Menjelajahi Kampung Banjar Sungai Jipah

ANTARA, CNN Indonesia | Selasa, 11/12/2018 12:16 WIB
Menjelajahi Kampung Banjar Sungai Jipah Ilustrasi. (Foto: Alamnirvana via wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekelompok pecinta sepeda tua berkeliling di kawasan Kampung Rumah Banjar di Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Para pengguna sepeda ontel tersebut satu demi satu menyinggahi sekitar 20 unit rumah tua yang masih bertengger di kawasan tepian Sungai Martapura, kota berjuluk "kawasan seribu sungai".

Mereka kemudian membidik-bidikan kamera telepon seluler dan kamera saku ke rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu ulin (kayu besi) itu.


Namun ada pula yang berswafoto dengan latar belakang rumah tua berarsitektur budaya suku Banjar.

Saat hasil jepretan gawai itu diunggah ke sosial media, tidak sedikit yang bertanya tentang lokasi kampung tua itu.

"Luar biasa kampung tua ini. Ini adalah objek wisata yang luar biasa pula jika dikembangkan menjadi destinasi, karena selain alamnya yang bagus juga berada di tepian Sungai Martapura," kata Zany Thaluk, seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (11/12).

Menurutnya di negeri Malaka, Malaysia, terdapat satu lokasi objek wisata di sungai kawasan tersebut yang diserbu pengunjung untuk susur sungai sekaligus menikmati rumah dan gedung-gedung tua peninggalan kolonial Inggris.

Padahal rumah dan gedung tua di sana hanya beberapa unit saja, sementara di Sungai Jingah Banjarmasin terdapat puluhan rumah dan semuanya tua-tua. Baginya Banjarmasin jauh lebih menarik dan eksotis.

Hanya saja, ia melanjutkan, lokasi ini belum dikelola sebagai destinasi wisata sementara di Melaka sudah lama dan dipublikasikan secara gencar ke seluruh dunia.

"Ini saatnya Sungai Jingah dikelola dan dikemas sebagai kota tua atau kampung lama wilayah ini," kataya.

Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, mengatakan Sungai Jingah bukan saja memiliki rumah-rumah tua, tapi juga memiliki banyak kebudayaan lama yang terpelihara dengan baik. Seperti budaya membuat kuliner, budaya membuat kain Sasirangan, dan lainnya.

"Baik rumah serta budaya-budaya tersebut kesemuanya sangat potensial dijual kepada wisatawan, makanya ini akan dipublikasikan lebih luas lagi sebagai kawasan wisata di Kalsel," kata Sahbirin Noor.

Menurut pria yang menghabiskan masa kecilnya di kampung Sungai Jingah itu, sudah saatnya wilayahnya tidak mengandalkan lagi tambang batu bara sebagai penggerak ekonomi, karena emas hitam tersebut merupakan fosil yang bisa habis.

Sementara daerah lain sekarang lebih mengedepankan pengembangan pariwisata yang dapat mendatangkan uang tanpa harus merusak alam, karena itu sudah saatnya Kalsel mengembangkan dunia wisata tersebut lebih luas lagi, dan tak ada habis-habisnya.

Menguak potensi dan upaya mewujudkannya

Kampung Rumah Banjar Sungai Jingah terletak pada irisan dua kelurahan, yaitu Kelurahan Surgi Mufti dan Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara.

Permukiman ini terdiri dari deretan rumah asli Banjar, yang menyisir jalan Sungai Jingah sepanjang dua kilometer dan bersisian dengan Sungai Martapura.

[Gambas:Instagram]

Kampung Rumah Banjar Sungai Jingah diperkirakan mulai dibangun pada pertengahan abad 19. Hal ini berdasarkan pondasi dan bahan bangunan rumah Banjar yang terdiri dari kayu ulin.

Selain itu di kampung ini juga terdapat makam Syekh Jamaluddin, cicit (buyut) Datu Kalampaian (Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari), atau yang lebih dikenal dengan nama Kubah Sungai Jingah atau Makam Datu Surgi Mufti Jamaludin.

Dulunya kawasan ini memiliki beberapa saudagar kaya, salah satunya adalah H. Muhammad Said Nafis.

Rumah beliau di Sungai Jingah berada dekat Kubah Surgi Mufti, tepatnya di arah sisi barat kubah tersebut.

Namun sayangnya, salah satu rumah beliau berarsitektur Eropa sudah dirobohkan oleh ahli warisnya.

Selebihnya adalah rumah-rumah para kadi dan rakyat biasa. Namun arsitektur rumah Banjar yang dominan adalah rumah Banjar Baanjung Dua. Terdapat juga rumah Banjar Bubungan Tinggi, dan beerapa lagi jenis rumah banjar lainnya.

Ada sekitar 100 unit rumah banjar di sepanjang kampung tersebut. Kondisinya sebagian besar masih asli, namun ada beberapa yang hancur dan tak dihuni.

Selain Makam Surgi Mufti, yang sudah menjadi cagar budaya sejak Tahun 2011, keberadaan rumah-rumah Banjar di Kampung Sungai Jingah ini belum dikelola secara serius oleh Pemerintah Kota Banjarmasin, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat sedikitnya ada 101 unit rumah yang sempat didata oleh Komunitas Pecinta Rumah Adat Banjar pada Oktober 2016.

Rumah-rumah adat ini tersebar di lima kecamatan se-Kota Banjarmasin. Namun rumah adat Banjar di Sungai Jingah paling tepat sebagai objek wisata, karena mayoritas masih utuh dan terkumpul di satu lokasi.

Salah satunya, rumah yang ditempati oleh M Rasyid. Rumah Banjar berjenis Bangun Gudang, yang didirikan sejak tahun 1925. Rumah bercat warna krem dan sedikit perpaduan cat warna hijau itu, masih berdiri kokoh. Menurut penuturan M Rasyid, rumah tersebut milik kakeknya, H A Ganikamar.

"Kakek punya anak 14 orang. Dulu semua tinggal di rumah ini. Sekarang sudah tidak lagi. Hanya saya, istri, anak dan ibu yang menempati," ujarnya.

Dari penuturan M Rasyid, yang didapatkan dari cerita sang kakek, dahulu kawasan Kampung Sungai Jingah merupakan tempat berkumpulnya armada kapal besar yang melakukan aktivitas perdagangan antarpulau.

[Gambas:Instagram]

Sementara komoditas utama yang diperdagangkan adalah tembakau. Selain itu, rumah-rumah besar khas Banjar sangat banyak terlihat dan berdiri masih kokoh.

"Yang saya tahu, kini hanya beberapa saja yang masih ditinggali atau layak huni. Sementara sebagian lainnya dibiarkan terbengkalai begitu saja," ungkapnya.

Rasyid tak menampik, beberapa kali pihak dinas terkait datang untuk mendata rumah-rumah khas Banjar yang ada di kawasan tersebut.

Namun menurutnya, sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya, terkait hasil data tersebut hendak diapakan.

"Bahkan dahulu pernah ada yang mengaku datang dari pusat mendata rumah-rumah khas Banjar, termasuk rumah yang saya tinggali ini. Bilangnya mau dibikin situs cagar budaya," ungkapnya.

Seorang penduduk lainnya, Abdulllah, menambahkan bahwa ia berharap ke depan ada perhatian lebih dari Pemerintah. Tak hanya sekadar mendata, kemudian pergi begitu saja.

"Ya kalau mau didata silakan, tapi kalau bisa dibantu juga rumah-rumah yang terbengkalai. Sayang kalau rumah-rumah khas yang banyak itu hancur begitu saja," ucapnya.

Melihat keistemewaan kampung tua ini wajar jika Gubernur Kalsel menjadikan lokasi tersebut sebagai kampung budaya dan "Kampung Banjar", sebagai pelestarian budaya sekaligus destinasi wisata untuk meraih devisa dan menyejahterakan masyatakat.

Jika Kampung Rumah Banjar Sungai Jingah ini dikonsepkan sebagai Kota Tua, Kota Pusaka, atau Desa Wisata, maka Banjarmasin dan Kalimantan Selatan akan memiliki sebuah destinasi wisata yang khas. (agr)