Mengidentifikasi Penyakit lewat Raut Wajah

CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 07:17 WIB
Mengidentifikasi Penyakit lewat Raut Wajah Ilustrasi (markusspiske/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raut wajah tak hanya bisa mengungkapkan ekspresi. Teknologi terbaru kini bisa mengidentifikasi penyakit hanya dengan melihat raut wajah seseorang.

Penelitian terbaru berhasil menemukan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dapat mengidentifikasi beberapa penyakit kelainan genetik langka secara akurat hanya dengan menggunakan foto wajah pasien.

Teknologi AI yang diberi nama DeepGestalt ini bahkan disebut mengungguli dokter saat mengidentifikasi berbagai gejala dalam tiga kali percobaan.


Kecerdasan buatan ini mampu mengidentifikasi sindrom Angelman. Nama terakhir merupakan kelainan yang memengaruhi sistem saraf dengan ciri-ciri khas seperti mulut lebar dengan gigi yang luas, mata menunjuk ke arah yang berbeda, atau lidah yang menonjol.

"Ini menunjukkan keberhasilan penerapan algoritma canggih ke dalam sesuatu data yang sangat kecil (penyakit)," kata pemimpin riset Yaron Gurovich, dikutip dari CNN. Dia merupakan kepala teknologi di FDNA, perusahaan kecerdasan buatan dan obat presisi.

Gurovich dan timnya membuat DeepGestalt dengan algoritma yang dalam. Mereka menggunakan 17 ribu gambar wajah pasien dari database pasien yang didiagnosis dengan lebih dari 200 sindrom genetik yang berbeda.

Hasilnya, kecerdasan buatan ini mengungguli dokter dalam dua set terpisah untuk mengidentifikasi sindrom dari 502 gambar yang dipilih. Dalam setiap tes, AI mengusulkan daftar sindrom yang potensial dan mengidentifikasi sindrom yang benar dengan akurasi 91 persen.

Tes lain juga dilakukan untuk mengidentifikasi subtipe genetik yang berbeda dalam sindrom Noonan, yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan seperti cacat jantung. Keberhasilan kecerdasan buatan ini memiliki tingkat keberhasilan 64 persen. Padahal, dalam studi sebelumnya, dokter hanya mampu mengidentifikasi 20 persen saja.

"Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini dapat digunakan dalam pengujian klinis," ujar Gurovich.

Penemuan ini disebut membuka pintu untuk penerapan kecerdasan buatan dan aplikasi terkait identifikasi sindrom genetik baru. Namun, di sisi lain, gambar wajah yang diketahui ini juga mampu menimbulkan diskriminasi individu. (ptj/asr)