Pintu Terbuka untuk Budaya Tato di Tunisia

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 07:03 WIB
Pintu Terbuka untuk Budaya Tato di Tunisia Ilustrasi tato (REUTERS/Marcos Brindicci)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di atas sepotong kulit sintetis, Ghada Atiaoui (19) membuat sketsa geometris dengan tinta China. Kemudian, dia beralih dan menggambarnya dengan mesin tato. Dia bersama delapan siswa lainnya berharap lulus sebagai seniman tato profesional dari sekolah tato pertama di Tunisia.

"Tato adalah seni dan profesi masa depan," ujar Ghada, seperti diwartakan AFP. Sebagai seorang wanita, profesi seniman tato dirasa menantangnya.

Keberadaan sekolah tato menjadi gambaran adanya perubahan budaya di Tunisia. Sebelumnya, Tunisia menjadi salah satu negara yang 'memusuhi' budaya tato. Kebanyakan seniman tato--profesi yang masih terbilang anyar di Tunisia--bergerak secara ilegal.



Namun, rupanya Tunisia tak mampu mengelak dari perubahan. Sekolah tato itu diminati banyak muda-mudi. "Saya menikmati diri sendiri yang bergelut dengan sesuatu yang saya sukai," ujar Sami Essid, siswa lainnya seraya memperlihatkan lengannya yang penuh tato. Fisioterapis berusia 31 tahun itu berharap untuk membuka layanan tato dalam kliniknya.

Sekolah tato itu baru diresmikan November lalu. Sekolah ini menjadi tempat belajar resmi tato pertama di Afrika Utara dan dunia Arab. Sekolah ini didirikan oleh Fawez Zahmoul, seorang seniman tato ternama.

Zahmoul juga mengelola workshop tato yang pertama kali berdiri resmi di Tunisia pada 2016 lalu. Pembuatan workshop itu bertujuan untuk membagi pengetahuannya seputar dunia tato.

Sebelum ini, orang-orang bertato kerap dipandang sebagai masalah di Tunisia. Zahmoul bahkan pernah diserang oleh empat orang yang menuduhnya sebagai antek Freemasonry gara-gara tatonya.

Beda dulu, beda sekarang. Kini, tato tak lagi jadi masalah di Tunisia.


Setiap Sabtu dan Minggu selama enam bulan, murid-muridnya diberi pengetahuan tentang keterampilan membuat tato. Sekolah ini disebut telah membuka 'pintu baru' untuk penggemar tato di Afrika Utara dan bangsa-bangsa Arab.

"Dulu, kami masih harus menghadapi masalah saat mempelajari tato. Saya harap seniman baru ini tidak akan menghadapi kesulitan yang sama," ujar Amine Labidi, salah seorang pengajar.

Semakin populernya tato di Tunisia mencerminkan adanya perubahan dalam masyarakat. Jenis tato hari ini dipengaruhi oleh teknik dan tren yang diambil dari Barat.

Tak cuma itu, kehadiran tato di Tunisia juga dinilai sebagai dampak dari krisis nilai dan dominasi yang dimiliki para politisi atas ruang publik yang mendorong masyarakat untuk menggunakan cara-cara berekspresi yang lebih berani.

Tunisia juga dikenal sebagai rumah bagi bentuk tato yang dikenal dengan sebutan 'El-wcham'. Nama terakhir ini biasa dipraktikkan oleh orang-orang Berber sekuler karena alasan estetika. Simbol itu terukir di wajah dan tubuh orang-orang Berber dengan menggunakan alat tumpul yang disebut 'mchelta'.


Sayang, para pemimpin agama mengutuknya. Mereka yang hidup dengan simbol itu dianggap negatif, utamanya ketika negara itu memulai modernisasi setelah kemerdekaan pada 1956.

Tato juga semakin terpuruk lantaran dikaitkan dengan tindak-tindak kriminal, di mana tato kerap hadir pada tubuh-tubuh narapidana dalam penjara.

Meski masyarakat sudah mulai terbuka dengan keberadaan budaya tato, namun Labidi menolak jika tato sudah punya status istimewa di Tunisia. Bagi Labidi, tato tetaplah tato. "Tato tetap menjadi cara kami untuk memberontak." (asr)