Alasan Harus Minum Antibiotik Sampai Habis

CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 19:38 WIB
Alasan Harus Minum Antibiotik Sampai Habis ilustrasi antibiotik (Istockphoto/ayo888)
Jakarta, CNN Indonesia -- Obat sering jadi tumpuan harapan akan kesembuhan penyakit, termasuk antibiotik. Namun, acap kali orang abai atas saran dokter, salah satunya untuk minum antibiotik hingga habis.

Merasa kondisi badan sudah membaik, antibiotik yang tersisa malah tak lagi diminum. Padahal, kebiasaan ini sama sekali tak boleh dilakukan.

Konsultan penyakit tropik infeksi RS Ciptomangunkusumo, dr Erni Juwita Nelwan, mengatakan bahwa saat berobat, dokter akan menganalisis kondisi pasien. Dari sini, dokter menentukan obat serta antibiotik yang diperlukan.



"Jika (badan) sudah enakan, lalu setop (antibiotik), kuman akan bermutasi dan menjadi resisten. Sebaiknya minum obat sesuai aturan," ujar Erni saat diskusi media di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (15/11).

Kasus resistensi antibiotik kini tengah menjadi persoalan global dan tak bisa dianggap sepele. Jika bakteri resisten terhadap antibiotik, maka infeksi akan sulit disembuhkan.

Dampak resistensi antibiotik bisa fatal, bahkan hingga kematian sekali pun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa resistensi antibiotik menjadi penyebab dari 700 ribu kematian di dunia pada tahun 2017.

Tak cuma soal kebiasaan menyetop antibiotik secara sembarangan, kebiasaan orang untuk membeli obat yang sama secara bebas juga menjadi penyebab. Padahal, tak semua penyakit dan gejala yang sama bisa disembuhkan dengan obat yang sama pula.


Sebagai contoh, seseorang mendapatkan resep obat untuk jenis penyakit tertentu dari dokter. Di kemudian hari, saat seseorang itu merasakan gejala dan penyakit yang sama, lantas dia akan membeli obat serupa sebagaimana diresepkan dokter sebelumnya secara bebas tanpa meminta resep.

Erni menegaskan, pasien tidak diperkenankan membeli obat dengan resep yang sudah diterimanya sebelumnya. Artinya, satu resep berlaku untuk kasus yang dialami saat itu saja, apalagi jika resep mencantumkan antibiotik.

"Misal pasien mengalami demam. Demam ini bisa menghantarkan ke dalam 15-20 kemungkinan penyakit. Di sini mungkin cuma satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri," jelas Erni. Artinya, jenis obat juga akan berbeda.


Selain itu, ada pula penyakit yang bisa sembuh tanpa bantuan antibiotik. Penyakit-penyakit itu, di awal gejalanya, biasanya bisa disembuhkan dengan mengonsumsi obat simtomatik atau obat yang berfungsi untuk menghilangkan gejala.

Hadir dalam kesempatan serupa, ahli mikrobiologi, dr Anis Karuniawati menjamin bahwa dokter menganalisis pasien dan tahu betul racikan obat yang pas untuk kondisi pasien saat itu juga. Racikan obat dilihat dari dosis dan frekuensi konsumsi telah dirancang agar tepat sasaran pada bakteri atau kuman penyakit. Penting bagi pasien untuk patuh pada saran dokter.

"Dosis sekian dan jam (minum) untuk mengatur agar obat ada terus di aliran darah dan tepat sasaran. Jadi kalau terlewat atau lupa, jangan di-double pada hari berikutnya," ujar Anis. (els/asr)