Peristiwa Pembunuhan, Potret Hilangnya Kontrol Superego

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 09:58 WIB
Peristiwa Pembunuhan, Potret Hilangnya Kontrol Superego Kasus pembunuhan satu keluarga, sebagaimana terjadi di Bekasi, menjadi potret hilangnya kontrol superego pada manusia. (Istockphoto/aradaphotography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa hari ke belakang, publik diramaikan oleh peristiwa pembunuhan keluarga di kawasan Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat. Satu keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan bahkan dua orang anak menjadi korban dalam peristiwa nahas tersebut.

Peristiwa pembunuhan keluarga yang melibatkan anak-anak bukan barang baru. Masih segar di ingatan masyarakat akan peristiwa perampokan sekaligus pembunuhan di kawasan Pulomas, Jakarta Timur, pada penghujung 2016 lalu.

Kedua peristiwa itu memperlihatkan sisi keji manusia. Psikolog Veronica Adesla melihat tindakan pembunuhan tersebut memperlihatkan pelaku hanya berfokus pada pemuasan atau pemenuhan dorongan emosi yang tidak manusiawi dan menyebabkan kehancuran.



"Apa yang didapatkan pelaku dari membunuh adalah kepuasan telah melampiaskan dorongan emosi dan mendapatkan apa yang mereka inginkan," ujar Veronica melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, Rabu (14/11).

Dalam konteks psikologi, seseorang yang melakukan perbuatan jahat artinya berada dalam kondisi di mana superego tak lagi menjadi kontrol atas keputusan-keputusannya. Superego merupakan norma-norma agama, kasih sayang, serta segala hal yang memanusiakan manusia.

Psikolog Melly Puspita Sari mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi si pelaku sebenarnya memiliki jalan keluar, meski memakan waktu yang tak sebentar.


Meski belum diketahui pasti motif yang melatarbelakangi, tapi niat membunuh, kata Melly, biasanya muncul terencana. Artinya, ada masalah yang dialami pelaku pembunuhan. "Menurut dia sudah enggak ada jalan keluar lagi selain menghabisi orang lain," kata dia saat dihubungi terpisah.

Indikasi gangguan mental

Tak menutup kemungkinan adanya indikasi gangguan mental dalam kasus-kasus pembunuhan. Seseorang yang telah melakukan pembunuhan lebih dari sekali, ujar Veronica, bisa terindikasi gangguan mental. Apalagi jika pelaku menikmati kala melakukan pembunuhan.

Gangguan mental jenis itu biasanya berputar di sekitar psikopat atau sadistic personality disorder.


Kendati demikian, bukan berarti setiap pelaku pembunuhan menderita gangguan mental. Beberapa juga melakukannya tanpa perlu ada gangguan mental yang diderita. "Berdasarkan jurnal-jurnal penelitian yang saya baca, kebanyakan pelaku pembunuhan terbukti melakukannya secara sadar," kata Veronica.

Dampak sekunder

Baik pembunuhan karena gangguan mental atau bukan, tetap saja perbuatan jenis ini menimbulkan kehancuran pada korban sekunder seperti keluarga korban. Pembunuhan juga mengakibatkan duka jangka panjang yang bisa berujung pada gangguan stres, depresi, dan pasca-trauma berat pada korban sekunder.

Korban sekunder, kata Veronica, harus mendapatkan perhatian dan pendampingan penuh serta menyeluruh baik secara psikologis maupun fisik. (els/asr)