'Menyelamatkan' Anak dari Perceraian Orang Tua

CNN Indonesia | Sabtu, 24/11/2018 16:56 WIB
'Menyelamatkan' Anak dari Perceraian Orang Tua ilustrasi keluarga (mario0107/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar perceraian Gading Marten dengan Gisella Anastasia menarik simpati publik terhadap anak mereka, Gempita Nora Marten. Netizen bahkan menggemakan tagar untuk menyelamatkan Gempita yang akrab disapa Gempi dengan #SaveGempi.

Netizen tampaknya tak ingin masa depan Gempi hancur meski pernikahan kedua orang tuanya sudah di ambang perpisahan.

Psikolog anak, Ratih Zulhaqqi mengatakan, anak dari orang tua yang bercerai bisa diselamatkan. Dia juga masih bisa mendapatkan perhatian yang sama dengan anak-anak dari orang tua yang tidak bercerai.


Kita mengenal istilah 'broken home'. Istilah itu merujuk pada rumah tangga yang rusak dan 'broken marriage' untuk menjelaskan pernikahan yang rusak. Namun, kata Ratih, 'broken marriage' tak selalu berujung pada 'broken home'. Artinya, anak masih bisa terselamatkan.


"Orang di dalam pernikahan juga bisa broken home kalau tidak ada cinta dan ikatan yang positif. Broken marriage pun belum tentu broken home. Artinya, Gempi bisa tidak merasakan broken home, hanya orang tuanya saja yang broken marriage," kata Ratih kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/11).

Psikolog asal Universitas Indonesia ini menyebut, peranan orang tua yang sudah bercerai penting untuk membuat anak agar tidak merasa broken home. Orang tua harus mampu membedakan peran mereka sebagai orang yang mengasuh anak dengan suami istri yang sudah bercerai.

"Kalau sudah bercerai bukan berarti pengasuhan tidak maksimal. Peran sebagai orang tua berbeda dengan suami-istri, orang tua harus bertanggung jawab untuk pengasuhan anak," ujar Ratih.


Ratih menegaskan, anak tak boleh mendapatkan imbas dari perceraian orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua harus tetap profesional meskipun tak lagi berstatus suami dan istri.

Dalam urusan anak, orang tua diminta untuk mengesampingkan masalah hati ketika berinteraksi soal anak. Tak jarang orang tua mesti bermain peran untuk tumbuh kembang anak.

"Tidak boleh campur-adukkan urusan hati dengan anak. Misalnya, kalau sedang bersama, ya sudah berperan (sebagai orang tua) saja," tutur Ratih. (asr)