Kemenpar Ajak Para Pelaku Wisata ke Desa Wisata di Samosir

Kemenpar, CNN Indonesia | Sabtu, 01/12/2018 22:32 WIB
Kemenpar Ajak Para Pelaku Wisata ke Desa Wisata di Samosir Seluruh peserta diajak menyeberangi Danau Toba menggunakan kapal khusus penumpang untuk mengunjungi dua desa wisata di Pulau Samosir. (Dok. Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keseruan Familiarization Trip (Famtrip) Promosi Destinasi Prioritas Danau Toba di Medan dan sekitarnya berlanjut. Pada hari kedua, seluruh peserta yang merupakan travel agent dan travel operator diajak menyeberangi Danau Toba menggunakan kapal khusus penumpang untuk mengunjungi dua desa wisata di Pulau Samosir.

Huta Siallagan, Desa Ambarita jadi pemberhentian pertama. Di desa ini, para peserta diajak mengenal rumah adat khas Batak Toba, lengkap dengan atributnya.

"Jadi rumah-rumah adat yang ada di Siallagan ini sudah tidak terlalu asli karena bagian atapnya terbuat dari seng. Seharusnya dari ijuk. Tetapi, bagian lain dari rumah-rumah ini masih asli. Kayu-kayu yang digunakan tidak berubah," terang Gading yang merupakan pemandu sekaligus keturunan ke-7 dari Raja Siallagan, seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/12).



Menariknya, peserta famtrip juga bisa melihat bagian dalam rumah adat Batak. Mereka pun mendapatkan pengetahuan mengenai kehidupan masyarakatnya, khususnya di Huta Siallagan.

Usai menerangkan budaya Batak, Gading lantas mengajak seluruh peserta famtrip untuk Manortor alias menari Tor Tor bersama-sama. Tak ketinggalan dengan iringan boneka legendaris, Sigale-Gale.

"Semua pakai ulos, kemudian ikuti gerakan saya. Kita manortor bersama-sama," ajak Gading.

Ajakan ini disambut sangat antusias oleh para peserta famtrip. Dengan penuh canda, mereka mengikuti setiap gerakan. Atraksi manortor bersama ini sukses menarik wisatawan mancanegara yang sedang berada di Huta Siallagan.

Namun, menari dengan Sigale-Gale ini bukan akhir dari perjalanan. Peserta kemudian dikenalkan dengan hukum adat yang berlaku di masa lalu, termasuk hukum pancung.

"Kesalahan tentu berbeda. Kesalahan kecil bisa dimaafkan. Atau ada juga ganti rugi. Tapi kejahatan berat tentu akan mendapatkan hukuman berat. Lesalahan yang tidak bisa diampuni akan berakibat hukum pancung," jelasnya.



Dari Ambarita, perjalanan dilanjutkan ke Desa Tomok. Dari Pelabuhan Tomok, para peserta famtrip diajak mengunjungi Makam Raja Sidabutar. Namun, peserta tidak berada lama di sini. Setelah mendapatkan panduan dari guide Yanti Purba, rombongan langsung bergeser kembali.

Bagi Kepala Sub Bidang Pemasaran Area I Regional I Kementerian Pariwisata Alfin Merancia, kunjungan ke dua desa di Ambarita dan Tomok sangat bermanfaat. Peserta famtrip bisa melihat langsung destinasi yang akan ditawarkan ke wisatawan.

"Kebudayaan Batak yang mereka dapatkan sangat lengkap. Dari unsur rumah adat, budaya, dan juga perjalanan sejarahnya. Lebih menyenangkan, di dua desa wisata yang kita kunjungi ada wisatawan mancanegaranya. Hal ini bisa meyakinkan travel agent jika Danau Toba memang sangat potensial," paparnya.

Dijelaskan Alfin, pariwisata turut mengubah pola pikir masyarakat. Mereka lebih kreatif untuk menjaring wisatawan.

"Seperti tari Tor Tor dan Sigale-Gale kini banyak pilihan. Karena masyarakat sudah menjadikannya sebagai atraksi untuk menjaring wisatawan. Kita pun berharap dengan cara ini budaya Batak tetap terjaga dan semakin dikenal," katanya.

Dukungan juga diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya.

"Budaya itu semakin dilestarikan akan semakin menghasilkan. Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata mendukung upaya mengenalkan budaya Batak. Khususnya sekitar Danau Toba," kata Arief. (mle/egp)