'Hantu-Hantu' Pariwisata di Bali

Ardita Mustafa & agr, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 06:34 WIB
'Hantu-Hantu' Pariwisata di Bali Arak-arakan Ogoh-Ogoh saat Hari Raya Nyepi di Bali. (AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maklum adalah kata pertama yang muncul saat kaki mendaratkan kaki ke Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Maklum dengan antrean keluar pesawat, antrean pengambilan bagasi, sampai antrean keluar bandara.

Kemakluman juga masih harus dirasakan saat mengantre masuk ke restoran atau kelab malam di Pulau Dewata. Maklum saja, Bali memang menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, sehingga jutaan turis datang ke sini setiap tahunnya.

Pertemuan IMF-Bank Dunia pada 8-14 Oktober 2018 di Bali bukan satu-satunya momen yang membuat Pulau Dewata menjadi sorotan dunia.


Jauh sebelum itu, Bali sudah sering menjadi pemberitaan, mulai dari kunjungan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sampai sejumlah artis Hollywood dan Kpop.

Bagi turis yang gemar pantai, pesta dan belanja, Bali ialah destinasi wisata yang wajib dikunjungi dan bakal didatanginya kembali.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat, sepanjang tahun 2017 jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali sebanyak 5,7 juta dari target awal 5,5 juta. Jumlah tersebut naik 16 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni 4,92 juta.

Jangan lupakan juga potensi wisatawan domestik, yang jumlah kedatangannya ke Bali mencapai 8,7 juta sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut "naik tipis" 1,6 persen dari tahun sebelumnya yakni 8,6 juta.

Secara total Bali telah dikunjungi sebanyak 14,4 juta orang dari dalam dan luar negeri pada tahun 2017.

Total kunjungan tersebut sudah termasuk masa saat Bali dilanda bencana alam letusan Gunung Agung pada akhir tahun yang lalu.

Meski tak turun signifikan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyatakan bahwa total kunjungan wisman ke Bali tersebut memengaruhi turunnya total kunjungan wisman ke Indonesia pada 2017, dari 15 juta menjadi 14,05 juta.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan kalau Bali memang masih mewakili wajah pariwisata Indonesia.

Wisman menganggap kalau Bali sedang tak bisa dikunjungi, begitu juga dengan Indonesia secara keseluruhan. Anggapan tersebut membuat destinasi wisata lain sepi wisman saat Gunung Agung bergejolak.

"Bali menyumbang sekitar 40 persen dari total kunjungan wisman ke Indonesia. Kalau ada travel warning ke Bali, impact-nya tidak akan ke Bali saja tetapi juga Indonesia," kata Arief dalam Rakornas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akhir tahun lalu.

Sementara Kemenpar berharap didatangi wisman sebanyak 17 juta pada tahun ini, Bali menargetkan sebanyak 6,5 juta wisman datang.

[Gambas:Instagram]

Prediksi Ledakan

Sebagai informasi, Pulau Dewata merupakan kepulauan yang "hanya" seluas 5.780 kilometer (km) persegi dengan total populasi sebanyak 4,2 juta.

Dari hitung-hitungan sederhana saja jumlah wisman yang datang sudah dua kali lipat dari jumlah penduduk Bali. Belum lagi ditambah dengan jumlah wisatawan domestik.

Ukuran pulau tersebut memang lebih "mini" dari Jakarta, tapi ingatlah bahwa setiap harinya Bali didatangi oleh 15 ribu wisman. Jumlah tersebut tercatat turun seribu saat letusan Gunung Agung terjadi.

Overtourism atau ledakan jumlah turis kini membayangi Bali, apalagi setelah banyak destinasi wisata di negara tetangga--seperti Thailand dan Spanyol, mengeluhkan masalah serupa.

Kepala Laboratorium Pariwisata Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, Annisa Pratiwi, mengatakan kalau mengacu pada fakta tersebut maka Bali sah overtourism.

"Mungkin kalau di Bali, selain macet dan sampah, ada perilaku wisatawan yang kurang menghormati adat dan budaya setempat. Jadi saya lihatnya Bali itu udah overtourism dari sisi lingkungan dan budaya juga," ujar Annisa saat dihubungi CNNIndonesia.com, melalui sambungan telepon pada pekan lalu.

Untuk mengatasinya, ia melanjutkan, diperlukan keberanian dari pemerintah baik pusat maupun daerah.

"Kesalahan pemerintah kita adalah tidak punya transportasi umum yang memadai, seperti metro atau trem. Bali, Jakarta, dan kota-kota besar di Indonesia itu memang sudah parah, karena tidak memikirkan konsep transportasi umum terlebih dahulu," lanjutnya.

Terkait soal overtourism, ia menambahkan, ada kemungkinan masyarakat di Bali menolak kehadiran wisatawan karena kepadatan.

Untuk hal ini ia mengacu pada teori dari Doxey, tentang tahapan sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan.

Menurutnya saat ini Bali sudah sampai tahap Irritation atau Annoyance, di mana masyarakat mulai terganggu dengan kehadiran wisatawan.

Tahap Annoyance adalah titik jenus sebelum menuju fase selanjutnya yakni Antagonism.

Pada fase Antagonism, masyarakat secara terbuka menunjukkan ketidaksenangannya dan melihat wisatawan sebagai sumber masalah.

"(Saat ini) mereka merasa kalau perilaku wisatawan sudah tidak benar. Untuk mencapai level selanjutnya, tidak ada yang bisa memprediksi. Apakah lima tahun lagi, 10 tahun, atau bahkan setahun lagi? Itu semua tergantung dari wisatawan, warga, dan pemerintah setempat," ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan, dampak lebih buruk dari overtourism adalah sex tourism. Seperti yang sudah terjadi di Pataya atau Phuket, Thailand.

[Gambas:Instagram]

Sampah dan Macet

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bali, Dewa Ayu Laksmiadi Janapriati, mengakui kekhawatiran akan overtourism di Bali juga dirasakan pihaknya.

Ia pun membenarkan kalau overtourism sudah terjadi di Bali. 

Dikatakannya ada dua masalah utama yang "menghantui" Bali terkait ledakan jumlah turis, yakni sampah dan kemacetan.

"Dua masalah ini butuh perhatian pemerintah. Mungkin saat ada ajang internasional tertangani, tapi saat tidak ada tak pernah tertangani," kata Laksmi kepada CNNIndonesia.com di Bali pada 5 September 2018.

"Bali perlu diperhatikan lebih intens, lebih fokus. Mau menambah pulau tidak mungkin, karena reklamasi sudah bikin ribut. Bali perlu perhatian juga dari pemerintah pusat. Kalau tidak dikontrol pariwisatanya akan hancur," lanjutnya.

Mengenai sampah, Laksmi menjelaskan kalau pantai-pantai di Bali menjadi salah satu pelabuhan dari sampah-sampah yang terbuang di lautan.

Namun dirinya optimis Bali bisa menanggulangi hal tersebut di masa depan, asal ada kekompakan antar pemerintah Bali dan dukungan dari pemerintah pusat.

"Jutaan turis datang tapi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya ada ada beberapa. Mau membangun yang baru tapi ada masyarakat yang enggan pemukimannya memiliki TPA karena menganggap TPA beraura negatif," ujar Laksmi.

"Memang ada komunitas peduli lingkungan, tapi pemikiran kuno macam itu yang menghambat. Kalau tidak ada solusi atas hal itu maka masalah sampah di Bali tak akan selesai," lanjutnya.

Sementara itu mengenai masalah kemacetan, Laksmi berpendapat kalau industri wisata Bali perlu membuka investasi ke kawasan baru.

Bali memiliki delapan kabupaten dan satu kota, namun kata Laksmi kawasan utara belum tergarap, sehingga kemacetan hanya berputar di kawasan populer seperti Kuta dan Seminyak.

"Jumlah 5 juta turis sudah ideal untuk Bali. Tapi kami tak mungkin membatasi jumlah turis karena ada target dari pemerintah pusat. Pengembangan objek wisata baru bisa jadi solusinya agar turis menyebar tak berpusat di satu titik," kata Laksmi.

"Rencananya ada 127 desa wisata yang akan dikembangkan. Kami memang inginnya pengembangan yang berbasis ekonomi kerakyatan, sehingga kedatangan turis memberi dampak langsung ke masyarakat Bali," lanjutnya.

Overtourism juga terkadang berbanding lurus dengan kejenuhan pasar.

Destinasi wisata yang dulunya ramai bisa saja sepi karena turis tak datang bolak-balik.

Menanggapi ancaman kejenuhan turis akan Bali, Laksmi menyarankan agar pelaku industri pariwisata di Bali selalu kreatif dalam memberikan promosi dan tak meninggalkan identitas tradisi Bali dalam bisnisnya.

"Pariwisata Bali adalah pariwisata budaya. Kami tak bisa mengubahnya menjadi 100 persen modern atau 100 persen syariah. Itu tak mungkin, karena kami menjunjung tinggi budaya Bali yang menjadi warisan leluhur masyarakat Bali," pungkasnya.

[Gambas:Instagram]

(ard/asa)