ASITA: 'Zero Dollar Tour' Bukan Penyebab Sepinya Turis China

CNN Indonesia | Jumat, 14/12/2018 17:55 WIB
ASITA: 'Zero Dollar Tour' Bukan Penyebab Sepinya Turis China Wisatawan di Pantai Kuta, Bali. (Foto: CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjelang akhir tahun, kabar kurang menyenangkan terkait pariwisata menghinggapi Pulau Dewata. Isu Zero Dollar Tour di Bali disinyalir menjadi penyebab hilangnya wisatawan asal China.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan dengan cepat melobi dan meyakinkan China National Tourism Administration (CNTA), bahwa Bali dan Indonesia aman. Hal ini dilakukan demi menepis isu Zero Dollar Tour.

Arief juga menyarankan agar Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (ASITA) bertemu CNTA, dan membuat "White List Tour Agencies - Tour Operators.


"Ini adalah cara yang paling smooth, paling halus, paling bijak, untuk menyelesaikan case Zero Dollar Tour di Bali," ungkap Arief, Kamis (29/11).

"Ibaratnya, menangkap ikan tanpa harus membuat keruh airnya. Dari situ, tidak perlu heboh-heboh, masing-masing asosiasi bisa saling mengontrol anggotanya untuk menjaga iklim bisnis yang baik."

Sebelumnya ramai diberitakan kalau praktik yang dilakukan mafia wisata murah ini ialah menekan tarif layanan wisata agar turis China berdatangan.

Paket wisata murah itu ditawarkan dengan harga mulai dari 1.700 RMB (sekitar Rp3,5 juta) per orang, yang sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi dan akomodasi selama lima hari dan menginap empat malam di Bali.

Paket ini ditawarkan kepada turis yang datang dengan rombongan.

Oknum-oknum dari kalangan penerbangan, agen wisata, tempat penginapan, tempat makan sampai tempat penjualan oleh-oleh dari China dan Indonesia yang diduga terlibat dalam praktik ini.

Setelah mendapat jumlah turis untuk satu rombongan, oknum dari China menghubungi oknum-oknum yang menguasai layanan wisata di Bali.

Semua kegiatan dan layanan wisata yang akan dinikmati turis sudah ditentukan oleh mafia. Tapi karena paket yang ditawarkan terlampau murah, banyak contoh kasus pelayanan yang diberikan terasa asal-asalan.

Salah satu contoh kasus ialah pernah terjadi rombongan turis yang ditinggalkan pemandu wisata, karena mereka berbelanja bukan di toko cendera mata yang sudah ditentukan.

Menanggapi hal tersebut Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat ASITA, Asnawi Bahar, mengatakan Zero Dollar Tour bukan penyebab utama wisatawan China sepi mengunjungi Bali.

"Penyebab wisatawan China tidak berkunjung ke bali adalah gempa di Lombok, Palu, kemudian musibah pesawat Lion Air, dan memang saat ini sedang low session," ujar Asnawi saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (14/12).

Kemudian terkait toko-toko yang ditutup, ia melanjutkan, juga bukan menjadi alasan utama mengapa kini Bali sepi wisatawan China.

Namun Asnawi tak menampik jika memang ada jaringan yang ingin memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi atau golongan, dan mencoreng pariwisata Indonesia khususnya Bali.

Asnawi optimis wisatawan China akan kembali lagi ke Bali dan lebih selektif dalam memilih biro perjalanan, agar tidak tergiur iming-iming yang menyesatkan, meskipun sebenarnya banyak juga yang tidak terpengaruh karena memilih paket perjalanan yang ideal.

"Sekarang sudah mulai kok kunjungan wisatawan China ke Bali," ujarnya.

(agr)