Sepak Terjang Arief Yahya dari Dirut Telkom ke Menpar

Kemenpar, CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 18:03 WIB
Sepak Terjang Arief Yahya dari Dirut Telkom ke Menpar Menpar Arief Yahya. (Foto: Johanes Randy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pariwisata Arief Yahya meniti karier dari perusahaan pelat merah PT Telkom (Persero) Tbk. Ia kemudian dipercaya menjadi menteri pariwisata sejak 2014 lalu.

Arief baru saja menerima gelar Distinguished Honorary Fellow atau gelar insinyur kehormatan oleh ASEAN Federation of Engineer Organization (AFEO).

Sebelumnya ia juga mendapat gelar The Best Ministry Of Tourism atau Best National Tourism Organization (NTO) di ajang TTG Travel Awards 2018.


Arief Yahya lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 2 April 1961. Ia adalah anak dari pasangan H. Said Suhadi dan Hj. Siti Badriya. Arief Yahya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pedagang dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang aktif di organisasi keagamaan.


Diakui Arief, peran orang tua sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Ia juga banyak menyerap filosofi hidup dari sang ibunda. Dari ibunya, Arief juga tumbuh menjadi sosok yang tekun dan sederhana.

Berkat ketekunannya belajar di sekolah menengah, ia berhasil masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) pada usia 18 tahun. Di kampus ini, Arief Yahya mendapat gelar insinyur Teknik Elektro ITB dengan hasil sangat memuaskan.

Selepas kuliah di ITB, ia diterima bekerja di perusahaan besar pelat merah bidang telekomunikasi yakni, PT Telkom. Ia memulai karier di Telkom pada 1986 di usia 25 tahun.


Di Telkom Arief mendapatkan karyawan terbaik. Ia pun diganjar program beasiswa Master Telematika di Surrey University, Inggris.

Sepulangnya dari Inggris, karier Arief Yahya berkembang. Berbagai jabatan yang pernah ia jabat mulai dari Kepala Kantor Daerah Telekomunikasi (kandatel), Kepala Divisi Regional (Kadivre), Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia, hingga menjadi nomor satu dengan jabatan Direktur Utama PT Telkom.

Beberapa penghargaan pun disabetnya selama di Telkom, di antaranya The Best Kandatel (Kantor Daerah Telekomunikasi), Pemasaran telepon terbaik Telkom Jakarta, Kepala Divisi Regional (Kadivre) Terbaik The Best Sponsor Telkom Kalimantan.

Selain itu ada pula Kadivre Terbaik, Penghargaan Management War Room terbaik 2003, The Best Jalur Komando Award, dan Panglima Daerah VI Kalimantan.

Arief juga masuk dalam daftar '25 Business Future Leader', Economic Challenge Award 2012 kategori Industri Telekomunikasi, dan sebagai The CEO BUMN Inovatif Terbaik 2012.

Dari pemerintah, Arief juga diganjar penghargaan Satyalencana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dinilai berhasil dalam Peningkatan Pelayanan Prima di Kalimantan dan Jawa Timur.

Dua Proses Besar

Dia bilang, dalam buku terdapat ada dua proses besar untuk menggulirkan perubahan di dalam organisasi yang hebat yang disebut organisasi Good to Great.

Proses pertama adalah build up yang terdiri dari Level 5 Leadership, First Who then What, dan Confront the Brutal Facts. Proses kedua adalah breakthrough yang terdiri dari: Hedgehog Concept, Culture of Discipline, dan Technology Accelerators.

"Khusus mengenai First Who then What, banyak pemimpin yang lebih memilih pendekatan First What then Who. Mereka seringkali terjebak. Mereka sering mengatakan tetapkan visi, misi, dan strategi, baru kemudian dipilih orang-orangnya," katanya.

Selama 28 tahun berkarier di Telkom, Arief Yahya diminta Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pariwisata dalam Kabinet Kerja 2014-2019.

Mendapat tantangan di sektor pariwisata, Arief Yahya mendapat berbagai prestasi. Pariwisata menjadi tiga besar penyumbang devisa negara hingga akhirnya ditetapkan sebagai core economy oleh presiden.

Dia menuturkan hal pertama yang harus dilakukan oleh pemimpin hebat dalam memulai transformasi adalah menempatkan orang yang hebat di dalam 'bus'-nya. Menurutnya, pemimpin Good to Great menggunakan tiga prinsip dalam memulai sebuah proyek transformasi organisasi.

"Pertama, ia selalu memulai transformasi dengan 'siapa' daripada 'apa'. Hal ini memungkinkan si pemimpin untuk beradaptasi terhadap perubahan, se-ekstrem apapun perubahan yang dihadapi organisasi," katanya.


(mle/egp)