Etika Membawa Tas Punggung dalam Kereta di Jepang

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 20:19 WIB
Etika Membawa Tas Punggung dalam Kereta di Jepang Ilustrasi. (Istockphoto/Mixmike)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tas punggung dapat memudahkan perjalanan wisata. Mulai dari baju ganti sampai oleh-oleh bisa masuk dalam satu kantung tanpa perlu repot menentengnya.

Namun bagi sebagian penduduk Jepang keberadaan tas punggung dalam kereta terasa menyebalkan, terutama ketika penumpang yang menggunakannya tidak memahami etika cara membawanya.

Dikutip dari Japan News pada Rabu (16/1), perusahaan kereta api Jepang mengimbau bagi penduduk dan turis agar menyimpan tas punggung atau barang bawaan berukuran besar di atas paha atau di bawah kaki jika sedang duduk.


Bisa juga menggendong tas di dada atau menyimpannya di bagasi jika sedang berdiri.

Hal tersebut wajib dilakukan agar tas punggung tak mengganggu penumpang lain, yang mungkin hendak turun dari kereta.

Selain imbauan mengenai tas punggung, mereka juga mengimbau agar penumpang tak berbicara di telepon genggam dan turun kereta dengan tertib.

Imbauan ini dicetak dalam bentuk poster dan spanduk yang terlihat di stasiun-stasiun kereta Jepang.

Salah satu petugas di stasiun kereta Odakyu mengatakan kalau banyak insiden penumpang yang "terjepit" di antara tas punggung penumpang lain saat hendak turun dari kereta.

Perlu diketahui kalau kereta di Jepang memang datang dengan tepat waktu, sehingga pintunya membuka dan menutup dengan cepat.

"Kami meminta penumpang untuk bekerjasama agar perjalanan kereta menjadi lebih nyaman," kata petugas itu.

Imbauan tersebut menjadi inspirasi sebuah perusahaan tas di Jepang yang membuat tas punggung lebih ramping.

Mereka merancang tas yang memiliki kantung yang mudah diraih oleh sang pemilik jika terpaksa menggendongnya di dada.

"Tas punggung biasanya lebar, kami merancang lebih panjang dengan menambahkan kantung yang lebih mudah diraih sang pemilik," kata perwakilan dari perusahaan tas tersebut.

[Gambas:Instagram]

Konsep tas punggung mulai tercipta sejak tahun 1930-an. Ketika itu konsepnya berupa kantung dengan gantungan di kedua sisi bahu.

Lalu tas punggung lebih modern, berbahan nilon dan memiliki ritsleting mulai diciptakan pada tahun 1960-an.

Menyeimbangkan berat di kedua bahu memungkinkan orang membawa beban yang lebih berat, sementara membawanya dengan punggung membebaskan kedua tangan.

Walau praktis tapi perlu diingat juga untuk berhati-hati saat membawa tas punggung, terutama saat berwisata di kota sibuk seperti Tokyo.

Karena bukan tidak mungkin lengah saat membawa tas punggung bisa mengundang pencopet atau penjambret.

Ingatkan diri untuk selalu mengawasi tas punggung ketika berada dalam suasana ramai. Jangan simpan barang berharga di kantung bagian depan.

[Gambas:Instagram]

Tas punggung yang terlalu berat juga bisa menyebabkan masalah kesehatan.

Masafumi Ozaki, seorang chiropractor di Prefektur Shizuoka, memperingatkan bahwa membawa tas punggung berat dapat menyebabkan masalah leher, bahu, serta nyeri punggung bagian bawah.

"Membawa tas punggung lebih baik dibanding tas jinjing, karena beban bisa ditopang dengan seimbang. Namun jika terlalu berat juga membahayakan kesehatan," ujar Ozaki.

"Sebaiknya tali tas punggung diatur lebih tinggi, sehingga punggung tidak menopang ke belakang atau malah bungkuk. Jangan langsung menghentakkan tas punggung yang dirasa berat ke bahu. Tekuk lutut saat mengangkat atau menurunkannya," lanjutnya.

(agr/ard)