Analisis

Kait Kelindan Artis, Gaya Hidup Glamor, dan Prostitusi

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 15:57 WIB
Kait Kelindan Artis, Gaya Hidup Glamor, dan Prostitusi Ilustrasi prostitusi (REUTERS/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Menjemput rejeki di awal tahun 2019." Kalimat itu tertulis dalam unggahan Instagram Story Vanessa Angel saat tiba di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (5/1). Tak lupa, dipamerkannya pula senyum bahagia dalam balutan jumpsuit ungu saat tiba di Town Square Surabaya.

Alih-alih menjemput rezeki, kepergian Vanessa ke Surabaya justru berujung malang. Senyum yang tadi berseri berubah tundukan lesu saat polisi menggiringnya, masih dengan jumpsuit ungu yang sama.

Bintang sinetron dan FTV ini ditangkap lantaran diduga terlibat dalam prostitusi online. Dia ditangkap bersama seorang model majalah dewasa, Avriellia Shaqqila, saat melayani pelanggan di kamar yang berbeda.


Dari penangkapan ini, terkuak 45 artis, mulai dari model hingga penyanyi dangdut, terlibat dalam jaringan prostitusi daring.


Tak ayal, penangkapan Vanessa dan Avriellia bisa jadi memperkuat stigma hidup glamor dan hedonisme yang melekat pada kehidupan artis. Tak hanya prostitusi, sejumlah artis juga terseret kasus narkoba. Keduanya, prostitusi dan narkoba, bukan barang baru dalam dunia keartisan.

Dalam kasus prostitusi, misalnya, kasus yang menimpa Vanessa dan Avriella bukan yang pertama. Sebelumnya, sederet nama besar seperti Amel Alvi juga pernah terseret kasus yang sama.

"Tidak bisa dikatakan artis yang masuk ke dunia prostitusi memiliki latar belakang atau penyebab yang sama, karena masing-masing artis tetap merupakan individu yang berbeda," ujar psikolog klinis, Linda Setiawati, kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/1).

Artis berinisial VA (kedua kiri) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). Polda Jatim memeriksa artis berinisial VA dan AS dan menetapkan tersangka kepada dua orang yang berperan sebagai mucikari berinisial ES (37) dan TN (28) asal Jakarta dalam kasus tersebut.Artis berinisial VA (kedua kiri) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). Polda Jatim memeriksa artis berinisial VA dan AS dan menetapkan tersangka kepada dua orang yang berperan sebagai mucikari berinisial ES (37) dan TN (28) asal Jakarta dalam kasus tersebut. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Tak cuma artis, alasan yang beragam itu juga berlaku pada siapa pun yang terlibat dalam jaringan prostitusi online. Seorang artis biasanya dituntut tampil gaya agar bisa lebih sering muncul di televisi. 

Alhasil, artis yang seyogianya merupakan pekerja seni, justru lebih sering tampil dengan gaya hidup mewah nan glamor. Gaya hidup yang tak membutuhkan biaya sedikit. 

"Materinya juga harus (kelas) atas," ujar antropolog Universitas Padjadjaran, Budi Rajab, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/1).


Untuk menambah penghasilan, beragam cara ditempuh para selebriti ini. Membuka bisnis sampingan seperti kue, travel, desain busana, hingga make up pun dilakoni demi mendapatkan cuan yang lebih menjamin. Cara ini boleh terbilang berat, karena mereka mesti merintis bisnisnya dari awal.

Saat sejumlah artis berani menantang diri dengan merintis bisnis, sebagian artis lain justru memilih jalan pintas yang dirasa lebih 'gampang' untuk menebalkan pundi-pundi rupiahnya, seperti prostitusi, misalnya. Memanfaatkan nama besar sebagai orang populer dianggap mampu meningkatkan nilai jual sang bintang.

Kapolda Jawa Timur Irjen Luki Hermawan bahkan mengungkap ada biaya artis yang mencapai Rp100 juta. Perbedaan ini terjadi berdasarkan tingkat popularitas.

Kendati demikian, artis tetaplah manusia pada umumnya, yang tak bisa disamaratakan. Sebagaimana disampaikan salah satu manager artis, Otto, yang telah wara-wiri berkecimpung di dunia keartisan. Dia menyebut, tak semua artis memiliki gaya hidup mewah.

"Tidak semua seperti itu, kebetulan talent yang saya pegang sehari-harinya tidak harus mahal," kata dia pada CNNIndonesia.com, Kamis (10/1).

Hanya saja, tak dimungkiri, jika dalam beberapa agenda tertentu, artis kerap dituntut tampil mewah lengkap dengan barang mahal. "Harus tampil elegan dan enggak bisa bohong branded tampilannya beda dengan yang bukan," tambah Otto.

Otto sendiri merupakan manajer artis yang sempat memegang beberapa nama besar seperti Prisia Nasution, Fanny Fabriana, dan Mario Irwinsyah. Selama pengalamannya dalam dunia keartisan, tak pernah rasanya Otto mendapatkan tawaran yang mengarah ke dunia prostitusi. 

"Kalau dunia malam saya rasa semua orang bisa, tidak harus profesi artis. Dan pengalaman saya belum pernah ada yang mengajak ujungnya ke prostitusi," ungkap Otto.

Pengaruh faktor sosial

Terjunnya artis ke dunia prostitusi mungkin saja tak semata-mata didorong oleh kebutuhan gaya hidup mewah. Dalam hal ini, sedikit banyak faktor sosial juga turut berperan serta.


Faktor sosial memiliki bentuk yang beragam dan luas. Mulai dari perihal pergaulan hingga relasi antar-artis. Budi Rajab menyebut, faktor yang satu ini juga terbilang memberikan pengaruh yang besar.

Bentuknya kira-kira saling memengaruhi keinginan antar-artis. Apa yang dilakukan seorang artis pelan-pelan menimbulkan keinginan pada artis lain untuk melakukan hal serupa. Di sana ada faktor ajakan dan perilaku ikut-ikutan. Namun sekali lagi, semuanya ini adalah pilihan hidup yang diambil seseorang. 

"Artis yang lain begitu juga, saya ikutan begitu juga enggak apa," ujar Budi mencontohkan. Pola pikir semacam inilah yang pada akhirnya membentuk jaringan prostitusi di kalangan artis.

Sebab, bagaimana pun, dalam kacamata sosial, dunia prostitusi akan selalu berkaitan dengan jaringan sosial. "Relasinya akan selalu berjejaring," kata Budi. (asr)