Pengaruh Supermoon Pada Pola dan Kualitas Tidur

CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 20:58 WIB
Pengaruh Supermoon Pada Pola dan Kualitas Tidur ilustrasi tidur (iStock/Vera_Petrunina)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena supermoon akan kembali terjadi pada Senin (21/1) petang ini.

Supermoon pada petang nanti membuat Bulan berada pada posisi terdekat dengan Bumi. Fenomena ini akan membuat satelit alam Bumi tersebut terlihat lebih besar dari biasanya. Berbeda dari fenomena bulan lainnya, hari ini, supermoon pertama di tahun 2019 ini akan disebut sebagai 'super blood wolf moon' dan diikuti gerhana Bulan total akan terjadi petang nanti.

Meski demikian, orang Indonesia harus puas dengan melihat salah satu fenomena alam tersebut. Indonesia hanya bisa menyaksikan supermoon saja.



"Gerhana bulan total tidak bisa diamati di Indonesia. Hanya Amerika dan Eropa. Gerhana bulan total (blood moon) tidak bisa terlihat karena saat itu di Indonesia siang hari," ucap Kepala Lembaga Astronomi dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (21/1).

Sejak zaman Romawi, manusia kerap menghubungkan terjadinya bulan purnama dengan perilaku yang aneh. Tak cuma perilaku yang aneh, namun supermoon dan juga bulan purnama ini dianggap bisa berpengaruh dengan pola tidur seseorang, meningkatkan emosi seseorang, bahkan meningkatkan kejahatan, dan lainnya.

Namun banyak yang mengungkapkan kalau tak ada bukti ilmiah tentang hal ini. Peneliti mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang mungkin terjadi adalah masalah kurang tidur. Hanya saja itu pun juga dipengaruhi banyak hal.

Dalam penelitian yang dimuat di Jurnal Current Biology, peserta penelitian menghabiskan waktu 3,5 hari di dalam laboratorium tanpa melihat cahaya luar ataupun jam. Mereka diminta untuk tidur dan bangun sesuai jadwal rutin mereka.

Mengutip Health, peneliti Swiss yang mengumpulkan data dari 33 orang dan membandingkannya dengan data dari 33 orang dan membandingkannya dengan pola tidur saat supermoon.

Mereka menemukan bahwa empat hari sebelum dan sesudah bulan penuh, peserta mengalami penurunan tidur lelap sampai 30 persen. Penelitian juga menemukan bahwa peserta memiliki hormon melatonin yang rendah.

Mengutip Coach, hal ini juga disebabkan oleh adanya hipotesis gravitasi. Tubuh manusia terdiri dari 55-60 persen air. Sama seperti lautan, bulan juga memengaruhi tubuh manusia.


"Efek maksimum pada pasang surut laut adalah peningkatan gelombang sampai 10 cm, sehingga efeknya pada manusia semakin kecil. Manusia tidak sebesar planet ini sehingga efeknya cenderung tak diperhatikan," kata Profesor Alan Duffy, astronom Universitas Swinburne.

Duffy mengungkapkan bahwa tarikan gravitasi bulan purnama mirip dengan bulan baru tak dirasakan dan dilihat.

ilustrasi supermoonFoto: REUTERS/Darrin Zammit Lupi
ilustrasi supermoon

Selain soal teori tentang gravitasi, penyebab seseorang susah tidur saat supermoon adalah soal teori cahaya.

Teori soal cahaya ini dianggap lebih masuk akal karena cahaya memang terbukti bisa memengaruhi durasi dan kualitas tidur seseorang. Kualitas dan durasi tidur yang buruk bisa menyebabkan suasana hati buruk dan perilaku yang tak menentu.

Hanya saja, Duffy mengungkapkan bahwa ada kemungkinan cahaya bulan juga akan berkurang pengaruhnya dewasa ini. Pasalnya, lngkungan sekitar, khususnya yang tinggal di kota besar kini sudah diwarnai dengan polusi cahaya dari lampu jalan yang bersinar dan cahaya biru yang dipancarkan oleh ponsel dan komputer.

"Kita bisa jadi kurang tidur ketika lampu latar lebih terang."

"Sebenarnya ada yang lebih mengganggu tidur dibanding sinar bulan, yaitu sinar biru dari ponsel Anda. Anda mungkin akan mengalami tidur malam yang buruk karena memakai ponsel untuk mengecek supermoon, dibanding kurang tidur gara-gara pengaruh sinar bulan." (chs/chs)