Milenial dan Teknologi, Tantangan Memajukan Wisata Indonesia

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 19:11 WIB
Milenial dan Teknologi, Tantangan Memajukan Wisata Indonesia Ilustrasi transaksi elektronik. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sektor pariwisata merupakan salah satu lini yang dibidik sebagai penyumbang devisa bagi Indonesia. Menyambut datangnya tahun 2019, sektor pariwisata dirasa harus bersinergi dengan unsur teknologi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, mengatakan selain teknologi ada satu hal lain yang berperan penting dalam sektor pariwisata yakni regulasi.

"Regulasi dan teknologi dalam pariwisata sangatlah penting, karena mempengaruhi bisnisnya," ujar Menpar Arief, saat membuka acara Indonesia Tourism Outlook 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Selasa (27/11).


"Untuk itu jika ingin bersaing lakukanlah deregulasi karena tantangannya saat ini adalah kecepatan," lanjutnya.

Revolusi industri, Arief melanjutkan, juga memberikan dampak yang besar bagi industri pariwisata.

"Jika dalam teknologi istilahnya adalah common platform, tapi dalam ekonomi istilahnya sharing economy. Hal ini juga berlaku dalam industri pariwisata," katanya.

Menurut Arief saat ini pariwisata tergantung dengan teknologi digital dan segementasi pasar kaum milenial--mengingat 50 persen wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia adalah milenial.

"Harus saya akui saat ini Kementerian Pariwisata sendiri masih belum membuat acara yang ramah milenial. Mungkin tahun depan saya akan mengajukan Calendar of Event khusus milenial, yang akan memenuhi esteem need," ujar Arief.

Sementara itu Destination Marketing North-Asia Tripadvisor, Gary Cheng, menuturkan untuk menarget wisatawan milenial sebaiknya tidak mengubah konten festival.

Karena menurutnya wisatawan milenial juga masih tertarik dengan pengalaman yang akan didapat dari sebuah tempat atau acara.

Terkait tahun 2019 yang disebut-sebut sebagai tahun pemilu, Arief memprediksi hal itu tidak akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan juga wisatawan nusantara.

"Berdasarkan data empiris, saat pilkada Jakarta tidak memengaruhi jumlah kunjungan. Karena yang memengaruhi adalah bencana," katanya.

(agr/ard)