Di Balik Ambisi London jadi Kota Taman Pertama di Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 05/12/2018 16:05 WIB
Di Balik Ambisi London jadi Kota Taman Pertama di Dunia Hyde Park, taman paling luas di London, menjadi area terbuka yang digunakan masyarakat untuk bersantai, mulai dari olah raga hingga konser musik. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ambisius, begitu kira-kira yang bisa digambarkan dari impian Daniel Raven Ellison, mantan guru Geografi yang berbasis di London, Inggris.

Ia mengidamkan London bakal jadi National Park City alias kota taman nasional pertama di dunia. Bagaimana tidak ambisius? Sulit membayangkan gedung-gedung tinggi di kota metropolitan itu digantikan dengan pohon-pohon besar dan beton-beton yang menutupi jalan digantikan dengan hamparan rumput hijau.

Akan tetapi, status 'kota taman nasional' ini bukan soal mengubah wajah kota. Ini lebih soal pola pikir warganya.


"London tak cuma sekadar kota, ini adalah lanskap. Ini lanskap yang menjadi rumah bagi hampir 9 juta penduduk, tetapi juga ada banyak pohon. Kita berbagi kota ini dengan 15 ribu lebih spesies liar lain dan saya tidak berpikir bahwa kehidupan urban kurang bernilai daripada kehidupan yang kita lihat mungkin di tempat-tempat yang lebih jauh dari kota-kota," ujar Raven-Ellison dikutip dari CNN pada Senin (3/12).

Impiannya bermula dari tulisan Raven-Ellison yang diunggah di blog miliknya pada lima tahun yang lalu. Rupanya banyak yang sejalan dengan impiannya.

Dukungan mengalir hingga terkumpul pundi sebanyak lebih dari 32ribu poundsterling atau lebih dari Rp500 juta.

Tak hanya itu, dukungan pun datang dari walikota London, Sadiq Khan. Agustus lalu ia mengumumkan rencana untuk membantu permodalan.

Raven-Ellison pun mengkonfirmasi bahwa status 'kota taman nasional' ditargetkan tercapai pada Juli 2019.

Rencananya lebih dari separuh London akan dijadikan area hijau dengan menggunakan atap hijau dan tembok berlapis rumput dan tanaman.

Harapannya langkah itu akan mencegah banjir dan menjadi rumah bagi kehidupan liar.

Sejauh ini, sebanyak 47 persen lanskap London sudah hijau termasuk area taman, lapangan golf dan habitat alami hewan.

Sebanyak 18 persen area kota merupakan taman umum.

[Gambas:Instagram]

Tersandung Masalah Polusi

Satu 'pekerjaan rumah' terbesar untuk mewujudkan kota taman di London adalah polusi udara. Kota ini harus mengeluarkan biaya jutaan poundsterling untuk membersihkan polusi udara.

Udara London banyak mengandung nitrogen dioxide yang kebanyakan dihasilkan oleh emisi gas buang kendaraan.

Polusi bisa saja jadi hambatan besar demi meraih status 'kota taman nasional'. Namun Raven-Ellison menganggap status ini mampu mendorong orang London untuk lebih peduli akan lingkungan sekitarnya.

"Saat saya memulainya, banyak orang berpikir bahwa saya cukup gila. Tapi meski ini menghabiskan lima detik, lima menit, atau lima bulan, orang sudah sadar terhadap ide besar ini yang dapat benar-benar meningkatkan kehidupan di London," kata dia.

Di sisi lain, Robert Cowley, dosen studi tata kota berkelanjutan di King's College London mengatakan bahwa ide itu tidak akan mengubah London secara drastis, Namun lebih soal apa yang harus dilakukan dengan label 'kota hijau'.

"Ini mungkin akan mengembangkan beberapa tempat, tetapi di sisi lain, Anda tidak akan pernah tahu inisiatif baru apa yang akan muncul dengan efek yang lebih luas. Ini layak dicoba," kata Cowley.

Ide Raven-Ellison ini didukung oleh National City Park Foundation.

Organisasi nirlaba ini juga memperluas aksi di kota lain seperti Adelaide, Glasgow dan San Francisco.

[Gambas:Instagram]

(els/ard)