Gerakan 'Memungut' Sampah Barang Mewah ala Singapura

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 18:35 WIB
Gerakan 'Memungut' Sampah Barang Mewah ala Singapura Ilustrasi barang mewah (Mario Anzuoni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Glendrose Gorriceta (45), seorang perempuan asal Filipina, menjerit bahagia lantaran tas Louis Vuitton yang didapatnya. Di Singapura, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Gorriceta jelas bahagia. Tak sepeser pun duit yang dikeluarkannya demi mendapatkan tas mewah tersebut. Clutch bag itu didapatnya secara cuma-cuma dari pemberian para 'freegans' di Singapura.

'Freegans' secara luas didefinisikan sebagai komitmen untuk menekan angka konsumsi yang boros dan menjaga lingkungan dari sampah barang-barang mewah yang dibuang begitu saja.


Gerakan ini tengah mencuat di seantero negara latar Crazy Rich Asian itu. Dalam laman Facebook-nya, gerakan ini bahkan telah diikuti oleh 6.500 orang.

Gerakan ini dilakoni sejumlah warga Singapura. Para freegans bekerja dengan mencari berbagai tempat sampah. Di sana, mereka mengambil barang-barang yang telah dibuang untuk kemudian digunakan kembali.

Tak cuma itu, mereka juga kerap membagikan barang-barang bekas temuannya itu untuk orang yang membutuhkan, seperti pekerja migran yang berasal dari negara berpenghasilan rendah, seperti Glorriceta. Bagi orang-orang seperti Gloricetta, membeli produk-produk kinclong yang dijual di pusat perbelanjaan adalah perihal muskil.

"Kita harus memberikan apa pun yang kita miliki pada orang-orang yang membutuhkan, daripada membuangnya," ujar Colin Lau, salah seorang anggota grup Facebook Freegan's Singapore, melansir Reuters.

Freegans juga kerap mengunggah foto-foto penemuan mereka, termasuk di antaranya pakaian, perhiasan, barang elektronik, dan barang-barang mewah lainnya.

Selain itu, mereka juga kerap menggelar undian mingguan yang dikhususkan untuk para pekerja migran. Siapa yang menang, berhak mendapatkan hadiah berupa barang-barang mewah bekas masih layak pakai.

Gerakan semacam itu jelas berfungsi ganda. Selain menekan angka konsumsi yang tinggi dan menjaga lingkungan dari sampah barang-barang mewah, gerakan itu juga setidaknya membantu para pekerja migran untuk mendapatkan beberapa barang yang diinginkan atau diperlukan.

Tengok pekerja migran lainnya, Virginia Andrade (52). Dia mengirim dua set televisi, laptop untuk si buah hati, dan dua buah kursi roda untuk ibu serta saudara perempuannya yang lumpuh akibat stroke di kampung halaman. Barang-barang itu didapatkan Andrade secara cuma-cuma.

"Dengan begitu, uang yang saya dapatkan bisa digunakan untuk biaya makan dan sekolah. Kami tak lagi perlu membeli banyak barang," kata Andrade. (asr)