Cegah Kanker Usus Besar dengan Deteksi Dini

CNN Indonesia | Jumat, 14/12/2018 18:48 WIB
Cegah Kanker Usus Besar dengan Deteksi Dini Ilustrasi (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kanker usus besar merupakan satu dari sedikit jenis kanker yang dapat dicegah dan dideteksi dini. Penyakit yang juga dikenal dengan kanker kolon atau kolorektum ini dapat diketahui sejak awal melalui tanda dan gejala yang muncul pada tubuh.

Kanker usus besar kini merupakan kanker paling banyak di dunia setelah kanker paru dan payudara. Data global menyebut, kanker usus besar menyerang 1,8 juta orang di seluruh dunia. Kanker ini menjadi penyebab kematian kedua terbanyak setelah kanker paru.

"Kanker usus besar bisa dicegah dan semakin dini ditemukan bisa terhindar dari berbagai akibat yang fatal dan bisa diselamatkan," kata ahli penyakit dalam, dr Ari Fachrial Syam, saat peluncuran aplikasi Apa Kata Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Kamis (6/12).



Kanker kerap menyerang usus besar ketimbang usus halus atau usus 12 jari. Pasalnya, kata Ari, pada usus besar, kotoran akan disimpan dan menetap dalam waktu yang lama. Proses terpapar oleh kotoran inilah yang membuat usus besar lebih rentan terkena kanker.

Meski lebih rentan, kanker pada usus besar berkembang dalam jangka waktu yang lama. Ari menyebut, sebelum menjadi kanker biasanya akan muncul polip atau tumor. Polip mesti diangkat karena bila dibiarkan akan berkembang menjadi kanker.

Sering kali polip muncul tanpa menimbulkan gejala dan baru diketahui saat sudah menjadi kanker. Polip ini dapat diketahui dengan rutin melakukan skrining pada orang-orang dengan faktor risiko.

Ketika sudah berkembang menjadi kanker, penyakit ini memiliki angka harapan hidup lima tahun cukup tinggi dibandingkan dengan jenis kanker lain. Pada stadium I atau ketika kanker belum menyebar pada organ tubuh lain, pasien memiliki angka harapan hidup lima tahun mencapai 90 persen. Saat stadium IV atau ketika sudah menyebar, angka harapan hidup mencapai 12 persen


"Ini cukup tinggi karena bisa diobati, bandingkan dengan kanker pankreas pada stadium I hanya 20 persen," ujar Ari yang juga merupakan Dekan FKUI ini.

Deteksi dini

Mendeteksi kelainan pada usus besar dapat dilakukan dengan melihat kondisi feses saat buang air besar (BAB). Penelitian menunjukkan, orang yang sulit buang air besar 2,7 kali lebih mungkin terkena tumor dan 1,78 kali lebih mungkin terkena kanker usus besar.

Bentuk feses yang tak menentu seperti menceret, keras, diperlukan mengejan, seperti kotoran kambing, berwarna hitam, berdarah, atau tidak rutin bisa menjadi pertanda awal.

"Yang bagus itu seperti pisang agak lembut sedikit, tidak perlu mengejan dan sekali sehari atau sekali dua hari," ucap Ari.

Selain itu, kanker usus besar juga ditandai dengan munculnya sakit perut berulang, berat badan turun drastis, pucat tanpa sebab, dan terdapat benjolan pada perut. Saat beberapa gejala ini mulai terlihat, segera periksakan diri Anda ke dokter.


Beberapa orang disebutkan memiliki faktor risiko tinggi terserang kanker usus besar. Mereka yang berusia di atas 50 tahun, memiliki faktor genetik atau kerabat yang terkena, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol sebaiknya rutin melakukan skrining usus di rumah sakit.

Kanker usus besar dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat melalui makanan yang dikonsumsi. Kurangi konsumsi daging merah dan daging olahan, perbanyak serat melalui sayuran dan buah-buahan, serta hindari rokok dan alkohol. (ptj/asr)