Gejolak Politik Guncang Industri Pariwisata Sri Lanka

REUTERS, CNN Indonesia | Sabtu, 08/12/2018 06:11 WIB
Gejolak Politik Guncang Industri Pariwisata Sri Lanka Objek wisata Sigiriya di Sri Lanka. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri perjalanan Sri Lanka dihantui gejolak politik di tengah musim turis pada akhir tahun ini.

Pariwisata menyumbang pendapatan negara sekitar 5 persen, namun pemecatan perdana menteri membuat situasi politik di Sri Lanka menjadi tak menentu sehingga banyak turis membatalkan rencana perjalanan wisatanya.

"Kami mencatat sudah terjadi pembatalan sebanyak 20 persen," kata Chandra Mohotti, manajer Hotel Galle Face, hotel mewah dengan 200 kamar yang berlokasi di ibukota Kolombo.


"Biasanya hotel kami penuh di musim liburan akhir tahun. Kami sampai menawarkan diskon karena takut banyak kamar yang kosong."

Musim turis untuk turis dari Eropa--yang menjadi sumber kedatangan utama bersama dengan India dan Cina, biasanya berlangsung mulai bulan Desember hingga Maret.

Namun hingga pekan ini banyak turis dari Eropa yang melakukan pembatalan, seperti yang dikatakan oleh seorang sumber dari maskapai pelat merah Sri Lanka, SriLankan Airlines, kepada Reuters pada Jumat (7/12).

"Gejolak politik yang terjadi di Sri Lanka terjadi tepat saat turis memutuskan hendak menghabiskan waktu untuk berlibur," kata sang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Mahinda Rajapaksa, yang menggantikan Ranil Wickremesinghe sebagai Perdana Menteri Sri Lanka tidak didukung kelompok politik mayoritas di parlemen dan gagal memimpin negara. Hal itu berakibat pembuatan anggaran 2019 tertunda yang berujung pada kekacauan di parlemen.

Masih terlalu dini untuk menghitung jumlah kerugian yang disebabkan oleh kekacauan politik Sri Lanka pekan ini.

Tapi tercatat bahwa jumlah turis yang datang ke negara tersebut naik sebanyak 16,8 persen pada November tahun ini, berikut jumlah turis dari Eropa tercatat naik 37 persen, meskipun jumlah dari China, Jepang, Timur Tengah, dan Asia Tenggara tak mengalami kenaikan signifikan.

Tahun lalu, lebih dari 2,1 juta orang mengunjungi Sri Lanka, seperti yang dikatakan oleh Badan Pariwisata Sri Lanka.

Selain perjalanan wisata, perjalanan bisnis ikut terpukul oleh krisis politik ini, dengan fakta bahwa banyak perusahaan memindahkan pertemuan ke tempat lain di Asia Tenggara.

"Ada beberapa pembatalan dan beberapa telah bergeser ke Singapura dan Indonesia," kata Sanath Ukwatte, Ketua Asosiasi Hotel Sri Lanka, yang juga mengatakan bahwa sektor gedung pertemuan dan pameran ikut merugi.

Harith Perera, Ketua Asosiasi Tur Operator Inbound Sri Lanka, mengatakan ia juga mulai mengetahui banyak pembatalan di sektor korporasi.

"Saat ini pemesanan semakin berkurang dan ini menjadi kekhawatiran," katanya.

"Jika krisis saat ini berlarut-larut, maka dampaknya akan signifikan. Pembatalan tidak hanya dari turis Eropa, tetapi dari mana-mana." (ard)