Tekan Sebaran Flu Babi, FAO Tekankan Pentingnya Biosekuriti

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 19:40 WIB
Tekan Sebaran Flu Babi, FAO Tekankan Pentingnya Biosekuriti ilustrasi babi (skeeze/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada 3 Agustus 2018, virus flu babi atau African Swaine Flu (ASF) dilaporkan ditemukan di China.

Virus ini pun menyebar dan menyebabkan industri daging babi di China pun terancam. Pada bulan September lalu China pun melaporkan adanya kasus ke-sembilan kasus karena infeksi virus flu babi.

Flu babi ini menyebabkan 38 ribu telah dimusnahkan oleh negara penghasil produsen daging babi terbesar dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB telah memperingatkan bahwa penyakit ini bisa menyebar ke negara-negara lain.



"Sangat penting untuk tiap kawasan agar siap segala kemungkinan nyata bahwa flu babi bisa melompati perbatasan ke negara lain," kata Wminee Kalpravidh dari FAO.

Mengutip Telegraph, penyakit ini sebenarnya tidak mematikan bagi manusia, namun tak ada vaksin yang bisa mencegah atau mengobati penyakit ini. Pencegahan utama adalah dengan pemusnahan.

"Flu babi memang tidak secara langsung membahayakan manusia. Namun serangan ASF dapat merusak perdagangan, menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dan mengancam keamanan pangan," ungkap Ian Dacre, Deputi Regional Manager FAO dalam presentasinya yang berjudul: Risk of Transboundary Animal Disease in Asia dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.

"Kita tahu Indonesia tidak mengimpor babi maupun produk-produknya. Tapi ASF ini termasuk virus yang kuat, bisa bertahan pada cuaca yang sangat panas maupun sangat dingin. Jadi virus bisa saja masuk ke Indonesia dari produk-produk daging babi yang dibawa para wisatawan asing," jelas Ian.

Untuk mencegah masuknya flu babi ke Indonesia, FAO melalui pusat darurat untuk Penyakit Hewan Lintas Batas (ECTAD) telah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China dalam menyiapkan rencana kontingensi ASF dan mengembangkan kapasitas diagnostik untuk menyelidiki, melacak situasi penyakit, penilaian risiko dan kesiapsiagaan darurat.


"Biosekuriti sangat krusial untuk mencegah ASF."

Direktorat Kesehatan Hewan dan Peternakan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian sendiri sudah melakukan berbagai investigasi wabah.

"Pelatihan investigasi wabah ini sangat penting. Karena saya perhatikan dalam beberapa tahun ini ketika menghadapi outbreak, laporan yang diberikan petugas selalu berbeda. Tidak ada standar," kata Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertaian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa.

Memang laporan bisa bervariasi bergantung karakteristik kasus, lokasi dan sebagainya. Akan tetapi ada substansi-substansi yang harus tetap ada disitu. Pendataan hewan, kemudian keadaan lingkungan, asal hewan dan sebagainya. Ini penting diterapkan." (chs)