Tak Cuma Kejelasan, Konservasi Pulau Komodo Perlu Ketegasan

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 15:15 WIB
Tak Cuma Kejelasan, Konservasi Pulau Komodo Perlu Ketegasan Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana penutupan Pulau Komodo akan ditentukan pada Agustus mendatang. Jika tim terpadu memberikan rekomendasi penutupan, maka Kementerian Lingkungan Hidup akan meresmikan penutupan mulai Januari 2020 hingga setahun ke depannya.

Di antara banyak pro dan kontra mengenai rencana penutupan Pulau Komodo, pemilik grup hotel dan restoran Plataran Group, Yozua Makes, justru mendukung rencana tersebut, asal dengan dasar konservasi.

Seperti yang diketahui sebelumnya, ia memiliki cabang hotel di dekat Taman Nasional Komodo, yakni Plataran Labuan Bajo.


Yozua merasa penutupan dengan tujuan konservasi bukannya mengancam bisnis wisata, melainkan bakal meningkatkan kualitas bisnisnya.

"Selama ini yang saya lihat Taman Nasional Komodo memang harus diatur kembali, agar tak menimbulkan masalah yang memengaruhi ekosistem, contohnya tumpukan sampah akibat kedatangan turis. Saya yakin Pak Gubernur (Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat-red) ingin menyeimbangkan perlindungan alam dan masyarakat di sana," kata Yozua kepada CNNIndonesia.com pada Sabtu (1/2).

"Saya pikir pengaturan ulang akan memberi pengaruh baik terhadap mata pencaharian masyarakat dan pengusaha di sekitarnya," lanjutnya.

Menjumpai komodo di habitat aslinya juga merupakan salah satu kegiatan wisata yang ditawarkan oleh Plataran Labuan Bajo, hotel yang bertarif mulai dari Rp3,9 juta per malam itu.

Jika Pulau Komodo yang selama ini menjadi magnet kedatangan tamu di hotelnya ditutup, Yozua mengaku tidak resah karena ia merasa masih banyak destinasi wisata lain yang tak kalah menarik di Taman Nasional Komodo.

"Dari Labuan Bajo, Pulau Komodo itu berjarak tiga jam pelayaran kapal, cukup jauh. Sebenarnya jika ingin melihat kawanan komodo turis bisa mendatangi Pulau Rinca yang lebih dekat," ujar Yozua.

"Tapi saya berharap jika benar ada penutupan di Pulau Komodo, saya minta benar dijaga, tidak sembarang orang boleh masuk sehingga kawasan tersebut menjadi eksklusif," lanjutnya.

Bukan cuma di Labuan Bajo, sejumlah properti Plataran Group juga berada di sekitar kawasan yang dekat dengan keberadaan taman nasional dan objek wisata bersejarah, seperti Plataran Bromo, Plataran Menjangan dan Plataran Borobudur.

Yozua mengakui kalau membangun properti yang berbatasan dengan taman nasional dan objek wisata bersejarah memang menjadi fokus perusahaannya.

Ia ingin hotelnya mengusung konsep Indonesia yang bukan cuma sekadar dekorasi, namun juga memiliki kedekatan yang sesungguhnya.

Tapi mewujudkan konsep yang demikian bukan perkara mudah seperti yang diakui oleh pria yang juga berkarier sebagai pengacara ini.

"Bisa dikatakan eksotisme menjadi nilai dari properti-properti saya. Di antara semua properti, Plataran Menjangan mungkin yang terbilang penuh tantangan karena berada dalam Taman Nasional Bali Barat. Membangunnya perlu izin khusus dari pemerintah berupa konsesi yang dikontrak selama 20-30 tahun," ujar Yozua.

"Pembangunan Plataran Menjangan terbilang penuh tantangan, karena kami dibolehkan membuka area komersil tanpa merusak hutannya. Di sana dulu sepi pengunjung sekarang ramai, dari situ saya semakin percaya bahwa bisnis wisata bisa tetap bersanding dengan alam," lanjutnya.

(agr/ard)


BACA JUGA