Kawasan Tanjung Lesung Tetap Buka di Malam Tahun Baru

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 03:43 WIB
Kawasan Tanjung Lesung Tetap Buka di Malam Tahun Baru Kawasan pinggir pantai yang mengalami kerusakan akibat bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kawasan Tanjung Lesung, Banten, yang turut diterjang tsunami diperkirakan membutuhkan waktu 6 bulan untuk pulih kembali. Kendati demikian, kawasan wisata ini rencananya tetap akan dibuka untuk umum pada malam pergantian tahun.

Direktur Utama PT Jababeka Group Tbk Setyono Djuandi Darmon menyatakan pihaknya tetap akan membuka kawasan Tanjung Lesung pada malam pergantian tahun. Kendati demikian, ia mengaku realistis dengan kondisi yang ada.

"Karena mesti dibersihkan, seprainya mungkin sudah kotor, mungkin karyawan takut mulai lagi. Ini semua perlu waktu, susah juga menjawab mudah-mudahan tahun baru kamar siap," ujar Setyono di Jakarta, Senin (24/12).



Darmono memperkirakan butuh waktu enam bulan untuk memulihkan kawasan Pantai Tanjung Lesung agar dapat kembali normal. Saat ini, hampir 30 persen kawasan wisata ini rusak akibat diterjang tsunami. 

"Mungkin kalau semua rapi betul, dibangun ulang, perlu 6 bulan. Tapi kita terus bangun pelan-pelan," terang dia.

Direktur Utama PT Banten West Java Purnomo Siswoprasetyo menyebut pihaknya bakal mengoperasikan kembali hotel-hotel di kawasan Tanjung Lesung pada 1 Januari 2019. Namun, pengoperasian dilakukan untuk memfasilitasi pihak-pihak yang akan mengirim bantuan.

"Kami fokus hanya bisa ditempati, supaya pengunjung yang menyalurkan bantuan ada tempat tinggal layak. Sekarang sangat terbatas, padahal kebutuhan di sana juga perlu banyak dibantu," ujarnya.


Ia menyadari bencana tsunami akan ada mempengaruhi tingkat okupansi hotel di kawasan Tanjung Lesung. Namun, ia berharap pariwisata di wilayah tersebut dapat pulih seiring waktu.

"Pasti orang ada rasa was-was, kita mesti ubah polanya. Orang ke sana (Tanjung Lesung) untuk berikan empati dan perhatian korban musibah, dan untuk pelajari kejadian tersebut," kata Purnomo. (swo/agi)