'Rahasia' Tengkorak 200 Tahun Lagu Natal Populer Silent Night

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 02:04 WIB
'Rahasia' Tengkorak 200 Tahun Lagu Natal Populer Silent Night Kapel Silent Night di Salzburg (Joe KLAMAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Silent Night.. Holy Night, all is calm, all is bright.
Round yon virgin, mother and child.
Holy infanct so tender and mild, sleep in heavenly peace."

Silent Night pasti menjadi salah satu lagu favorit di perayaan Natal. Lagu dengan judul asli Stille Nacht ini pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya Malam Kudus di Indonesia.

Lagu syahdu ini mungkin menjadi salah satu lagu Natal paling manis yang pernah ada.



Namun, kenyataannya merunut sejarah dari orang yang menulisnya sejak 200 tahun lalu, penciptaan lagu ini melibatkan tragedi mengerikan.

"Tengkorak itu tertanam di belakang sana," kata pemandu wisata Sepp Greimel sambil menunjuk pada altar sebuah kapel di Salzburg, Austria, dikutip dari CNN.

Tengkorak yang dimaksud Greimel adalah milik pastor Katolik dan pencipta lagu Silent Night Josef Mohr. Tengkoraknya berada di sebuah kota kecil, Oberndorf bei Salzburg dalam kapel yang dikenal sebagai Silent Night chapel atau kapel Silent Night.

Pertengahan musim dingin adalah musim terbaik untuk menikmatinya.

Kapel ini memiliki eksterior kotak cokelat klasik ala pedesaan. Namun interior dalamnya memiliki langit-langit dari kayu larch, bangku dari kayu cemara yang muat untuk 22 orang, dan berhias lantai marmer.

Kapel ini hanya memiliki dua jendela kaca patri kecil. Selain itu terpasang juga foto dua orang di balik Silent Night, Mohr dan Franz Xaver Gruber sang penggubah lagu.

Di dalam kapel kecil ini juga tersimpan salinan lagu fenomenal mereka. Lagu aslinya hanya enam bait.

"Kami hanya menyanyikan satu bait, dua, dan enam," kata Greimel.

"Bait tiga, empat, dan lima, sulit dinyanyikan dalam bahasa Jerman."

Namun, meski demikian, ini bukanlah kapel asli tempat lagu itu digubah. Kapel sederhana ini dibangun untuk menggantikan Gereja St. Nicholas di mana Mohr menjabat sebagai kurator dan juga sebagai tempat pertama lagu Natal tersebut dinyanyikan, di malam natal 1818, 200 tahun lalu.

Malam itu, Mohr bernyanyi tenor dan bermain gitar. Sedangkan Gruber memainkan bass. Jemaat menyanyikan bagian refrain dari Silent Night.


Hanya saja, saat itu gitar bukanlah instrumen gereja yang 'disetujui,' jadi mereka harus menyanyikan lagu itu setelah Misa.

Lalu bagaimana lagu itu bisa menaklukkan dunia?

Itu adalah berkat Karl Mauracher, seorang tuner organ. Dia datang ke sana saat Tahun Baru dan mendengar lagunya. Dia pun kembali ke kota kelahirannya di Fugen, Tyrol dengan membawa lembaran musik tersebut.

Keluarga di Tyrol memiliki tradisi untuk bernyanyi dalam paduan suara untuk menghasilkan uang. Mereka berkeliling di musim dingin di Jerman.

Mereka menyambangi tempat terbaik di Eropa dan bertemu dengan dua kelompok penyanyi lokal, keluarga Stasser dan Rainer. Mereka pun mendengar lagu tersebut dan memasukkannya ke dalam repertoar mereka.

Tak lama lagu ini menjadi hit di Jerman, Eropa, sampai Amerika Serikat di 1839.


Tahun 1854 Prussian Court Hofkapalle menuliskan surat ke Salzburg untuk bertanya tentang pencipta lagi tersebut. Gruber pun menjawab surat itu, menjelaskan bahwa dia menuliskan melodinya, dan Mohr, yang sudah meninggal, menulis liriknya.

Greimel menuntun jalan keluar kapel sambil bercerita tentang mengapa akhirnya gereja itu hancur.

"Dulu ada banjir yang mengerikan di sini pada 1899," katanya.

"Itu menghancurkan pusat Oberndorf yang lama. Penduduk desa kemudian memutuskan untuk membangun gereja baru sejauh 600 meter ke selatan, ke tempat yang lebih tinggi."

Tahun 1920-an adalah puncak kepopuleran Silent Night. Akhirnya sebuah kapel kecil pun berdiri di sana.

Konstruksi dimulai pada 1924 dan diberkatu pada 1937. Namun, saat itu, pembangunannya juga diganggu dengan manjir.

Setelah kapel berdiri, Gruber memajang fotonya dan juga Mohr. Namun, tak ada foto yang tersisa dari Mohr, karena dia meninggal muda.

Untuk menciptakan gambaran seperti aslinya, seorang pematung, Josef Muehlbacher menggali kubur Mohr di desa Wagrein untuk mencari tengkoraknya.

Semua foto yang tersebar, termasuk yang ada di dalam kapel adalah gambaran Muehlbacher yang dibayangkannya dari tengkorak Mohr.

Akan tetapi, tengkorak itu tak pernah 'pulang' ke kuburnya di Wagrein. Tengkorak itu masih ada di kapel tersebut. (chs/chs)