Geopark Ciletuh Berhadapan dengan Masalah Klasik

CNN Indonesia | Minggu, 18/11/2018 12:20 WIB
Geopark Ciletuh Berhadapan dengan Masalah Klasik Wisatawan menikmati suasana Curug Cimarinjung (Foto: ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Sukabumi, CNN Indonesia -- Meski baru diperkenalkan kepada masyarakat sekitar tiga tahun silam, namun kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, telah membuat banyak orang penasaran dan berujung pada aktivitas wisata.

Puncaknya tercermin saat momen libur panjang dan cuti bersama Lebaran 2018, tepatnya pada pertengahan bulan Juni lalu. Diperkirakan jumlah wisatawan yang datang ke objek wisata di Kabupaten Sukabumi kemungkinan lebih dari 300 ribu orang.

Jumlah tersebut rasanya tidak berlebihan, pasalnya seorang Ranger di Curug Cimarinjung Alin Rustiawan masih memiliki data kunjungan pada momen libur panjang tersebut.


Menurutnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Cimarinjung mencapai 50 ribu orang.

"Wah itu mah, rame banget kang. Saya beserta tim sampai kewalahan menjaganya," ujar Alin saat dijumpai CNNIndonesia.com di Curug Cimarinjung, beberapa waktu lalu.

Hal serupa juga dialami oleh Taufik, Ranger di kawasan Mandrajaya sekaligus Ketua Kelompok Mayarakat Peduli Konservasi (Pokmasi), menurutnya pada musim liburan itu kawasan Pantai Palangpang yang berada di Teluk Ciletuh penuh oleh manusia.

Bahkan, ia menambahkan, para pengunjung banyak yang membuka tenda di pantai karena tidak kebagian homestay. Padahal menurut taufik, jumlah homestay yang ada di kawasan Ciletuh ada lebih dari 100 buah.

Taufik sepakat kalau kedatangan wisatawan di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, membawa dampak positif terhadap sisi perekonomian warga.

"(Warga) yang tadinya nganggur sekarang kerja jadi guide, yang dagang ikan juga non stop, buka penginapan, dan warung. Selain itu kami jadi punya wawasan dan kenalan dan sahabat baru, infrastruktur mulai diperhatikan," ujar Taufik, saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Teluk Ciletuh beberapa waktu lalu.

"Dulu sebelum ada pariwisata boro-boro ada jalan bagus, Puncak Darma gak ada jalannya. Jalan yang sekarang itu baru diresmikan tahun 2018. Dulu jalannya masih bebatuan perlu waktu tiga jam, tapi sekarang kalau lagi gak padat paling setengah jam."

Sebelum menjadi Ranger, Taufik mengaku profesinya adalah penyelam yang mengeksploitasi lingkungan untuk mencari ikan hias. Baginya penggunaan potasium untuk mencari ikan hias adalah hal yang lumrah.

Hal itu tentunya merusak ekosistem bawah air. Menurutnya kondisi Teluk Ciletuh sempat kritis pada tahun 2000-2005.

"Dari situ kita sadar, gimana bisa mendapatkan ikan yang banyak kalau ekosistemnya rusak. Setelah itu kami coba membangun kelompok konservasi setelah mendapat saran dari Dinas Kelautan dan Perikanan, di sana kami diberi pelatihan tentang mengelola alam," ujarnya.

"Intinya yang tadinya suka merusak, akhirnya menjadi melindungi dan merehabilitasi. Alhamdulillah terus berjalan hingga saat ini."

Saat ini Taufik beserta anggota kelompok Pokmasi, giat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan menjaga kelestarian kawasan Teluk Ciletuh.

Bahkan beberapa program utama Pokmasi seperti transplantasi terumbu karang, konservasi mangrove, dan vegetasi pantai menjadi atraksi wisata tersendiri.

Menurutnya tidak sedikit wisatawan yang tertarik untuk mengikuti kegiatan konservasi tersebut, khususnya penanaman terumbu karang. Hal ini akhirnya dimasukkan sebagai opsi dalam paket wisata ke pulau-pulau di sekitar Teluk Ciletuh.

Masalah usang dan tantangan

Ketua Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI), Endang Sutisna, menuturkan rasa prihatin akan kondisi alam di kawasan Panenjoan yang membimbingnya untuk melakukan upaya konservasi di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

Endang bersama kedua orang kawannya memulai kegiatan penghijauan sejak tahun 2012, tepatnya saat daerahnya memasuki musim kemarau.

"Bagi saya mengubah mindset masyarakat itu sangat susah. Kami sempat mendapat tentangan dari beberapa kepala desa dan kelompok masyarakat. Bahkan dulu kami sempat juga mau di demo oleh mui," kata Endang saat dijumpai CNNIndonesia.com, di sekretariat PAPSI, beberapa waktu lalu.

"Saya juga pernah 'dimusuhi' juga oleh pihak kecamatan, karena orang Provinsi dan Kabupaten datangnya ke PAPSI jika ingin data tentang Geopark. Mungkin di sana mereka tidak dapat, makanya ke sini."

Menurut Endang pelatihan yang diberikan oleh sebuah Badan Usaha Milik Negara yang memproduksi vaksin, membuat pihak PAPSI menjadi berkembang lebih pesat dalam segi sumber daya manusia.

Untuk mengubah pola pikir masyarakat, Endang melanjutkan, saat ini pihaknya fokus mengedukasi anak-anak usia sekolah dasar tentang konservasi dan kebersihan dari hal yang paling sederhana.

Karena menurutnya masih jauh lebih mudah mendidik anak-anak ketimbang yang sudah tua, selain itu nantinya orang tua juga akan mengikuti apa yang dikatakan anaknya karena rasa sayangnya.

"Saya berharap bisa mengubah mindset masyarakat tentang pentingnya konservasi. Karena percuma saja kalau PAPSI besar bahkan sampai kelas dunia, tapi kehidupan masyarakat kehidupannya tetap," ujar Endang.

"Selain itu saya juga berharap semoga Ciletuh tetap bisa bertahan masuk dalam jaringan geopark dunia, dan itu artinya harus kerja lebih ekstra. Jadi kalau ada perubahan ke arah negatif, pasti dicoret oleh UNESCO."

Masih soal pola pikir, General Manager Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu sekaligus Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi, Dana Budiman, mengatakan untuk mengubah pola pikir harus mengedukasi dan sosialisasi secara perlahan.

"Awal saya sering mendengar, masyarakat ketakutan hanya jadi penoton. Tapi saya katakan justru mereka harus menjadi pemain utama, caranya begini begini begini," ujar Dana

Terkait pungli parkir, Dana mengaku jika hal itu memang ada di beberapa kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

Untuk mengatasinya, pemerintah harus terlebih dulu menyediakan lahan parkir agar bisa segera menerapkan retribusi terkait parkir.

Karena jika Pemerintah Daerah (Pemda) tidak membeli kawasan, ia menambahkan, maka warga akan marah.

Menurutnya pemeritah 'mengambil' kawasan utama, dalam rangka pelayanan pulik berupa fasilitas umum demi menghindari eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu.

Untuk masalah sampah, Geopark Ciletuh-Palabuhanratu juga tidak luput dari problematika klasik ini. Sebagai gambaran, Alin menjelaskan jika dulu sampah berserakan di sepanjang jalur Curug Cimarinjung sampai ke Puncak Darma. Bahkan sampai sekarang pun jika sedang ramai wisatawan, sampah juga masih bertebaran.

Hal senada juga disampaikan oleh pemilik penginapan yang lokasinya tidak jauh dari Curug Cimarinjung, Andri Nugroho.

Menurutnya sebaiknya 'retribusi' masuk ke kawasan wisata sudah disertai wadah untuk membawa pulang sampah, entah itu berupa kantong plastik atau yang lainnya.

(agr/agr)