Mengenal Pneumonia Aspirasi yang Mengintai Korban Tsunami

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 15:43 WIB
Mengenal Pneumonia Aspirasi yang Mengintai Korban Tsunami Ilustrasi korban tsunami Selat Sunda (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain luka-luka, korban tsunami Selat Sunda juga banyak ditemukan mengidap pneumonia aspirasi. Infeksi ini terjadi karena korban tenggelam dan membuat benda-benda asing, termasuk air laut, mengisi paru-paru.

Pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyerang paru. Sedangkan pneumonia aspirasi adalah komplikasi dari aspirasi paru. Nama terakhir merujuk pada masuknya zat lain ke dalam saluran pernapasan.

"Aspirasi itu masuknya zat lain atau benda asing ke dalam paru. Bisa air, air laut, pasir, atau bahkan muntahan sendiri. Bermacam-macam," ujar ahli paru, dr Fathiyah Isbaniyah kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/12).


Pada kasus tsunami Selat Sunda, korban menderita pneumonia aspirasi akibat kemasukan air laut, pasir, dan material lainnya saat diterjang ombak. Benda asing yang masuk ke dalam saluran pernapasan itu merusak pertahanan paru-paru dan juga tubuh secara keseluruhan.

Apabila tak ditangani segera, infeksi itu dapat berakibat fatal. "Pada kerusakan dengan jumlah besar atau sangat luas, bisa meninggal dunia," ujar Fathiyah yang merupakan dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI.

Pneumonia aspirasi bisa dipulihkan dengan mengeluarkan semua benda asing yang masuk ke dalam paru melalui bronkoskopi.

Fathiyah menyebut, tindakan pertama yang mesti dilakukan adalah memberikan oksigen murni dan memasang alat bantu pernapasan. Setelah itu, dokter dapat melakukan bronkoskopi untuk menyedot benda asing dan membersihkan paru-paru.

"Proses ini tergantung dari luas dan banyaknya benda asing, tapi rata-rata bisa sekitar 30 menit," tutur Fathiyah yang berpraktik di RSUP Persahabatan ini.

Langkah selanjutnya adalah pemberian obat-obatan atau antibiotik serta memantau kondisi pasien. Setelah pembersihan paru, biasanya kondisi pasien akan jauh membaik. (ptj/asr)