Anna Wintour Kritik Sikap Diskriminatif LGBT Margaret Court

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 20:57 WIB
Anna Wintour Kritik Sikap Diskriminatif LGBT Margaret Court Anna Wintour (REUTERS/Suzanne Plunkett)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin redaksi Vogue, Anna Wintour, melontarkan kritikan pedas dalam gelaran Australian Open. Kritikan itu diberikannya untuk Margaret Court, seorang legenda tenis yang namanya disematkan dalam sebuah stadium, atas pandangan diskriminatifnya terhadap kaum LGBT.

Dalam kritikan itu, Wintour meminta Margaret Court Arena--lokasi digelarnya Australian Open--untuk berganti nama. Dia menilai, nama Margaret Court tak cocok jika dijadikan nama sebuah stadium, tempat berkumpulnya orang dengan berbagai latar belakang.

"Nama Margaret Court rasanya tak pas untuk dijadikan nama sebuah stadium di mana banyak orang dari berbagai latar belakang berkumpul di sana," ujar Wintour dalam Australian Open's Inspirational Serius di Melbourne, Australia, Kamis (24/1), melansir CNN.


Margaret Court Arena merupakan lokasi diselenggarakannya Australia Open. Sejak 2003 silam, nama itu disematkan pada stadium dalam rangka menghormati sang legenda sebagai salah satu petenis Australia tersukses yang pernah ada.

Kini, Court menjadi seorang pendeta di Australia Barat. Dia mendapatkan banyak kritik atas pandangan diskriminatifnya tentang LGBT.

Pada Mei 2017, Court pernah berencana bakal memboikot Qantas Airlines atas keputusannya mendukung pernikahan sesama jenis. Tak lama kemudian, Court juga mengklaim bahwa dunia olahraga tenis dipenuhi oleh kaum lesbian.

"Intoleransi tidak punya tempat dalam dunia olahraga, khususnya tenis," ujar Wintour.

Wintour mengakui kehebatan Court di lapangan tenis. Namun, dia sangat menolak sikap Court yang tidak bisa menghargai pilihan orang yang berbeda dengannya.

Tak hanya itu, Wintour juga mengkritik Perdana Mentri Australia Scott Morrison yang sempat mengusulkan kebijakan kontroversial. Kebijakan itu memungkinkan instansi pendidikan agama untuk menghukum siswa LGBT.

"Saya terkejut dengan perdana menteri Anda [Australia] tentang hak-hak LGBT yang tampaknya terbelakang," ujar dia. (asr/asr)