Budaya Nusantara Tampil di Parade Pelangi Budaya Belitung

Kemenpar, CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 18:02 WIB
Budaya Nusantara Tampil di Parade Pelangi Budaya Belitung Parade ini menempuh jarak iga kilometer dengan latar belakang panorama Belitung yang eksotis. (Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekayaan budaya Nusantara tersaji di Festival Tanjung Kelayang 2018 yang dikemas dengan Parade Pelangi Budaya. Ada Barongsai dan Liong hingga musik khas Bali. Parade Pelangi Budaya diikuti 40 peserta yang mayoritas merupakan produk asli Belitung. Meski ada juga perwakilan dari wilayah lain, seperti Boyolali, Kabupaten Bekasi, dan juga Jambi.

Parade ini menempuh jarak tiga kilometer, dengan backgroundnya panorama Belitung yang eksotis. Pemandangan itu terdiri dari pasir putih, birunya air laut, Pulau Lengkuas, hingga Batu Garuda. Suasana pun semakin meriah dengan pengunjung yang memadati rute Parade Pelangi Budaya yang sebelumnya diawali delegasi dari Boyolali.

"Kami menampilkan Buto Gedrug dan Topeng Ireng. Sebab, ini menjadi identitas Boyolali. Penampilan kami kali ini spesial untuk Festival Tanjung Kelayang. Tarian ini sudah dikembangkan jadi kreasi baru," ungkap Senior Sanggar Seni Krido Mudo Tarubatang Boyolali Andri Suryanto, dalam keterangan tertulis, Kamis (22/11/2018).



Menampilkan dua karakter berbeda, kehadiran Buto Gedrug dan Topeng Ireng mendapat apresiasi baik dari publik. Buto Gedrug merupakan potongan dari karakter kesenian jathilan yang disajikan melalui topeng, Buto Gedrug punya beberapa karakter. Topeng Buto Gedrug warna cokelat, memiliki hidung naga, karakter yang bernama Ludru ini melambangkan kasta bawah.

Berikutnya, ada topeng warna hijau ini bernama Belegur Mahkota yang menggambarkan para pemimpin. Ada juga warna topeng abu-abu atau Mata Leak yang jadi pendamping pemimpin. Tampil maksimal, Buto Gedrug dilengkapi kostum terbaik lengkap dengan krincing di kaki.

Andri pun menambahkan, konsep raksasa diadopsi total. Karakternya negatif, lalu dinetralisir sebagai karakter positif kuda lumping.

"Kami difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali. Di Boyolali terdapat lebih dari 500 grup tari. Jumlah penampil ada 12 penari. Ditampilkannya Buto Gedrug sebagai gambaran raksasa hutan dan karakternya negatif. Kalau di jathilan, karakter ini diimbangi energi positif dari kuda lumpingnya," kata Andri.




Lalu, bagaimana dengan Tari Topeng Ireng? Topeng Ireng memiliki filosofi 'Toto Lempeng Irama Kenceng'. Artinya, hidup ini harus lurus dan bersemangat untuk meraih cita-cita.

Ciri utama dari Topeng Ireng ini adalah mahkota dari bulu, yang melambangkan kesederhanaan. Kostum yang digunakan terdiri dari rampek dan sompyok, sedangkan warna yang diadopsi yaitu merah, biru, dan hitam dengan hiasan payet.

"Tari Topeng Ireng juga mengalami pembaruan kostum. Kalau dahulu, mahkota dan kostum memakai daun," ungkapnya lagi.

Selain Boyolali, Kabupaten Bekasi juga memajang potensinya melalui Tari Jaipong yang dibawakan oleh 5 penari wanita. Pesan yang ingin disampaikan merupakan citra positif Bekasi yang melestarikan tradisi dari leluhur.

Tari Jaipong versi Bekasi ini dikolaborasikan dengan Lagu Ronggeng Menor dan Kalang Sunda. Kabid Pemasaran Pariwisata Dispar Kabupaten Bekasi Tri Cahyani menuturkan, tari Jaipong tersebut terus dilestarikan.

"Festival Tanjung Kelayang ini penting. Pengunjungnya banyak, baik dari dalam dan luar negeri. Untuk itu, kami tampil di sini dengan Jaipong. Tarian ini terus dilestarikan dan di beberapa sekolah sudah jadi kelas khusus," ungkap Tri.

Festival Tanjung Kelayang yang digelar pada 15-16 November ini menjadi magnet efektif penarik wisatawan. Hingga hari Minggu, jumlah pengunjung mencapai sekitar 25.000 orang. Bahkan, jumlah wisnusnya ada di kisaran 4 ribu hingga 5 ribu orang, sedangkan wismannya beraga di rentang 750 sampai seribu orang.

Selain dua budaya tersebut, Parade Pelangi Budaya menampilkan beragam kekayaan nusantara misalnya Barongsai dan Liong, pencak silat plus debus, kuda lumping, hingga tarian juga musik khas Bali. Untuk event Senin (19/11), ada ekshibishi layang-layang internasional. Selain masyarakat lokal, peserta lain pun datang dari berbagai negara, seperti Polandia, Swedia, juga Singapura.

Sukses memberikan kesegaran festival Tanjung Kelayang, konsep Parade Pelangi Budaya diapresiasi oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Ia menerangkan, Belitung diuntungkan dengan penyelenggaraan Festival Tanjung Kelayang ini.

"Festival ini memberikan impact positif besar. Jumlah kunjungan wisatan besar, lalu ada value secara ekonomi. Kami gembira karena penyelenggaraan festival ini sukses. Namun, inovasi dan evaluasi tetap harus diberikan. Agar festival tahun depan lebih bagus lagi," tutup Menteri yang sukses membawa Kemenpar No. 1 dan menjadi #TheBestMinistryOfTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok. (mle/egp)