juga RT, Kampung Bekelir bangkit dari kekumuhan dan lahir sebagai kampung wisata.

Bermodalkan suntikan dana dari sejumlah perusahaan dan pembekalan Program Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) dari Kementerian Kesehatan Indonesia, kampung kumuh disulap menjadi warna-warni.

Tak sampai satu jam perjalanan darat dari kawasan Sudirman, Jakarta, mobil menghentikan mesinnya di depan plang warna-warni bertuliskan 'Kampung Bekelir'.

Namun, saya tak bisa memungkiri keheranan saya. Karena sepanjang mata memandang, yang ada hanya plang nama dan perairan luas.

Plang tersebut berdiri tegak di ujung jalan yang tepatnya berada di samping Sungai Cisadane.

Sibuk menyaksikan aksi sejumlah ibu rumah tangga mencuci pakaian dan anak-anak kecil bermain di sungai, saya tak sadar ternyata perkampungan warna-warni itu berada di seberang jalan.

Belum memasuki area perkampungan saja, warna-warni tembok perumahan warga dan beberapa karya seni jalanan sudah menghiasi area pinggir jalan.

Workshop Tanaman Hidroponik

Sebelum mengintip warna-warni perkampungan, Bapak Sofyan membawa saya menjumpai rumah bibit yang dikelola oleh Mas Hamidi.

Bapak Abu Sofyan selaku kepala kelurahan Babakan menjadi pembimbing wisata di hari itu. Mas Hamidi merupakan lulusan sarjana agama, namun malah banting setir menjadi petani kota.

Bermula dari keinginan menjadi wirausahawan, kini Mas Hamidi berperan sebagai pembimbing Kelompok Wanita Tani atau KWT di rumah bibit.

Di sana saya bertemu Ibu Herlina, salah satu anggota KWT bimbingan Mas Hamidy.

Kisah Kampung Bekelir yang Bangkit dari KekumuhanWorkshop pertanian Hidroponik. (Foto: CNN Indonesia/Fey)


Ia mengaku sebelum kedatangan Mas Hamidi tiga bulan lalu, kesehariannya hanya diwarnai kegiatan rumah tangga saja. Kini ia ikut sibuk mendalami pertanian hidroponik bersama Mas Hamidi dan anggota KWT lain.

Dalam rumah bibit ini, pengunjung berkesempatan mempelajari teknik pertanian hidroponik yang hasilnya dapat langsung di bawa pulang sebagai buah tangan.

Bercocok tanam menggunakan teknik hidroponik sendiri artinya pertanian dilakukan tanpa media tanah.

Yang digunakan hanyalah serbuk kayu dan kompos yang didapat dari sampah rumah tangga, seperti air beras, kuning telur, kulit telur, kulit kelapa hingga puntung rokok.

Kedepannya, warga kampung berharap hasil pertanian hidroponik dapat menghasilkan omset yang menguntungkan.

Setelah lelah menggeluti kegiatan bercocok tanam bersama warga setempat, waktunya mengisi perut dengan suguhan khas Tangerang.

Nasi Ulam yang disuguhkan oleh Ibu Herlina siang itu dimasak langsung oleh ibu-ibu Kampung Bekelir.

Hidangan nasi dicampur berbagai bumbu dan rempah ditemani lauk pauk berupa tempe orek, telur, bihun dan semur jengkol di depan mata berhasil membuat perut bergejolak.

Sebelumnya saya tak pernah menyicipi nikmatnya jengkol. Tak dipungkiri, saya sedikit cemas akan reputasi jengkol yang dianggap bau dan tak manis disantap wanita.

Namun, Ibu Herlina mengikis keraguan saya. Ia menjanjikan masakannya lezat dan tak mengkhawatirkan.

Puas menyantap nasi ulam khas Tangerang, saya siap melanjutkan aktivitas bersama panduan Bapak Sofyan.

Memasuki area perkampungan, saya langsung disambut oleh payung warna-warni dan topi petani yang digantung di sepanjang jalan gang.

Tak hanya itu, warna-warni tembok perumahan seolah mengundang saya berfoto-foto ria.

Totalnya ada 300 tembok rumah di cat warna-warni dengan 1220 gambar grafiti yang memeriahkan area perkampungan.

Kisah Kampung Bekelir yang Bangkit dari KekumuhanLukisan dinding di Kampung Bekelir. (Foto: CNN Indonesia/Fey)

Pak Sofyan menjelaskan bahwa kegiatan warga di perkampungan dibiarkan senyata mungkin. Jemuran pakaian yang menggantung di depan rumahpun tak jadi masalah.

Sesekali saya tergelitik melihat ulah anak-anak kecil bermain sepeda atau bola selagi memanfaatkan lahan sempit di sepanjang gang. Apalagi ketika saya menjumpai segerombolan anak-anak yang tak berkutat menonton layar handphone di suatu persimpangan gang.

Rupanya mereka sedang berburu akses internet yang disediakan untuk warga perkampungan.

Selagi menyaksikan kehidupan warga setempat, Pak Sofyan juga turut menceritakan kisah dibalik lahirnya Kampung Bekelir. Bagaimana kompak dan gigihnya warga dalam mencapai perubahan.

Warga Kampung Bekelir bahkan memiliki sistem menabung yang dijuluki 'Bank Sampah'.

Dengan mengumpulkan limbah rumah tangga yang berguna, warga dapat menukarkan limbah tersebut dengan sejumlah uang melalui Bank Sampah.

Nantinya limbah itu akan dimanfaatkan sebagai bahan untuk pertanian hidroponik maupun upaya daur ulang lain.

Berkat kegigihan tersebut, Kampung Bekelir masuk ke dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia sebagai pariwisata kreatif.

Walaupun hanya dipromosikan melalui media sosial dan mulut ke mulut, di tahun 2017 saja sudah ada lebih dari delapan negara yang mengunjungi Kampung Bekelir, salah satunya China dan Taipei.

Selain menyaksikan kehidupan warga, Bapak Sofyan menambahkan bahwa di malam hari wilayah samping sungai biasa dipenuhi kuliner khas Tangerang, seperti nasi ulam, emping jengkol dan sate godok.

Sayang saya tak sempat menyicipinya di hari itu. Mungkin suatu hari, saya akan kembali lagi untuk blusukan di Kampung ini.

(fey)